Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan.
Semua mengenal Fir’aun. Gelar turun-temurun raja di daratan Mesir Kuno. Ia adalah masternya. Fir’aun bukan sekadar raja zalim. Ia adalah simbol kesombongan manusia tertinggi, hingga berani berkata:
أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىٰ
“Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” (QS. An-Nazi’at: 24)
Padahal dia makan, minum, buang air. Dilahirkan dari bapak dan ibu. Bertumbuh layaknya manusia lainnya. Dia butuh pendamping. Butuh-butuh yang lain layaknya manusia. Kesombongan telah memakannya.
Nama Fir‘aun disebut lebih dari 70 kali dalam Al-Qur’an, tersebar di banyak surat seperti: Al-Baqarah, Al-A‘raf, Yunus, Thaha dan Al-Qashash. Allah tidak sekadar menceritakan sejarah, tetapi membangun kesadaran: bahwa “Fir‘aun” bisa muncul di mana saja. Ia ingin disembah. Yang tidak mau menyembah di penjara. Ia menindas Musa dan kaumnya, membunuh anak-anak laki-laki, dan membiarkan wanita hidup dalam kehinaan. Kekuasaan membuatnya buta, dan kezaliman terasa seperti kebenaran di matanya. Padahal Nabi Musa sudah mengingatkan, sebagaimana dialog indah berikut ini (QS As-Syuara: 23 – 29). Fir’aun membuka dengan nada meremehkan, seolah-olah tidak mengenal Tuhan:
قَالَ فِرْعَوْنُ وَمَا رَبُّ الْعَالَمِينَ
“Fir’aun berkata: ‘Apakah Rabb semesta alam itu?’” (26:23)
Jawaban Musa langsung menancap pada fitrah:
قَالَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۖ إِن كُنتُم مُّوقِنِينَ
“Dia adalah Rabb langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, jika kamu meyakini.” (26:24)
Fir’aun tidak menjawab substansi. Ia beralih mengejek di hadapan kaumnya:
قَالَ لِمَنْ حَوْلَهُ أَلَا تَسْتَمِعُونَ
“(Fir’aun) berkata kepada orang-orang di sekitarnya: ‘Tidakkah kalian mendengar?’” (26:25)
Namun Musa melanjutkan dengan hujjah yang lebih hebat:
قَالَ رَبُّكُمْ وَرَبُّ آبَائِكُمُ الْأَوَّلِينَ
“(Dia) Rabb kalian dan Rabb nenek moyang kalian dahulu.” (26:26)
Di sinilah makna yang disebutkan tersirat sangat kuat: jika Fir’aun adalah tuhan, maka bagaimana dengan generasi sebelum dia? Musa tidak menyebutnya secara frontal, tetapi hujjahnya memukul telak: Tuhan itu bukan baru muncul sekarang—Dia adalah Rabb sejak dahulu.
Fir’aun semakin kehilangan kendali, lalu menyerang pribadi Musa:
قَالَ إِنَّ رَسُولَكُمُ الَّذِي أُرْسِلَ إِلَيْكُمْ لَمَجْنُونٌ
“Sesungguhnya rasul kalian yang diutus kepada kalian ini benar-benar orang gila.” (26:27)
Namun Musa tetap tenang, dan memperluas hujjahnya:
قَالَ رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۖ إِن كُنتُمْ تَعْقِلُونَ
“(Dia) Rabb timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya, jika kalian berakal.” (26:28)
Ketika hujjah tak bisa dibantah, Fir’aun kembali ke watak aslinya: kekuasaan dan ancaman:
قَالَ لَئِنِ اتَّخَذْتَ إِلَٰهًا غَيْرِي لَأَجْعَلَنَّكَ مِنَ الْمَسْجُونِينَ
“Sungguh jika engkau mengambil tuhan selain aku, pasti aku akan menjadikanmu termasuk orang yang dipenjara.” (26:29)
Namun lihatlah bagaimana Allah membalik keadaan. Ketika ia mengejar Nabi Musa hingga ke laut, lalu Allah membelah lautan untuk menyelamatkan kaum beriman, Fir’aun tetap keras kepala—hingga akhirnya ia tenggelam. Dan di detik-detik terakhir hidupnya, ketika kematian sudah di depan mata, barulah kesadaran itu datang:
آمَنتُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Aku beriman bahwa tidak ada Tuhan selain Tuhan yang diimani oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS. Yunus: 90)
Tetapi pengakuan itu datang terlambat. Tiada guna. Allah berfirman:
آلْآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ
“Sekarang (baru beriman)? Padahal sebelumnya kamu telah durhaka dan termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Yunus: 91)
Bahkan jasadnya dijadikan pelajaran:
فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً
“Hari ini Kami selamatkan jasadmu agar engkau menjadi pelajaran bagi orang-orang setelahmu.” (QS. Yunus: 92)
Kisah ini bukan sekadar tentang seorang raja zalim di masa lalu. Ia adalah cermin bagi setiap jiwa. Kezaliman tidak selalu berbentuk kekuasaan besar. Kadang ia hadir dalam bentuk kecil: merasa selalu benar, enggan meminta maaf, menyakiti orang tanpa rasa bersalah, atau menunda taubat dengan harapan “nanti saja.”
Fir’aun adalah gambaran ekstrem dari sesuatu yang sebenarnya ada dalam setiap diri: potensi untuk menolak kebenaran karena ego. Ibn al-Qayyim berkata: “Fir‘aun tenggelam bukan karena laut semata, tetapi karena kesombongan yang memenuhi hatinya.” Dan Al-Hasan al-Basri menasihati: “ Tidaklah seseorang merasa aman dari sifat Fir‘aun kecuali ia sedang mendekatinya.”
Fir’aun akhirnya mengakui kebenaran. Tetapi pengakuan itu tidak lagi bernilai, karena datang saat pintu telah tertutup. Berbeda dengan para nabi—Adam, Musa, dan Yunus—yang mengakui “kezaliman diri” sebelum terlambat, sehingga Allah membukakan pintu rahmat.
Maka wahai jiwa, jangan tunggu sampai “tenggelam” baru mengakui. Jangan menunggu sempit baru kembali. Karena satu kalimat yang diucapkan hari ini dengan jujur: “Ya Allah, aku telah menzalimi diriku…” lebih berharga daripada seribu penyesalan yang datang saat semuanya telah berakhir.


AJKH MAs Kus
Yuk, Memperbanyak istighfar, sholat taubat