MADINAH (29/6). Menjadi Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi bukan sekadar menjalankan tugas operasional. Di balik seragam yang dikenakan, ada amanah untuk memastikan setiap jemaah Indonesia tiba, berpindah, hingga melanjutkan perjalanan ibadah dengan aman dan nyaman.
Sebagai petugas transportasi Daerah Kerja (Daker) Madinah, Sukarjan menjadi salah satu orang pertama yang menyambut kedatangan jemaah haji Indonesia di Tanah Suci. Sejak bus dari Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA) memasuki area hotel, ia bersama tim telah bersiaga membantu jemaah turun dari kendaraan, terutama mereka yang lanjut usia, penyandang disabilitas, maupun pengguna kursi roda.
“Tugas utama kami memastikan proses transportasi berjalan lancar, mulai dari membantu jemaah turun dari bus, mengantar pengguna kursi roda hingga ke kamar hotel, mengawasi penurunan koper, memastikan tidak ada barang tertinggal di bus, sampai mengatur keberangkatan jemaah menuju Makkah,” ujar Sukarjan.
Saat fase keberangkatan ke Makkah, tugas itu kembali berulang. Tim transportasi memastikan koper tersusun rapi di bagasi, memasang stiker identitas pada setiap bus agar jemaah tidak salah kendaraan, hingga mengawasi keberangkatan setiap rombongan yang rata-rata berisi 40 orang.
Tak hanya bertugas di Madinah, Sekretaris DPW LDII DKI Jakarta itu juga mendapat penugasan tambahan saat fase puncak haji di Mina. Ia ditempatkan di pos pantau jalur menuju Jamarat untuk membantu jemaah menemukan kembali tenda atau markaz setelah melontar jumrah.
“Di lapangan memang ada kondisi yang harus menyesuaikan dengan kebijakan syarikah penyedia transportasi. Namun secara umum pelayanan tetap berjalan sesuai prosedur dan dapat dilaksanakan dengan baik,” katanya.
Di balik rutinitas yang padat, Sukarjan mengaku ada satu momen yang selalu membekas selama bertugas. Baginya, kebahagiaan terbesar bukan ketika seluruh proses transportasi berjalan tanpa hambatan, melainkan saat melihat senyum jemaah.
“Yang paling berkesan ketika kami mendorong kursi roda, menuntun lansia, bahkan menggendong jemaah yang sudah tidak kuat berjalan. Saat mereka sampai di kamar hotel lalu tersenyum dan mengucapkan terima kasih, itu menjadi kebahagiaan yang tidak bisa dinilai dengan apa pun,” tuturnya.
Menurut Sukarjan, tantangan terbesar selama bertugas justru datang dari perbedaan bahasa. Komunikasi dengan umal maupun sopir bus asal Arab Saudi kerap menjadi kendala, namun hal itu dapat diatasi melalui kombinasi bahasa Inggris, bahasa Arab sederhana, dan bahasa isyarat.
“Terkadang cukup dengan isyarat tangan, mereka sudah memahami apa yang kami maksud. Yang penting komunikasi tetap terjalin,” ujarnya.
Ia menilai, jemaah Indonesia membutuhkan kehadiran petugas yang mampu memberikan rasa tenang. Banyak di antara mereka baru pertama kali bepergian ke luar negeri sehingga masih memerlukan arahan, mulai dari penggunaan fasilitas hotel hingga mengenali lingkungan sekitar.
“Yang paling dibutuhkan jemaah adalah sapaan yang hangat, sentuhan yang lembut, serta kesabaran dalam memberikan penjelasan. Hal-hal sederhana seperti menunjukkan jalan menuju kamar atau mengajari menggunakan fasilitas hotel sangat berarti bagi mereka,” katanya.
Bagi Sukarjan, pengabdian sebagai petugas haji memiliki makna yang jauh lebih dalam dibanding sekadar menjalankan pekerjaan. “Melayani jemaah bukan sekadar slogan. Kami menganggap setiap jemaah seperti orang tua kami sendiri. Karena itu, mereka harus dilayani dengan sepenuh hati agar menjadi amal ibadah dan bentuk amanah yang dipercayakan negara kepada kami,” ungkapnya.
Menjelang berakhirnya operasional haji, Sukarjan berharap penyelenggaraan haji ke depan semakin baik. Ia mendorong pemerintah melakukan evaluasi terhadap mitra layanan di Arab Saudi yang belum memenuhi kontrak kerja, memperkuat fasilitas kesehatan di hotel bagi jemaah berisiko tinggi, serta memperketat pelaksanaan istithaah kesehatan agar jemaah yang berangkat benar-benar siap menjalankan ibadah di Tanah Suci.
“Bila layanan terus diperbaiki dari tahun ke tahun, insyaallah jemaah Indonesia akan semakin nyaman, aman, dan dapat menjalankan ibadah dengan lebih khusyuk,” pungkasnya. (Faqihu Sholih/MCH 2026)













