Oleh Ketua Dewan Penasehat DPP LDII KH Edy Suparto
Bulan Muharam merupakan salah satu bulan istimewa dalam kalender Hijriah yang memiliki banyak keutamaan bagi umat Islam. Sebagai bulan pertama dalam penanggalan Islam, Muharam menjadi momentum penting untuk membuka lembaran baru kehidupan dengan semangat hijrah menuju pribadi yang lebih baik, lebih bertakwa, dan lebih peduli terhadap sesama.
Dalam ajaran Islam, Muharam termasuk salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan Allah SWT. Pada bulan ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal ibadah, memperkuat hubungan spiritual dengan Allah, serta menjaga diri dari berbagai perbuatan yang dapat mengurangi nilai ketakwaan. Keistimewaan Muharam juga ditegaskan melalui berbagai hadis Rasulullah SAW yang menganjurkan umat Islam untuk meningkatkan ibadah puasa sunnah, khususnya puasa Asyura pada tanggal 10 Muharam.
Sejarah Puasa Asyura
Puasa Asyura pada 9 dan 10 Muharram diperkirakan jatuh pada 24 dan 25 Juni 2026. Umat Islam diserukan menjalankan puasa Asyura berdasarkan hadits yang diriwayatkan istri Rasulullah SAW, Aisyah RA. Dari ’Aisyah Radhiyallahu ’anha, beliau bersabda,
كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِى الْجَاهِلِيَّةِ ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَصُومُهُ ، فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ
Orang-orang Quraisy biasa berpuasa pada hari asyura di masa jahiliyyah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melakukannya pada masa jahiliyyah. Tatkala beliau sampai di Madinah beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan- umatnya untuk berpuasa. [HR.Bukhari]
قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ فَرَأَى الْيَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ مَا هَذَا قَالُوا هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللَّه بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا قَالَ فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ نَحْنُ نَصُوْمُهُ تَعْظِيْمًا لَهُ
“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, kemudian beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau bertanya : ”Apa ini?” Mereka menjawab: ”Sebuah hari yang baik, ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan bani Israil dari musuh mereka, maka Musa berpuasa pada hari itu sebagai wujud syukur kepada Allah. Maka beliau Rasulullah menjawab :”Aku lebih berhak terhadap nabi Musa daripada kalian (Yahudi), maka kami akan berpuasa pada hari itu sebagai bentuk pengagungan kami terhadap hari itu”. [HR.Muslim]
Dua hadits ini menunjukkan bahwa suku Quraisy berpuasa pada hari Asyura di masa jahiliyah, dan sebelum hijrah pun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melakukannya. Kemudian saat Rasulullah tiba di Madinah, beliau menemukan orang-orang Yahudi berpuasa pada hari itu, maka Nabi-pun berpuasa dan mendorong umatnya untuk berpuasa.
Dalam riwayat lain dijelaskan,
عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ قَالَ كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ يَوْمًا تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَتَتَّخِذُهُ عِيدًا فَقَالَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صُومُوهُ أَنْتُمْ
“Abu Musa Radhiyallahu anhu berkata: “Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan mereka menjadikannya sebagai hari raya, maka Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Puasalah kalian pada hari itu.” [HR.Bukhari]
Puasa Asyura berhubungan erat dengan suatu peristiwa yang dialami oleh Nabi Nuh ‘Alaihissalam,
Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah Swt. sebagai berikut:
وَقِيلَ يَا أَرْضُ ابْلَعِي مَاءَكِ وَيَا سَمَاءُ أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَاءُ وَقُضِيَ الْأَمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ وَقِيلَ بُعْدًا لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
Artinya:
Dan difirmankan, “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,” dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Juddi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim.” (Q.S Hud:44)
