Siapa yang tidak ingin hidup bahagia? Barangkali semua manusia sejagat ini punya cita-cita sama yakni hidup bahagia.
Tapi terkadang, masih sering manusia salah menyikapi permasalahan dan salah menilai harga dunia ini. KH Ubaidillah Alhasany mengatakan, kuncinya meraih kebahagiaan ada dua, jangan sampai salah menilai dunia ini.
Dunia ini hanyalah kenikmatan yang menipu (mata’ul ghuruur) dan nilainya sangat kecil jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat. “Tidak ada kehidupan kecuali hanyalah membujuk, kehidupan dunia nyaris tidak ada nilai,” kata dia.
Sangat menyedihkan, kata Habib Ubaid, jika manusia menganggap dunia sebagai segala-galanya dan menghabiskan seluruh waktunya hanya untuk urusan keduniaan. Padahal dunia itu belum mendapatkan apa yang menjadi angan atau impiannya.
Yang kedua, kata dia, manusia jangan sampai salah menerima kenyataan di dunia ini. Bisa menerima kenyataan hidup (sikap qona’ah) itulah kunci bahagia.
Ukuran kebahagiaan menurutnya, bukan diukur dari harta, pangkat, atau popularitas. “Banyak orang kaya atau populer namun hidupnya merana,” kata dia.
Kunci bahagia adalah bersyukur dan bisa menerima kenyataan atas apa pun yang dialami serta berapa pun yang dimiliki.
Sesungguhnya yang menjadi ukuran dalam hidup dan kehidupan adalah iman. Itulah ukuran harta yang tak bisa dibandingkan dengan apa pun kenikmatan di dunia ini.
“Keimanan dan kelanggengan dalam Islam adalah karunia terbesar serta kebahagiaan dan kesuksesan yang hakiki,” kata Habib.
Sungguh beruntung orang yang ditunjukkan keimanan dalam sekali hidup, walaupun hidupnya pas atau kekurangan. “Dan sesungguhnya apa yang Alloh berikan kepada kita sebagai orang iman di dunia, itulah yang terbaik untuk keimanan sehingga bisa dipertahankan hingga akhir hayat,” kata dia.
Mengutip Hadits Qutsy tentang berbagai keadaan hamba yang ditakdirkan Allah sesuai kebaikan imannya yakni, ada hamba yang imannya dijaga melalui kekayaan, dan ada yang dijaga melalui kemiskinan.
Sementara itu ada hamba Allah yang imannya dijaga melalui kesehatan, dan ada pula yang justru imannya lebih terjaga saat diberi ujian sakit. “Karena sakitnya ia malah taqorrubilalloh, banyak mendekat kepada Alloh,” kata dia.
Karena itu Habib Ubaid mengimbau untuk selalu menerima takdir Allah dengan husnudzon (berprasangka baik), bersyukur, dan meyakini bahwa keadaan saat ini adalah yang terbaik untuk menjaga iman hingga akhir hayat (husnul khotimah).
Simak juga:

