Manokwari (18/5). Semangat persatuan dan perjuangan melawan penindasan menjadi pesan utama dalam peringatan Hari Pahlawan Nasional (HPN) ke-209, Kapitan Pattimura. Kegiatan tersebut digelar Ikatan Keluarga Maluku di Tanah Papua di RTP Borarsi, Manokwari, Jumat (15/5/2026).
LDII Papua Barat menghadiri kegiatan tersebut, sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan kebangsaan dan persaudaraan lintas suku di Papua Barat. Peringatan yang mengusung tema “Pattimura Penggel Katong, Pela Gandong Bikin Menang” itu menjadi momentum mengenang perjuangan Kapitan Pattimura atau Thomas Matulessy, dalam melawan penjajahan Belanda pada 1817.
Semangat perjuangannya dinilai tetap relevan dalam menjaga persatuan bangsa, di tengah berbagai tantangan sosial dan ekonomi saat ini. Ketua Panitia Pelaksana HPN Pattimura ke-209 Papua Barat, Johani Brian Makatita, menyampaikan apresiasi atas kehadiran berbagai elemen masyarakat, termasuk LDII Papua Barat, dalam kegiatan tersebut.
“Kami mengucapkan banyak terima kasih atas kehadiran pengurus LDII. Hal ini menunjukkan komitmen untuk membangun bangsa bersama seluruh komponen masyarakat secara bersama-sama,” ujarnya.
Sementara itu, Bupati Manokwari, Hermus Indou, mengajak masyarakat untuk terus menjaga semangat persaudaraan dan persatuan, sebagaimana diwariskan para pejuang Maluku. “Mari terus warisi semangat ini untuk menjaga persatuan dan kesatuan di antara sesama anak-anak Maluku maupun dengan anak-anak dari suku lain,” pesannya.
Kehadiran pengurus LDII Papua Barat diwakili Sekretaris LDII Papua Barat, Agus Irawan dan Ketua LDII Manokwari, Soleman Paputungan. Kehadiran mereka dinilai sebagai bentuk dukungan terhadap upaya mempererat kebersamaan antarwarga di Tanah Papua.
Agus Irawan mengatakan perjuangan Kapitan Pattimura menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk terus menjaga semangat perjuangan dan persatuan bangsa.
“Semangat perjuangan Kapitan Pattimura tidak boleh padam. Nilai perjuangannya mengajarkan kita untuk terus memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa di tengah berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut juga disampaikan kembali sejarah perjuangan Pattimura dan Martha Christina Tiahahu yang dikenal gigih melawan kolonialisme Belanda demi mempertahankan hak dan martabat rakyat Maluku.
Sejarah mencatat, Pattimura disebut pahlawan nasional karena keberaniannya memimpin rakyat Maluku melawan penjajahan Belanda (VOC) pada tahun 1817. Ia berhasil menyatukan kekuatan rakyat, merebut Benteng Duurstede, dan dengan gigih menolak monopoli perdagangan serta kekejaman Belanda.
Perang Pattimura (1817) disebabkan oleh penindasan pemerintah kolonial Belanda, terutama kebijakan ekonomi yang sangat memberatkan rakyat Maluku. Faktor utamanya meliputi monopoli perdagangan rempah, kerja paksa (rodi), kewajiban menyerahkan hasil bumi, pelayaran Hongi, dan peredaran uang kertas yang menyengsarakan.
Kapitan Pattimura meninggal dunia di depan Benteng Nieuw Victoria, Ambon, Maluku, pada tanggal 16 Desember 1817. Ia dieksekusi gantung oleh Belanda pada usia 34 tahun setelah tertangkap, dan jasadnya dipertontonkan sebelum akhirnya hilang, menjadikan makamnya tidak ditemukan hingga saat ini.
Perjuangannya dilanjutkan oleh Martha Christina Tiahahu (1800–1818) yang juga adalah pahlawan nasional wanita termuda dari Maluku yang gigih memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda pada usia 17 tahun.
Ia berjuang melawan tirani kekuasaan, monopoli ekonomi Belanda, dan mempertahankan harga diri rakyat Maluku dalam Perang Pattimura (1817).












