Jakarta (1/3). Puasa Ramadan secara medis dapat meningkatkan kesehatan. Hal tersebut kembali diungkap dr. Muhamad Rizqy Fadhillah, M.Biomed, AIFO-K, dalam Talkshow Kajian Ilmu (Takjil) yang ditayangkan LDII TV, pada Sabtu (28/2). Takjil mengangkat tema “Ramadan: Detoks atau Toksik?”, membahas proses adaptasi tubuh selama puasa dan risiko kesehatan yang perlu diwaspadai.
Rizqy menjelaskan bahwa saat berpuasa tubuh akan melakukan peralihan sumber energi. “Pada 12–13 jam pertama, tubuh masih menggunakan cadangan gula yang disebut glikogen. Setelah itu, tubuh akan beralih ke pembakaran lemak,” ujarnya.
Ia menerangkan, glikogen merupakan kumpulan glukosa yang tersimpan di otot dan hati. Cadangan ini akan habis secara bertahap, sebelum akhirnya tubuh masuk ke fase lipolisis atau pembakaran lemak. Selain itu, puasa juga memicu proses autofagi.
“Autofagi adalah mekanisme sel saat kondisi lapar, di mana organ-organ sel yang rusak akan didaur ulang untuk diambil energinya. Ini seperti proses peremajaan diri,” jelasnya. Menurutnya, temuan autofagi menjadi dasar banyak riset regenerasi sel dan anti-penuaan.
Namun demikian, Rizqy menekankan bahwa manfaat puasa sangat bergantung pada pola berbuka. “Secara logika, puasa itu defisit kalori. Tapi yang sering jadi masalah adalah cara berbukanya, terutama konsumsi gula berlebihan,” ungkapnya.
Ia mengingatkan bahwa lonjakan gula darah yang terjadi berulang dapat membebani pankreas. “Kalau insulin terus naik secara konsisten selama Ramadan, lama-lama pankreas bisa kelelahan dan terjadi resistensi insulin,” katanya. Kondisi ini, lanjutnya, dapat menjadi salah satu faktor risiko pra-diabetes.
Rizqy menambahkan bahwa konsumsi gula harian ideal berkisar 25–30 gram, khususnya bagi pekerja kantoran dengan aktivitas fisik rendah. “Kalau energinya tidak banyak keluar, angka itu sudah menjadi batas aman,” tegasnya.
Terkait keluhan pencernaan, ia menjelaskan bahwa lambung saat puasa berada dalam kondisi mengecil. “Ketika tiba-tiba diisi makanan dalam volume besar, lambung dipaksa meregang cepat, asam lambung meningkat, sementara pergerakannya belum siap. Ini yang sering memicu maag dan begah,” jelasnya.
Sebagai solusi, ia menyarankan pola berbuka bertahap. “Batalkan puasa dengan air putih terlebih dahulu, lalu 1–3 butir kurma. Setelah itu beri jeda sekitar 10–15 menit sebelum makan utama,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Rizqy juga menekankan pentingnya skrining kesehatan. “Pemeriksaan gula darah, tekanan darah, dan tes urin sederhana bisa menjadi langkah awal deteksi dini diabetes dan gangguan ginjal,” katanya.
Ia turut mengingatkan tanda awal gangguan ginjal yang sering diabaikan. “Kalau frekuensi buang air kecil bertambah padahal minum tidak banyak, atau urin berbusa, itu perlu diwaspadai,” imbuhnya.
Menutup pemaparannya, Rizqy mengajak warga memanfaatkan program cek kesehatan gratis yang diselenggarakan LDII. “Deteksi dini jauh lebih baik daripada menunggu kondisi sudah terlambat,” pungkasnya. (Nisa)
Lihat juga:













