Makkah (19/6). Petugas Penanganan Krisis dan Pertolongan Pertama pada Jemaah Haji (PKP2JH) PPIH Arab Saudi, Cipto Fidianto menjelaskan, tugas utamanya adalah merespons cepat terhadap berbagai kondisi darurat yang dialami jemaah haji, baik yang berkaitan dengan kesehatan maupun situasi lain yang berpotensi mengancam keselamatan jemaah.
“Sebagai bagian dari PKP2JH, kami bertugas melakukan pemantauan, pertolongan pertama, stabilisasi awal, koordinasi evakuasi, hingga memastikan jemaah mendapatkan layanan kesehatan lanjutan bila diperlukan,” ujar Cipto, di Makkah, Jumat (19/6/2026).
Perawat RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung itu menyebut, tugas tersebut diwujudkan melalui patroli aktif di berbagai titik konsentrasi jemaah, pendampingan pada fase-fase kritis ibadah haji, serta koordinasi intensif dengan petugas kesehatan Indonesia maupun otoritas Arab Saudi.
Setiap hari, tim PKP2JH bergerak menyusuri area yang menjadi pusat aktivitas jemaah. Mereka memantau kondisi jemaah, terutama kelompok lansia, penyandang disabilitas, dan mereka yang memiliki penyakit penyerta. “Kesiapsiagaan menjadi hal yang mutlak karena kondisi jemaah dapat berubah sewaktu-waktu, terutama saat cuaca ekstrem dan kepadatan jemaah meningkat,” tambahnya.
Menurutnya, PKP2JH juga berperan sebagai penghubung antara jemaah, petugas kesehatan, dan fasilitas layanan kesehatan agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan tepat. Di lapangan, petugas kerap memberikan pertolongan pertama, melakukan asesmen kondisi pasien, hingga mengevakuasi jemaah yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
“Kasus yang paling sering kami temui adalah kelelahan berat, dehidrasi, heat exhaustion, sesak napas, penurunan kesadaran, serta jemaah lanjut usia yang mengalami kesulitan mobilisasi. Tidak jarang kami juga membantu jemaah yang terpisah dari rombongan atau mengalami kebingungan orientasi akibat kelelahan,” katanya.
Salah satu situasi yang kerap dihadapi petugas adalah ketika menemukan jemaah yang kolaps akibat paparan panas dan aktivitas fisik yang berlebihan. Dalam kondisi seperti itu, PKP2JH harus bergerak cepat melakukan asesmen awal, memberikan pertolongan pertama, menstabilkan kondisi pasien, hingga mengoordinasikan evakuasi ke fasilitas kesehatan jika diperlukan.
“Kecepatan respons menjadi sangat penting karena beberapa menit pertama sering kali menentukan keberhasilan penanganan,” ujar Cipto.
Ia menjelaskan, prosedur penanganan selalu diawali dengan asesmen cepat di lokasi kejadian untuk menentukan tingkat kegawatan pasien. Setelah itu, petugas memberikan pertolongan pertama sesuai kondisi yang ditemukan, melakukan stabilisasi awal, dan mengaktifkan sistem rujukan apabila diperlukan.
“Seluruh proses dilakukan dengan mengedepankan keselamatan pasien, koordinasi lintas sektor, serta kesinambungan pelayanan agar jemaah mendapatkan penanganan yang optimal,” ujarnya.
Menurut Cipto, tantangan terbesar selama fase puncak haji berada pada tingginya mobilitas dan kepadatan jemaah di kawasan Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Dalam kondisi tersebut, akses menuju jemaah yang membutuhkan bantuan tidak selalu mudah, sementara pertolongan harus diberikan sesegera mungkin.
“Tantangan terbesar adalah tingginya mobilitas dan kepadatan jemaah pada fase puncak haji, khususnya saat pergerakan di Armuzna. Dalam kondisi tersebut, akses menuju jemaah yang membutuhkan bantuan kadang tidak mudah, sementara kebutuhan pertolongan harus diberikan sesegera mungkin,” ungkapnya.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, PKP2JH memperkuat koordinasi antarpetugas, meningkatkan patroli aktif di titik-titik strategis, memanfaatkan sistem komunikasi yang efektif, serta mengedukasi kepada jemaah mengenai pentingnya menjaga hidrasi dan mengatur aktivitas fisik selama beribadah.
“Selain penanganan di lapangan, edukasi kesehatan juga menjadi perhatian penting. Kami menilai banyak kondisi darurat sebenarnya dapat dicegah apabila jemaah memiliki kesiapan fisik yang baik dan memahami risiko kesehatan selama berhaji,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah terus memperkuat sistem layanan kesehatan haji, termasuk peningkatan kapasitas petugas, penambahan sarana pendukung kegawatdaruratan, serta pemanfaatan teknologi untuk mempercepat koordinasi dan pemantauan kondisi jemaah.
“Kami berharap kualitas pelayanan haji Indonesia semakin baik sehingga seluruh jemaah dapat beribadah dengan aman, sehat, dan meraih haji yang mabrur,” tuturnya. (Faqihu Sholih/MCH 2026).













