Madinah (20/6). Petugas Lansia dan Disabilitas (Landis) PPIH Arab Saudi terus memperkuat layanan bagi jemaah lanjut usia dan penyandang disabilitas agar dapat menjalankan seluruh rangkaian ibadah haji dengan aman dan nyaman. Berbagai skema layanan khusus disiapkan mulai dari fase keberangkatan hingga pelaksanaan puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Petugas Landis Sektor 4 Madinah, Wahyu Setyo Budi Susilo, mengatakan layanan Landis pada penyelenggaraan haji 2026 dilaksanakan melalui pendekatan aksesibilitas inklusif yang dirancang untuk mengakomodasi keterbatasan fisik jemaah.
“Layanan lansia dan disabilitas tahun ini dilaksanakan melalui pendekatan inclusive accessibility. Prinsipnya, kami tidak bisa memaksakan fisik lansia mengikuti ritme ibadah reguler. Karena itu, berbagai skema layanan disiapkan agar mereka tetap dapat menunaikan ibadah secara sah menurut syariat dan aman secara medis,” ujar Wahyu.
Warga LDII Kabupaten Klaten itu, salah satu layanan yang diperkuat adalah Safari Wukuf bagi jemaah dengan keterbatasan fisik berat. Melalui program tersebut, jemaah dapat melaksanakan wukuf dari dalam bus tanpa harus turun ke tenda Arafah. “Selain itu, penerapan skema murur juga dinilai efektif mengurangi kelelahan ekstrem pada jemaah lanjut usia karena mereka tidak perlu turun dan bermalam di Muzdalifah,” ucapnya.
Ia menjelaskan, kursi roda, mobil golf di Mina, hingga pendampingan mobilitas bukan sekadar fasilitas pendukung, melainkan sarana penting yang memungkinkan jemaah lansia dan disabilitas menyelesaikan rangkaian ibadah hajinya.
Saat fase puncak haji di Armuzna, Wahyu bertugas di Posko AdHoc 8 Markaz 78 Mina. Di lokasi tersebut, ia bersama tim fokus melakukan pemetaan jemaah risiko tinggi yang masih mampu menjalankan aktivitas secara mandiri dan mereka yang membutuhkan bantuan khusus.
“Banyak jemaah lansia yang ingin tetap melaksanakan lempar jumrah sendiri meskipun kondisinya sudah tidak memungkinkan. Tantangan kami adalah mengedukasi secara persuasif bahwa badal jumrah diperbolehkan dalam syariat dan tidak mengurangi kemabruran hajinya,” katanya.
Menurut Wahyu, edukasi semacam itu menjadi bagian penting dalam pelayanan karena tidak sedikit jemaah yang memaksakan diri demi menyempurnakan ibadah, padahal kondisi fisiknya berisiko membahayakan keselamatan.
Di balik tugasnya sebagai petugas Landis, Wahyu menyimpan pengalaman yang membekas selama bertugas di Madinah. Ia pernah mendampingi seorang jemaah perempuan Odah binti Buhari Lelang, berusia sekitar 70 tahun asal Kloter JKB 22 yang mengalami patah tulang paha kiri akibat terjatuh saat berada di Arafah.
“Meski mengalami patah tulang dan harus menggunakan kursi roda, ia tidak pernah mengeluh. Dalam kondisi kesakitan, dia justru terus mendoakan anak-cucunya dan mengingatkan kami untuk tetap bersyukur serta bergembira,” tuturnya.
Pengalaman tersebut, kata Wahyu, memberikan pelajaran berharga tentang keteguhan spiritual jemaah lansia. Menurutnya, meskipun kondisi fisik mereka menurun, semangat beribadah dan keyakinan kepada Allah justru sering kali jauh lebih kuat.
“Melayani lansia bukan hanya membantu mobilitas mereka. Yang lebih penting adalah menjaga kehormatan dan martabat mereka sebagai tamu Allah yang memiliki semangat ibadah luar biasa,” ujarnya.
Dalam pelaksanaan tugas sehari-hari, layanan Landis juga dilakukan melalui koordinasi dengan petugas kloter dan tenaga kesehatan haji Indonesia. Setiap laporan mengenai kondisi jemaah risiko tinggi akan ditindaklanjuti melalui asesmen medis sebelum diberikan intervensi mobilitas maupun pendampingan khusus.
“Petugas kloter menjadi pihak pertama yang memantau kondisi jemaah. Setelah dilakukan asesmen oleh tenaga kesehatan, kami di Landis menyiapkan kebutuhan mobilitas dan pendampingan sesuai kondisi masing-masing jemaah. Semua dilakukan melalui koordinasi yang terintegrasi agar tidak ada jemaah yang terlewat dari pemantauan,” jelasnya.
Ke depan, Wahyu berharap layanan bagi jemaah lansia dan disabilitas terus diperkuat. Ia menilai pemeriksaan istithaah kesehatan perlu dilakukan lebih ketat sejak awal, termasuk peningkatan fasilitas ramah lansia dan disabilitas di kawasan masyair.
Selain itu, ia juga mendorong adanya pelatihan khusus gerontologi dan psikologi bagi petugas Landis agar pelayanan terhadap jemaah lanjut usia, termasuk yang mengalami demensia atau gangguan psikologis, dapat dilakukan secara lebih profesional dan berbasis keilmuan.
“Harapannya, kualitas layanan lansia dan disabilitas terus meningkat sehingga seluruh jemaah dapat menjalankan ibadah dengan aman, nyaman, dan memperoleh haji yang mabrur,” tutupnya. (Faqihu Sholih/ MCH 2026)













