Oleh Thonang Effendi*
Setiap Ramadan tiba, kembali digaungkan seruan tentang Lima Sukses Ramadan. Nasihat itu hadir dalam pengajian, terpampang di baliho dan spanduk, beredar dalam flyer, meme, dan pesan singkat di media sosial.
Lima Sukses Ramadan yakni, sukses puasa, salat Tarawih, tadarus Al Quran, Lailatul Qadar, dan zakat fitrah, menjadi tolok ukur kesungguhan ibadah seorang Muslim di bulan suci. Ia bukan sekadar slogan tahunan, melainkan cita-cita spiritual yang ingin diraih oleh setiap pribadi.
Seruan itu ditujukan kepada seluruh lapisan usia. Dari santri cabe rawit usia sekolah dasar, praremaja sekolah menengah pertama, remaja sekolah menengah atas, usia mandiri, hingga pribadi dewasa semua diajak berpacu dengan waktu. Setiap orang didorong mengondisikan diri sesuai potensi dan kekuatannya masing-masing untuk meraih Lima Sukses Ramadan. Namun, khusus bagi para santri, proses meraih kesuksesan itu tidak berjalan sendiri.
Di pesantren dan majelis taklim, pembinaan ibadah berlangsung dalam sistem yang terstruktur. Di dalamnya terdapat fungsi kepamongan sebuah peran pendampingan, pengasuhan, dan pengayoman yang dijalankan oleh pengurus pesantren, pengurus majelis taklim, serta para muballigh dan muballighot. Kepamongan bukan sekadar pengaturan teknis kegiatan, tetapi proses membersamai santri dalam perjalanan spiritualnya menuju terbentuknya insan profesional religius.
Gambaran itu terlihat dalam keseharian Ramadan di pesantren. Hawa dingin pagi dan rintik hujan tidak menghalangi pengurus menyambangi kamar-kamar santri. “Assalamualaikum, mari segera bangun, persiapan…,” suara itu terdengar lembut namun tegas. Santri pun bergegas bangun untuk shalat malam, doa, dan sahur. Selepas Subuh, mereka melanjutkan tadarus Al-Qur’an bersama. Aktivitas tersebut bukan insiden sesaat, melainkan ritme yang terjaga. Ada keteraturan, ada disiplin, ada kebersamaan—sebuah harmoniyang membentuk kebiasaan baik.
Di majelis taklim, pola pembinaan memiliki dinamika berbeda. Santri tinggal bersama orang tua, sehingga peran keluarga sangat dominan dalam keseharian. Namun kepamongan tetap hadir melalui pengawasan, laporan harian ibadah, dan dialog personal. Pengurus memastikan setiap santri tetap berada dalam koridor pembinaan dan terdorong untuk meraih Lima Sukses Ramadan secara optimal.
Peran kepamongan tidak berhenti pada ajakan dan pengawasan. Keteladanan menjadi kunci utama. Pengurus pesantren maupun majelis taklim tidak hanya menyerukanLima Sukses Ramadan, tetapi juga mempersungguh diri dalam meraihnya. Mereka memberi contoh nyata dalam disiplin ibadah, kesungguhan tadarus, dan kehadiran dalam setiap rangkaian kegiatan. Dari keteladanan itulah santri belajar bahwa kesuksesan ibadah bukan sekadar teori, melainkan praktik yang dijalani bersama.
Di balik ritme ibadah Ramadan santri, sesungguhnya sedang berlangsung proses pembentukan karakter luhur yang terstruktur dan berkesinambungan. Fungsi kepamongan—mendampingi, mengasuh, dan mengayomi—bukan sekadar memastikan santri bangun sahur, hadir tarawih, atau menyelesaikan tadarus. Lebih dari itu, kepamongan menjadi instrumen pembinaan 29 karakter luhur yang menjadi fondasi generasi profesional religius. Dalam konteks Ramadan, pembinaan itu terfokus pada penguatan Tri Sukses Generus, khususnya Alim–Fakih dan ketekunan beribadah. Santri tidak hanya diarahkan menjalankan ibadah secara rutin, tetapi dibimbing agar memahami ilmunya, merasakan maknanya, serta membiasakan diri melaksanakannya dengan disiplin dan istiqamah.
Dari pembiasaan itulah lahir karakter tanggung jawab, kesungguhan, kedisiplinan, dan komitmen spiritual sebagai bekal utama meraih Lima Sukses Ramadan. Dengan demikian, Lima Sukses Ramadan bukan sekadar capaian ritual tahunan, melainkan momentum strategis menanamkan karakter luhur yang akan tumbuh dan berbuah dalam sebelas bulan berikutnya.
Di tengah dunia yang bergerak cepat—arus informasi yang tak terbendung, distraksi hiburan, tuntutan akademik dan ekonomi—mengatur ritme waktu dan fokus ibadah menjadi tantangan tersendiri. Di sinilah kolaborasi antara kepamongan, santri, orang tua, dan keluarga menjadi penting. Semua perlu saling mengingatkan dan saling menguatkan. Karena pada akhirnya, Lima Sukses Ramadan adalah kesuksesan pribadi di hadapan Sang Pencipta, yang diraih melalui kesungguhan dan kebersamaan.
Sukses bersama selalu dimulai dari kesungguhan diri sendiri. Kesuksesan lahir dari niat tulus karena Allah dan komitmenuntuk mewujudkannya secara konsisten. Di balik keberhasilan seorang santri meraih Lima Sukses Ramadan, ada peran kepamongan yang setia mendampingi, mengasuh, dan mengayomi. Dari proses itulah lahir generasi yang tidak hanya sukses di bulan Ramadan, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi alim, tekun beribadah, dan berkarakter luhur dalam kehidupan sepanjang tahun.
Ramadan akan berlalu, tetapi karakter yang ditanamkan akan menetap sepanjang hayat. Sudahkah kita siap mengambil peran dan berkomitmen membersamai mereka meraih Lima Sukses Ramadan?
*) Thonang Effendi, Ketua Departemen Pendidikan Umum dan Pelatihan DPP LDII













