Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan.
Ada satu jenis ironi paling tua dalam sejarah manusia. Yaitu terkait pencarian dan pengakuan terhadap Allah. Banyak mulut mengakui Allah, tetapi hati tetap berpaling dan bahkan menggantung kepada selain-Nya.
Barangkali inilah salah satu wajah terdalam yang dibongkar oleh Surah Al-Mu’minun ayat 84–89. Allah ﷻ memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan sederhana, tetapi mengguncang fondasi jiwa manusia:
“Milik siapakah bumi dan siapa yang ada di dalamnya?”
“Siapakah Rabb langit yang tujuh dan Rabb ‘Arsy yang agung?”
“Di tangan siapakah kekuasaan segala sesuatu?”
Dan menariknya, kaum musyrik Quraisy tidak membantah. Mereka tidak berkata: “Berhala kami.” Mereka tidak berkata: “Tuhan-tuhan kami.” Mereka menjawab dengan jujur: “Milik Allah.” “Ya, Allah.” “Dan Allah.”
Di sinilah Al-Qur’an memperlihatkan sesuatu yang mengejutkan: ternyata masalah terbesar manusia bukan selalu ketidaktahuan tentang Allah. Kadang manusia tahu, mengerti, bahkan mengakui. Tetapi pengakuan belum tentu melahirkan ketundukan. Mereka mengenal Allah sebagai Rabb, tetapi tidak menjadikan-Nya satu-satunya tujuan ibadah. Mereka tahu Allah Maha Kuasa, tetapi hati mereka masih takut kepada makhluk. Mereka sadar seluruh alam ada dalam genggaman-Nya, tetapi jiwa mereka masih bersandar kepada selain-Nya.
Karena itu Allah menegur mereka dengan kalimat yang terasa seperti mengetuk nurani: “Afalā tattaqūn?” “Maka mengapa kalian tidak bertakwa?”
Seakan Allah berkata: “Kalau kalian sudah tahu semua berasal dari-Ku, lalu mengapa hati kalian masih berpaling?” Namun di sinilah rahasia yang lebih dalam itu bermula. Sebab ternyata memahami kebenaran tidak otomatis membuat seseorang mampu tunduk kepada kebenaran. Ada sesuatu yang lebih misterius daripada sekadar pengetahuan yaitu: hidayah.
Karena itu Allah berfirman dalam Surah Al-Qasas ayat 56: “Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak dapat memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.”
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
Ayat ini turun terkait Abu Thalib, paman Nabi ﷺ. Beliau mencintai Nabi ﷺ, melindungi beliau, mengetahui kejujuran beliau, bahkan memahami kemuliaan risalah yang dibawa beliau. Tetapi pada akhir hayatnya, ia tidak diberi taufik untuk mengucapkan kalimat tauhid.
Betapa menggetarkannya kenyataan ini. Ternyata seseorang bisa: dekat dengan kebenaran, memahami cahaya, bahkan membela pembawanya, tetapi belum tentu diberi kemampuan oleh Allah untuk benar-benar masuk ke dalam cahaya itu. Karena itulah para ulama membedakan antara: hidayah penjelasan, dan hidayah taufik.
Nabi ﷺ mampu menunjukkan jalan. Al-Qur’an mampu menerangkan kebenaran. Para ulama mampu menjelaskan dalil. Tetapi yang membukakan hati hanyalah Allah semata. Maka kadang masalah manusia bukan kurang bukti, melainkan hati yang belum siap tunduk. Ada yang tahu Allah Maha Besar, tetapi dunia lebih besar dalam dadanya. Ada yang tahu Allah Maha Mencukupi, tetapi jiwanya lebih tenang oleh uang daripada oleh doa. Ada yang hafal tauhid, tetapi lebih takut kehilangan jabatan daripada kehilangan Allah.
Mungkin syirik modern tidak selalu berupa patung dan berhala batu. Kadang ia hadir lebih halus: dalam ketergantungan yang berlebihan kepada manusia, dalam ambisi yang diam-diam menjadi sesembahan batin, dalam pujian yang lebih dicari daripada ridha-Nya, dalam rasa takut kepada dunia yang mengalahkan rasa takut kepada Allah.
Padahal tauhid bukan sekadar mengetahui siapa pencipta langit dan bumi. Tauhid adalah ketika hati pulang hanya kepada Allah. Tauhid adalah saat takut paling dalam hanya kepada-Nya, saat berharap paling besar hanya kepada-Nya, saat sandaran terakhir hanya kepada-Nya, saat dunia runtuh sekalipun, hati tetap berkata: “Aku masih punya Allah.”
Para mufassir besar seperti Ibnu Katsir, Ath-Thabari, dan Al-Qurthubi menjelaskan bahwa ayat-ayat ini adalah hujjah terhadap kaum musyrik: pengakuan tentang keberadaan Allah saja tidak cukup menyelamatkan manusia selama ia belum mengikhlaskan penghambaan hanya kepada-Nya. Namun ayat-ayat ini juga membuat hati orang beriman gemetar. Sebab ternyata hidayah bukan semata kecerdasan, bukan sekadar banyak ilmu, bukan pula kedekatan fisik dengan orang saleh. Hidayah adalah rahmat Allah.
Ia adalah saat Allah membuka hati seseorang untuk mencintai kebenaran, lalu memberinya kekuatan untuk hidup di dalam kebenaran itu. Karena itulah orang-orang saleh sangat takut terhadap hati mereka sendiri. Mereka tidak bersandar kepada amal, ilmu, atau kedekatan dengan agama. Mereka sibuk memohon: “Ya Allah, jangan palingkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk.” Sebab mereka tahu: ada orang yang mengenal kebenaran tetapi tidak diberi kekuatan untuk memeluknya, dan ada orang sederhana yang mungkin ilmunya sedikit, tetapi dibukakan Allah jalan pulang kepada-Nya.
Dan mungkin perjalanan spiritual manusia yang paling panjang bukanlah perjalanan mencari Tuhan — sebab banyak orang sebenarnya sudah mengetahui-Nya — melainkan perjalanan memulangkan seluruh rasa takut, cinta, harap, dan sandaran, hanya kepada Allah.














