Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan.
Mu’adz bin Jabal adalah seorang sahabat. Ia mencintai salat, mencintai Al-Qur’an, dan memiliki semangat besar dalam beribadah. Suatu ketika, ia menjadi imam salat isya bagi kaumnya. Namun, bacaan Mu’adz cukup panjang. Ia membaca surah Al-Baqarah. Seorang laki-laki dari kalangan Anshar yang bekerja keras sepanjang hari merasa keberatan. Ia kemudian meninggalkan jamaah dan shalat sendiri.
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، أَنَّ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ، كَانَ يُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ ﷺ، ثُمَّ يَأْتِي قَوْمَهُ فَيُصَلِّي بِهِمْ الصَّلَاةَ، فَقَرَأَ بِهِمُ الْبَقَرَةَ، قَالَ: فَتَجَوَّزَ رَجُلٌ فَصَلَّى صَلَاةً خَفِيفَةً، فَبَلَغَ ذَلِكَ مُعَاذًا، فَقَالَ: إِنَّهُ مُنَافِقٌ، فَبَلَغَ ذَلِكَ الرَّجُلَ، فَأَتَى النَّبِيَّ ﷺ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّا قَوْمٌ نَعْمَلُ بِأَيْدِينَا، وَنَسْقِي بِنَوَاضِحِنَا، وَإِنَّ مُعَاذًا صَلَّى بِنَا الْبَارِحَةَ، فَقَرَأَ الْبَقَرَةَ، فَتَجَوَّزْتُ، فَزَعَمَ أَنِّي مُنَافِقٌ. فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: يَا مُعَاذُ، أَفَتَّانٌ أَنْتَ؟ ثَلَاثَ مِرَارٍ، اقْرَأْ وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا، وَسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى، وَنَحْوَهَا.
Dari Jabir bin Abdullah, bahwa Mu’adz bin Jabal biasa shalat bersama Nabi ﷺ, kemudian ia mendatangi kaumnya dan mengimami mereka shalat. Pada suatu malam, ia membaca Surah Al-Baqarah dalam salat. Kemudian seorang laki-laki keluar dari jamaah dan melaksanakan salat sendirian dengan ringan. Hal itu sampai kepada Mu’adz, lalu Mu’adz berkata, “Sesungguhnya dia seorang munafik.” Berita itu sampai kepada laki-laki tersebut. Ia kemudian datang kepada Nabi ﷺ dan berkata: “Wahai Rasulullah, kami adalah orang-orang yang bekerja dengan tangan kami dan mengairi tanaman kami dengan tenaga kami. Tadi malam Mu’adz mengimami kami salat dan membaca Surah Al-Baqarah. Maka aku keluar dari jamaah dan menyelesaikan shalatku dengan ringan. Lalu Mu’adz menganggapku munafik.” Maka Nabi ﷺ bersabda: “Wahai Mu’adz, apakah engkau hendak membuat kerusakan/fitnah?” Beliau mengulanginya tiga kali, kemudian bersabda: “Bacalah Surah Wasy-Syamsi wadhuhaha, dan Sabbihisma Rabbikal A’la, dan surah-surah yang semisal dengannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kemudian Nabi ﷺ mengajarkan agar imam memperhatikan kondisi makmum dan menganjurkan membaca surah-surah yang lebih ringan. Dalam riwayat lain, Nabi ﷺ bersabda:
إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ لِلنَّاسِ فَلْيُخَفِّفْ، فَإِنَّ فِيهِمُ الضَّعِيفَ وَالسَّقِيمَ وَالْكَبِيرَ، وَإِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ لِنَفْسِهِ فَلْيُطَوِّلْ مَا شَاءَ
“Apabila salah seorang di antara kalian mengimami manusia, hendaklah ia meringankan shalatnya, karena di antara mereka ada yang lemah, sakit, dan lanjut usia. Namun apabila ia shalat sendirian, silakan ia memanjangkannya sesuai kehendaknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Nabi ﷺ tidak mengatakan bahwa membaca surah panjang itu buruk. Tidak. Tetapi ketika seseorang menjadi imam, ia tidak lagi hanya memikirkan dirinya sendiri. Ia sedang membawa orang lain menghadap Allah. Ada orang tua. Ada orang sakit. Ada orang yang lemah. Ada orang yang baru pulang bekerja. Ada orang yang memiliki kebutuhan mendesak. Ada ibu yang anaknya menangis di rumah. Ada orang yang mungkin sedang berjuang melawan rasa sakit yang tidak terlihat. Maka, ibadah yang dilakukan bersama membutuhkan kebijaksanaan. Apa yang baik bagi diri sendiri belum tentu baik jika dibebankan kepada liyan.
