Situbondo (27/8). DPD LDII Kabupaten Situbondo menghadiri Kirab 2.400 Ancak Agung yang digelar Pemerintah Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Kegiatan pada Sabtu (15/8/2026) tersebut digelar sebagai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan merupakan rangkaian Hari Jadi Kabupaten Situbondo (Harjakasi) ke-208 serta Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia.
“Ancak Agung merupakan tradisi masyarakat dalam menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW. Ini ungkapan rasa sukacita masyarakat menyambut Maulid Nabi. Ini sebuah sejarah di mana masyarakat terlibat dengan mengungkapkan rasa sukacitanya,” ujar Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo.
Bupati menyampaikan kilas balik sejarah Situbondo sekaligus arah pembangunan daerah. Ia juga mengajak masyarakat menjaga dan mengembangkan potensi sejarah, budaya, permainan tradisional, serta kuliner khas daerah, “Perkembangan Kabupaten Situbondo saat ini terus bergerak ke arah yang lebih baik. Perkembangan Situbondo terus diarahkan melalui pembangunan sekaligus penguatan identitas daerah,” ungkapnya.
Bupati mengingatkan masyarakat mengenai perjalanan panjang sejarah wilayah Situbondo. Ia menceritakan sebelum menggunakan nama Situbondo, wilayah tersebut dikenal dengan nama Besuki dan kemudian Panarukan.
“Secara historis, penetapan 15 Agustus 1818 sebagai Hari Jadi Kabupaten Situbondo memiliki dasar Peraturan Daerah Kabupaten Situbondo Nomor 12 Tahun 2013. Regulasi tersebut menyebut tanggal 15 Agustus 1818 sebagai awal berjalannya pemerintahan daerah yang berkaitan dengan pengangkatan KRT Prawiroadiningrat atau Bambang Soetiknyo sebagai Bupati pertama Besuki,” jelasnya.
Bupati Situbondo juga menjelaskan perubahan nama pemerintahan dari Besuki menjadi Panarukan pada 1858 dan kemudian menjadi Situbondo pada 1972. Menurutnya, dari sumber sejarah Universitas Jember mencatat perubahan Kabupaten Panarukan menjadi Kabupaten Situbondo pada 1972 serta perpindahan pusat pemerintahan ke Situbondo.
“Nama Panarukan juga memiliki keterkaitan dengan sejarah Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan yang dibangun pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI menyebut nama Panarukan telah tercatat dalam Nagarakrtagama. Sumber tersebut mengaitkan Patukangan dengan kawasan Panarukan dan perjalanan Hayam Wuruk ke wilayah timur Jawa pada 1359,” ungkapnya.
Ia menerangkan perbedaan angka, penyebutan 1355 tidak digunakan dalam naskah tersebut. Menurutnya, redaksi menggunakan tahun 1359 berdasarkan sumber kebudayaan pemerintah. Ia menyebut sejarah tersebut menjadi bagian dari identitas yang perlu diperkenalkan kepada masyarakat luas.
Sementara itu, Wakil Ketua DPD LDII Kabupaten Situbondo, Anwarudin menerangkan kehadiran DPD LDII Kabupaten Situbondo menjadi bagian dari keterlibatan organisasi tersebut dalam kegiatan kemasyarakatan yang diselenggarakan pemerintah daerah.
“Kegiatan ini dihadiri sejumlah unsur organisasi keagamaan dan masyarakat setempat. Kirab ini mempertemukan masyarakat dalam sebuah kegiatan yang menggabungkan peringatan keagamaan dengan rangkaian peringatan hari jadi daerah dan kemerdekaan,” tutupnya.














