Jakarta (14/4). Munas X LDII juga menggelar GenFest menghadirkan founder Juragan Cilik Group, yang membagikan pengalaman dan strategi membangun bisnis dari nol.
Dalam talkshow inspiratif bertajuk “Dari Nol Jadi Level Up” pada Kamis (9/4), di Padepokan Persinas ASAD Minhaajurrosyidin, Jakarta, Andy Nur Rohman mengisahkan awal merintis usaha yang dibangunnya sejak 2011 itu.
Saat itu ia berhasil lulus sebagai santri dan bertugas pengabdian mengajar di beberapa Taman Pendidikan Al Quran (TPQ) Kota Batu, Jawa Timur. Pengalaman tersebut menjadi titik awal ia mengolah ide dan belajar membaca peluang usaha, hingga akhirnya pada 2014 mulai berjualan secara asongan dari hotel ke hotel yang banyak dikunjungi wisatawan.
“Awal menjadi pengusaha harus pintar membaca peluang. Saya tidak mencari usaha berdasarkan *passion*, tetapi berdasarkan peluang yang ada,” ujar Andy.
Ia masih ingat, produk pertama yang dijual adalah bantal leher, lalu berkembang ke aksesori kamera telepon genggam seperti tongkat selfie. Berlanjut, usahanya terus berkembang hingga memiliki outlet di sejumlah lokasi wisata, seperti Museum Angkut dan kawasan paralayang di Kota Batu.
Dalam perjalanan bisnisnya, Andy menekankan pentingnya riset pada awal usaha agar pemilihan bisnis yang menjanjikan dan semakin tajam. Ia juga mengakui membuka dan menutup outlet merupakan hal yang biasa dalam proses bisnis, “Oleh karena itu, diperlukan analisis mendalam, termasuk melalui tim riset dan pengembangan (R&D) untuk menilai potensi keberlanjutan suatu produk,” kata diam
Dalam mengelola bisnisnya, Andy mengadopsi sistem manajemen terstruktur. Ia menerapkan pembagian tugas mulai dari supervisor, manajer area, hingga general manager. Saat ini, terdapat sekitar 80 orang dalam jajaran manajemen yang mengelola berbagai lini, mulai dari operasional, keuangan, hingga sumber daya manusia.
Selain teknis, Andy juga menyoroti pentingnya personal branding dalam bisnis. Ia juga sempat dikenal luas melalui usaha kuliner Bakso Kaliurang yang berhasil mempekerjakan ratusan karyawan. Hal itu menurutnya dari perkembangan media sosial yang mendorong pelaku usaha untuk aktif membangun citra diri, “Sekarang zamannya founder marketing, di mana pemilik bisnis turut menjadi wajah dari brand yang dibangun,” jelasnya.
Dari sisi pendanaan, Andy mengungkapkan bahwa ia memulai usaha dengan modal terbatas, yakni Rp800.000 dari hasil bekerja sebelumnya. Modal tersebut dikelola kembali untuk mengembangkan usaha dan membuka cabang baru, “Kami menggunakan sistem menggulung modal. Keuntungan yang didapat dimasukkan kembali menjadi modal, sehingga usaha bisa terus berkembang,” ujarnya.
Ia juga menyarankan penggunaan sistem sewa bulanan untuk menekan biaya awal, serta pentingnya melakukan riset pasar agar pengeluaran lebih efisien. Mengakhiri ceritanya, Andy berpesan kepada generasi muda yang ingin memulai usaha untuk membangun pola pikir wirausaha terlebih dahulu. “Kalau ingin mulai bisnis, bangun dulu mindset-nya, lalu segera lakukan aksi. Jiwa entrepreneur itu dilatih, bukan muncul dengan sendirinya,” pungkasnya.
Selain itu, Generus Festival (GenFest) yang digelar pada 7-9 April 2026 itu juga didukung oleh BMT Rukun Abadi, SWINS (Institut Bisnis Komunikasi dan Swadaya), BSM Multimedia, Anom Studio, Azka Anggun Art, Nuansa, Impresif, dan spesial kolaborasi bersama Kahf. GenFest mengundang para pebisnis, pegiat UMKM, dan warga sekitar. (inggri)