Perhatikan cara Nabi ﷺ menegur Mu’adz. Teguran itu tegas. Namun tujuannya bukan mempermalukan Mu’adz. Nabi ﷺ sedang menjaga umat dari kesulitan dalam beribadah. Inilah salah satu ciri teguran yang benar: Bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk menyelamatkan. Bukan karena marah kepada orangnya, tetapi karena sayang kepada kebenaran dan kepada orang-orang yang terdampak. Teguran Nabi ﷺ juga mengajarkan bahwa orang baik pun tak luput ditegur. Mu’adz adalah sahabat yang mulia. Ia seorang ulama. Tetapi kemuliaan seseorang tidak berarti ia tidak pernah dikoreksi. Justru salah satu bentuk kemuliaan seorang manusia adalah mau menerima teguran ketika ia keliru. Dan orang yang menegur pun harus belajar dari Nabi ﷺ: Tegurlah kesalahannya, jangan hinakan orangnya.
Yang sangat indah dari kisah ini adalah sikap ketika mendapat teguran. Mu’adz tidak berkata: “Saya kan sedang membaca Al-Qur’an.” “Saya kan sedang beribadah.” “Mereka yang tidak kuat.” “Kalau tidak suka, silakan shalat sendiri.” Ia tidak mencari pembenaran untuk dirinya. Inilah akhlak seorang pembelajar. Ketika kebenaran datang kepadanya, ia menerima. Orang yang matang secara spiritual tidak sibuk mempertahankan ego ibadahnya. Ia lebih memilih memperbaiki diri daripada memenangkan perdebatan. Kadang-kadang kita bukan tidak tahu yang benar. Kita hanya terlalu mencintai cara kita sendiri dalam melakukan kebaikan. Dan di sinilah ego bisa masuk bahkan ke dalam ibadah.
Kisah Mu’adz juga mengajarkan kita tentang seni menegur dalam agama. Tidak semua kesalahan harus ditegur. Tidak semua perbedaan harus dikoreksi. Tidak semua ibadah orang lain harus kita komentari. Ada kesalahan yang jelas bertentangan dengan syariat dan merugikan orang lain. Itu perlu diluruskan. Ada perkara yang memang wajib diperbaiki karena menyangkut hak Allah dan hak manusia. Tetapi ada pula perkara yang termasuk perbedaan pendapat yang dibenarkan, atau persoalan yang bersifat cabang dan tidak layak dijadikan sumber pertengkaran. Maka, sebelum menegur, tanyakan: Apakah ini benar-benar salah? Apakah saya memahami persoalannya? Apakah ini memang wilayah yang harus saya tegur? Apakah teguran saya akan membawa kebaikan? Apakah saya menegur karena Allah atau karena ego saya? Sebab terkadang kita merasa sedang membela agama, padahal sebenarnya sedang membela pendapat pribadi kita sendiri.
Nabi ﷺ pernah menegur orang yang shalatnya tidak sempurna. Ada seorang sahabat yang salat, lalu datang kepada Nabi ﷺ. Nabi menyuruhnya mengulangi shalatnya karena gerakan dan tuma’ninahnya belum benar. Beliau kemudian mengajarkan dengan sangat rinci bagaimana shalat yang benar. Ini contoh bahwa kesalahan dalam rukun dan tata cara ibadah perlu diluruskan. Tetapi lihat caranya. Nabi ﷺ tidak mempermalukannya di hadapan manusia. Beliau mengajarkan. Teguran berubah menjadi pendidikan.
