Tegal (24/2). Pemerintah Kabupaten Tegal menggelar istighosah dan doa bersama yang dirangkaikan dengan refleksi satu tahun kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Tegal. Kegiatan terebut berlangsung di Pendopo Amangkurat, Tegal, Jawa Tengah pada Jumat malam, (20/2/2026).
Istighosah itu menghadirkan jajaran Forkopimda, tokoh agama, serta pimpinan organisasi kemasyarakatan. Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman menyampaikan refleksi kinerja selama satu tahun masa jabatan. Ia mengajak seluruh elemen daerah menggunakan momentum tersebut untuk melakukan evaluasi dan memperkuat arah pembangunan menuju visi “Tegal Maju dan Tangguh”.
“Tayangan refleksi yang telah kita saksikan bukan sekadar dokumentasi kegiatan, melainkan gambaran kerja kolektif seluruh elemen daerah dalam menjalankan pembangunan. Maju dalam kesejahteraan dan daya saing masyarakat, serta tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan,” ujar Ischak.
Ia memaparkan sejumlah program prioritas yang telah berjalan, mulai dari penguatan kualitas sumber daya manusia, pembangunan ekonomi yang adil dan mandiri, peningkatan ketahanan lingkungan, pembangunan infrastruktur, penguatan tata kelola pemerintahan, hingga ketahanan sosial budaya masyarakat.
Ischak juga menekankan pentingnya kolaborasi dalam menjalankan roda pemerintahan selama lima tahun masa jabatan, “Lima tahun adalah waktu yang singkat. Karena itu, kita harus bekerja cepat, bekerja tepat, dan bekerja bersama. Tanpa dukungan Forkopimda, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, dan seluruh masyarakat, capaian ini tidak mungkin terwujud,” kata dia.
Dalam kegiatan tersebut, Ketua DPD LDII Kabupaten Tegal, Wijianto Sekretaris Setyardi turut hadir dalam undangan ini. Wijianto menyampaikan pandangannya mengenai doa bersama yang digelar pemerintah daerah. Ia menilai kegiatan itu mempererat silaturahmi antarunsur masyarakat sekaligus memperkuat hubungan sosial.
“Kami hadir sebagai wujud dukungan terhadap upaya pemerintah dalam menciptakan suasana daerah yang kondusif. Melalui istighosah ini, kita mengetuk pintu langit agar ikhtiar lahiriah yang kita lakukan sehari-hari selalu disertai dengan keberkahan,” ujar Wijianto.
Wijianto menambahkan, kegiatan istighotsah yang dirangkaikan dengan refleksi satu tahun kepemimpinan daerah memberi ruang bagi masyarakat untuk melihat arah pembangunan secara terbuka. Ia menilai forum tersebut mempertemukan unsur pemerintah, tokoh agama, dan organisasi kemasyarakatan dalam satu suasana kebersamaan.
Menurut dia, pembangunan tidak hanya diukur dari capaian fisik dan angka statistik, tetapi juga dari penguatan moralitas aparatur dan warga. Ia memandang doa bersama menjadi pengingat agar setiap kebijakan dan program yang dijalankan tetap berpijak pada nilai keagamaan serta kepentingan masyarakat luas.

