Sleman (25/7). DPW LDII Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memperkuat dakwah berbasis ekoteologi sebagai bagian dari upaya mendorong pembangunan berkelanjutan. Visi tersebut mengemuka dalam Media Gathering Pramusyawarah Wilayah (Muswil) VIII LDII DIY di Resto Makan di Sawah, Sleman, DIY, pada Sabtu (25/7/2026).
Ketua DPW LDII DIY Atus Syahbudin mengatakan, tantangan bangsa saat ini tidak cukup dijawab dengan mencetak sumber daya manusia (SDM) yang cerdas dan adaptif terhadap teknologi. Generasi muda juga harus memiliki integritas, literasi digital, bijak bermedia sosial, serta kesadaran terhadap keberlanjutan lingkungan.
“Kami ingin mencetak SDM yang profesional religius, yang berketahanan lingkungan, yang sejalan dengan Pancamulia Pemda DIY,” kata Atus.
Menurutnya, perkembangan teknologi harus diimbangi dengan integritas dan literasi digital. Tanpa keduanya, kemajuan teknologi berpotensi menimbulkan dampak negatif. Di sisi lain, perubahan iklim juga membutuhkan perubahan gaya hidup yang lebih berorientasi pada keberlanjutan.
“Teknologi yang baik dan maju saja sering kali punya sisi negatif. Kalau tidak disikapi dengan integritas, literasi yang baik, dan kebijakan, itu bisa bahaya. Bumi kita semakin menghangat, sehingga perlu gaya hidup yang mengusung keberlanjutan,” ujarnya.
Untuk mewujudkan hal tersebut, LDII DIY menjadikan masjid sebagai salah satu basis gerakan lingkungan. Bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DIY, pihaknya telah meluncurkan 313 kelompok sedekah sampah berbasis masjid. Gerakan tersebut dilengkapi program Jugangan Mas dan Jugangan Om untuk mendorong pengelolaan sampah organik di lingkungan masjid maupun rumah.
Budaya ramah lingkungan juga diterapkan dalam kegiatan pengajian dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. LDII mendorong penggunaan wadah makanan yang dapat dicuci dan digunakan kembali, gelas kaca, dispenser, hingga membawa tumbler, “Ini menjadi kebiasaan budaya baru yang terus kami pupuk sudah kurang lebih 10 tahun terakhir dan basisnya sekali lagi masjid,” katanya.
Gerakan keberlanjutan tersebut juga dikembangkan melalui Program Kampung Iklim (ProKlim). Padukuhan Sangurejo, Sleman, telah meraih penghargaan ProKlim tingkat nasional dan kini didorong menuju ProKlim Lestari dengan membina 10 lokasi lainnya.
Upaya tersebut sejalan dengan penguatan dakwah berbasis ekoteologi yang dikembangkan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) LDII. Ketua Umum DPP LDII mengatakan, manusia sebagai khalifatullah fil ardh memiliki tanggung jawab untuk menjaga bumi agar tetap dapat dihuni oleh generasi mendatang.
“Selain mengeksplorasi manfaat untuk manusia, kita juga punya kewajiban untuk pemuliaan lingkungan. Kita punya kewajiban menjaga lingkungan supaya bumi yang kita huni ini terus bisa dihuni oleh anak cucu kita hingga hari kiamat nanti,” ujarnya.
Penerapan ekoteologi juga dilakukan di sejumlah pondok pesantren LDII melalui gerakan Zero Waste. Pesantren dengan jumlah santri besar didorong mengelola sampah secara mandiri. Sampah organik diolah menggunakan maggot yang kemudian dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sedangkan sampah anorganik dikelola sesuai jenisnya.
“Santriwan-santriwati secara tidak langsung dididik bagaimana mengelola lingkungan, termasuk bagaimana mengelola perkebunan dan peternakan secara circular,” katanya.
Menurutnya, pendekatan tersebut sekaligus menerapkan konsep circular economy dan menjadi sarana pendidikan lingkungan bagi santri. LDII juga terus mendorong kesadaran terhadap dampak perubahan iklim yang berpengaruh terhadap kesehatan, pertanian, dan kehidupan manusia.
Penguatan keberlanjutan turut dibarengi dengan pendidikan karakter dan literasi digital melalui program 29 Karakter Luhur yang diterapkan di majelis taklim, sekolah, pondok pesantren, dan Satuan Komunitas (Sako) Sekawan Persada Nusantara (SPN). Sebanyak 42 Gugus Depan Sako SPN telah tersebar di berbagai wilayah DIY.
Selain isu lingkungan, DPP LDII mengembangkan dakwah khusus bagi kelompok disabilitas dan masyarakat marjinal. LDII bekerja sama dengan Kementerian Agama dalam pengembangan Al Quran bahasa isyarat dan Braille. Salah satu santri pesantren LDII bahkan meraih juara dua MTQ disabilitas tingkat nasional kategori tunawicara dan berpeluang mengikuti ajang internasional di Kairo.
Ketua Umum DPP LDII menegaskan, dakwah ekoteologi merupakan bagian dari delapan program pengabdian LDII untuk bangsa yang meliputi kebangsaan, dakwah, pendidikan, kesehatan, ekonomi syariah, teknologi digital, energi baru dan terbarukan, serta ketahanan pangan dan lingkungan.
“Meski kami lembaga dakwah, energi baru dan energi terbarukan juga menjadi salah satu pandangan dakwah kami ke depan. Ini dalam rangka ekoteologi, sustainability, dan keberlangsungan,” pungkasnya.
Melalui penguatan dakwah ekoteologi, LDII berupaya menjadikan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari budaya dan gerakan bersama. Kolaborasi antara masjid, pesantren, sekolah, dan komunitas diharapkan mampu melahirkan SDM profesional-religius yang tidak hanya unggul secara kompetensi dan karakter, tetapi juga memiliki kesadaran untuk menjaga lingkungan serta mewariskan bumi yang berkelanjutan bagi generasi mendatang.

