Warga LDII di pelosok Indragiri Hilir menikmati meriahnya Idul Adha. Meskipun dengan pengorbanan biaya transportasi sungai yang mahal untuk memindahkan sapi kurban mereka.
Siang itu, matahari bersinar terik di atas hamparan rawa dan perkebunan sawit yang membentang di Kecamatan Pulau Burung, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau. Di tepian sungai Desa Mayang Sari, sejumlah warga tampak sibuk mengerumuni sebuah pompong—perahu kayu bermesin yang menjadi urat nadi transportasi masyarakat setempat.
Namun hari itu, pompong tersebut tidak mengangkut hasil kebun atau kebutuhan pokok. Dengan penuh kehati-hatian, dua ekor sapi berukuran besar dituntun menaiki lambung perahu. Di antara tumpukan jerami dan rumput yang sengaja disiapkan agar hewan tetap tenang selama perjalanan, sapi-sapi kurban itu tampak tenang. Mereka bersiap menempuh perjalanan menyusuri aliran sungai menuju desa tujuan.
Pemandangan tersebut menjadi gambaran khas pelaksanaan ibadah kurban di daerah perairan Indragiri Hilir. Di wilayah yang akses daratnya terbatas dan sungai menjadi jalur utama mobilitas warga, distribusi hewan kurban membutuhkan perjuangan yang tidak sedikit.
Perjalanan membawa hewan kurban itu dipimpin Ketua Pimpinan Cabang LDII Kecamatan Pulau Burung, Sumeri. Bersama panitia dan warga, ia turun langsung membantu proses pengangkutan sapi ke atas pompong. Sesekali mereka memastikan tali pengikat cukup kuat dan posisi hewan aman sebelum perahu bertolak.
Bagi masyarakat perkotaan, mengangkut sapi dengan truk mungkin menjadi hal biasa. Namun di Pulau Burung, sungai adalah jalan raya. Pompong adalah kendaraan andalan. Karena itu, setiap Idul Adha, semangat berbagi harus menyesuaikan diri dengan kondisi alam yang ada.
“Kami ingin memastikan bahwa jarak dan akses jalan yang sulit tidak menjadi penghalang bagi warga untuk melaksanakan kurban dan merasakan kebahagiaan Idul Adha. Ini bukan hanya soal menyembelih hewan, tetapi tentang pengorbanan, keikhlasan, dan amanah dari para pekurban yang harus kami sampaikan hingga ke pelosok desa,” ujar Sumeri.
Mesin pompong pun meraung pelan. Perahu bergerak membelah permukaan sungai yang tenang. Di kanan-kiri, deretan pohon sawit dan semak rawa membentuk lorong hijau yang seakan mengantar perjalanan tersebut. Di atas perahu sederhana itu, tersimpan harapan banyak orang: harapan agar semangat berbagi dapat menjangkau mereka yang tinggal jauh dari pusat keramaian.
Perjalanan yang bagi sebagian orang tampak sederhana itu sesungguhnya mengandung makna mendalam. Sebab kurban tidak hanya diukur dari jumlah hewan yang disembelih, tetapi juga dari kesungguhan menjaga amanah dan menghadirkan kebahagiaan bagi sesama.
Setibanya di Desa Mayang Sari, dua ekor sapi tersebut akan diserahkan kepada panitia Masjid Nurul Huda. Pada 10 Zulhijah 1447 Hijriah, hewan-hewan itu akan disembelih sesuai syariat, lalu dagingnya dibagikan kepada masyarakat sekitar, termasuk keluarga-keluarga yang mungkin hanya menikmati daging qurban setahun sekali.
Di balik perjalanan melintasi sungai itu, tersimpan nilai-nilai yang menjadi roh Idul Adha: pengorbanan, gotong royong, dan kepedulian sosial. Warga bergandengan tangan tanpa memandang kesulitan medan yang harus dilalui. Mereka percaya bahwa setiap jerih payah yang dilakukan adalah bagian dari ibadah.
Aliran sungai yang membelah Pulau Burung pada akhirnya tidak hanya menjadi jalur transportasi. Ia menjadi saksi bagaimana semangat kemanusiaan dan ukhuwah Islamiyah terus mengalir dari satu kampung ke kampung lainnya. Di atas sebuah pompong sederhana, Kurban menemukan maknanya yang paling nyata: berbagi kebahagiaan tanpa mengenal batas jarak.