Nabi ﷺ pernah menegur orang yang kencing di masjid. Seorang Arab Badui buang air kecil di dalam masjid. Para sahabat hendak menghentikannya dengan keras. Namun Nabi ﷺ melarang mereka menyakiti dan membiarkannya menyelesaikan hajatnya. Setelah itu, Nabi ﷺ menjelaskan dengan lembut bahwa masjid bukan tempat untuk perbuatan tersebut. Di sini kita melihat sebuah kaidah besar: Kesalahan harus dihentikan, tetapi cara menghentikannya jangan sampai melahirkan kesalahan yang lebih besar. Kalau orang itu langsung dimarahi dan dipukul, mungkin najis akan semakin menyebar dan orang tersebut justru semakin jauh dari Islam. Nabi ﷺ memilih hikmah daripada reaksi spontan.
Nabi ﷺ pernah menegur orang yang berlebihan dalam ibadah. Ada sahabat yang ingin berpuasa terus-menerus, shalat sepanjang malam, dan meninggalkan kehidupan keluarga. Nabi ﷺ mengingatkan bahwa tubuh memiliki hak, mata memiliki hak, keluarga memiliki hak. Artinya, Islam tidak mengajarkan kesalehan yang menghancurkan keseimbangan hidup. Bahkan dalam ibadah, kita harus mengenal batas. Sebab Allah tidak membutuhkan ibadah kita. Kitalah yang membutuhkan Allah.
Kisah Mu’adz mengandung satu pesan yang sangat dalam: Jangan sampai cara kita mencintai Allah justru membuat orang lain menjauh dari Allah. Jangan sampai dakwah kita membuat orang takut. Jangan sampai nasihat kita membuat orang merasa hina. Jangan sampai semangat ibadah kita membuat orang merasa agama ini terlalu berat. Jangan sampai kita begitu sibuk menunjukkan kesalehan sehingga lupa menunjukkan rahmat.
Ada kalanya kita perlu memanjangkan ibadah. Ada kalanya kita perlu meringankannya. Ada kalanya kita perlu menegur. Ada kalanya kita perlu diam. Ada kalanya kita harus tegas. Ada kalanya kita harus lembut. Dan untuk mengetahui kapan harus melakukan yang mana, kita membutuhkan sesuatu yang lebih tinggi daripada sekadar ilmu: hikmah. Ilmu memberitahu kita apa yang benar. Tetapi hikmah mengajarkan kita kapan, bagaimana, dan kepada siapa kebenaran itu disampaikan.
Karena itu, orang yang paling baik bukanlah orang yang paling banyak menegur. Tetapi orang yang ketika menegur, orang lain merasa diselamatkan, bukan dipermalukan. Bukan orang yang paling keras suaranya. Tetapi orang yang paling lembut hatinya ketika menyampaikan kebenaran. Dan bukan pula orang yang selalu membenarkan semua orang. Tetapi orang yang mampu berkata: “Ini benar, maka mari kita ikuti.” “Ini keliru, maka mari kita perbaiki.” “Ini perkara yang diperselisihkan, maka mari kita saling menghormati.” “Dan jika saya yang keliru, maka saya siap menerima teguran.” Sebab pada akhirnya, tujuan ibadah bukanlah agar kita terlihat paling saleh di hadapan manusia. Tujuan ibadah adalah agar hati kita semakin dekat kepada Allah. Dan tanda kedekatan kepada Allah bukan hanya semakin banyak ibadah kita, tetapi juga semakin lembut hati kita, semakin rendah hati kita, semakin bijaksana kita, dan semakin besar kasih sayang kita kepada sesama.
Itulah pelajaran dari teguran Nabi ﷺ kepada Mu’adz: Beribadahlah dengan sungguh-sungguh, tetapi jangan bebani orang lain dengan cara ibadahmu. Cintailah kebenaran, tetapi jangan kehilangan kasih sayang ketika menyampaikannya. Terimalah teguran, karena orang yang mau dikoreksi lebih dekat kepada kesempurnaan daripada orang yang merasa dirinya selalu benar. Dan ketika menegur, tegurlah dengan cinta—sebagaimana Nabi ﷺ mendidik umatnya dengan ilmu, hikmah, dan rahmat.