Peristiwa berlabuhnya kapal Nabi Nuh di atas bukit Juddi terjadi pada hari Asyura sebagaimana dijelaskan dalam hadis berikut ini:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ، قَالَ: مَرَّ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم بِأُنَاسٍ مِنَ الْيَهُودِ قَدْ صَامُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَقَالَ: …وَهَذَا يَوْمُ اسْتَوَتْ فِيهِ السَّفِينَةُ عَلَى الْجُودِىِّ، فَصَامَهُ نُوحٌ وَمُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ تَعَالَى…
Artinya:
Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Nabi saw. melewati beberapa orang Yahudi, sungguh mereka puasa hari Asyura, mereka berkata, “…Ini adalah hari di mana perahu itu (Nuh) berlabuh di atas bukit Judi, lalu Nuh dan Musa melaksanakan shaum hari itu sebagai rasa syukur kepada Allah…” (HR. Ahmad)
Imam al-Qurtubi berkata:
إِسْتَوَتْ عَلَيْهِ فِي الْعَاشِرِ مِنَ الْمُحَرَّمِ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ فَصَامَهُ نُوْحٌ وَأَمَرَ جَمِيْعَ مَنْ مَعَهُ مِنَ النَّاسِ وَالْوَحْشِ وَالطَّيْرِ وَالدَّوَابِ وَغَيْرِهَا فَصَامُوْهُ شُكْرًا للهِ تعالى
Artinya:
“Perahu itu (Nuh) berlabuh di atasnya pada 10 Muharram, hari Asyura (tgl 10 Asyura). Maka Nabi Nuh melaksanakan puasa (hari itu) dan ia memerintah kepada semua makhluk yang menyertainya: manusia, binatang liar, burung, dan binatang ternak, dan lain-lain, lalu mereka melaksanakan puasa itu sebagai rasa syukur kepada Allah”
Ibnu Hajar berkata:
وَحَاصِلُهَا أَنَّ السَّفِيْنَةَ اسْتَوَتْ عَلَى الْجُوْدِيِّ فِيْهِ فَصَامَهُ نُوْحٌ وَمُوْسَى شُكْرًا
Artinya:
“Dan kesimpulannya bahwa perahu itu (Nuh) berlabuh di atas bukit Juddi pada hari itu (10 Muharram), lalu Nabi Nuh dan Nabi Musa melaksanakan puasa hari itu sebagai rasa syukur kepada Allah”
Berbagai keterangan di atas menunjukkan bahwa bagi Nabi Nuh hari Asyura dianggap istimewa karena pada hari itu Allah menyelamatkan beliau dan kaumnya yang beriman dari banjir besar.
Lalu Nabi Nuh melaksanakan puasa pada hari itu sebagai rasa syukur kepada Allah.
Kapal Nabi Nuh berlabuh di Gunung Judi (Mount Judi). Gunung Judi merupakan sebuah gunung yang terletak di wilayah Turki dekat perbatasan dengan Suriah dan Irak. Nabi Nuh AS dan Kaumnya berada dalam kapal selama 150 hari kemudian mereka turun dari kapal pada hari kesepuluh bulan Muharram (10 Muharam).
Maka Nabi Nuh AS melakukan puasa pada hari itu sebagai tanda bersyukur kepada Allah SWT atas keselamatannya dari musibah banjir besar itu. Peristiwa bersejarah pada tanggal 10 Asyura lainnya adalah, Allah SWT juga telah menyelamatkan Nabi Musa AS dari kejaran pasukan Firaun. Sebagai bentuk syukur kepada Allah Swt, Nabi Musa AS berpuasa pada hari tersebut
Keutamaan Puasa Asyura
Anjuran melakukan puasa Asyura berdasarkan hadits, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ
“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah – Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam”. (HR. Muslim).
Abu Qotadah Al Anshoriy berkata,
وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ
“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim).
Dalam perjalanan waktu, Rasulullah berpuasa Asyura pada 9 dan 10 Muharam, agar tidak tasyabbuh dengan orang Yahudi.
صَامَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ .تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan berpuasa.
Para shahabat berkata: ”Ya Rasulullah, sesungguhnya hari itu diagungkan oleh Yahudi.” Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Di tahun depan insya Allah kita akan berpuasa pada tanggal sembilan” , tetapi sebelum datang tahun depan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat.” [HR. Muslim]
Dalam riwayat lain disebutkan:
لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لأَصُومَنَّ التَّاسِعَ
“Jika aku masih hidup pada tahun depan, sungguh aku akan melaksanakan puasa pada hari kesembilan.” [HR. Muslim]
عَنْ عَطَاء أَنَّهُ سَمِعَ ابْنِ عَبَاسٍ يَقُوْلُ: وَخَالِفُوا الْيَهُودَ صُومُوا التَّاسِعَ وَالْعَاشِرَ
“Dari ‘Atha’, dia mendengar Ibnu Abbas, berkata: ”Selisihilah Yahudi, berpuasalah pada tanggal sembilan dan 10.” [HR. Baihaqi]
Penjelasan hadits tersebut, menyelisihi Yahudi dengan menambah puasa Tasu’a pada 9 Muharram (Rabu, 24 juni 2026). Bagi Saudara saudaraku yang mampu atau kuat dan tidak berhalangan atau udzur dianjurkan untuk melakukan puasa dua hari pada 9 dan 10 Muharram
Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan kita diberi kesehatan dan kemampuan untuk melakukan puasa Asyura.














