Hamparan hutan jati yang meranggas menjadi pemandangan sepanjang perjalanan menuju kawasan perbukitan di Kapanewon Saptosari, Gunungkidul. Di tengah musim kemarau September, hanya sejumlah pohon seperti mahoni dan akasia yang masih terlihat bertahan hijau. Kendaraan terus bergerak menanjak menuju Dusun Sawah, Desa Krambil Sawit, Kapanewon Saptosari. Nama Dusun Sawah seolah tidak menggambarkan kondisi wilayah tersebut saat ini. Hamparan persawahan hijau tidak tampak. Yang terlihat justru tanah tipis dengan bentang perbukitan berbatu. Di wilayah inilah persoalan ketersediaan air bersih masih menjadi tantangan masyarakat, terutama saat musim kemarau.
Jaringan pipa air bersih belum mampu menjangkau kawasan perbukitan secara optimal. Bahkan penggunaan dua mesin pompa belum mampu mengangkat air hingga ke permukiman yang berada di bagian paling tinggi. Akibatnya, masyarakat mengandalkan air hujan dan harus membeli air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama kemarau.
Dalam kurun waktu sekitar tiga bulan, satu keluarga dapat membeli hingga 18 tangki air bersih dengan harga sekitar Rp150 ribu per tangki. “Biasanya dalam tiga bulan masyarakat bisa membeli sekitar 18 tangki air. Kalau musim kemarau berlangsung sampai enam bulan, bisa dihitung sendiri berapa kebutuhan air dan biaya yang harus dikeluarkan,” kata Warga Dusun Sawah, Kiai Seno.
Sementara itu, hujan di kawasan tersebut relatif hanya berlangsung sekitar empat bulan dalam setahun. Kondisi ini membuat masyarakat harus mampu menyimpan air hujan untuk memenuhi kebutuhan selama musim kering yang berlangsung lebih panjang.
Masjid Tidak Hanya untuk Ibadah
Berangkat dari persoalan tersebut, DPW LDII DIY mendorong pengembangan masjid sebagai bagian dari solusi ketahanan air masyarakat. Konsep yang dikembangkan adalah menjadikan masjid tidak hanya sebagai pusat ibadah dan kegiatan sosial, tetapi juga sebagai tempat “menabung” air atau bank air masyarakat. Bagian bawah bangunan masjid dirancang sebagai bak penampungan air berkapasitas besar. Sementara bagian atas tetap digunakan sebagai tempat ibadah, musyawarah dan kegiatan masyarakat.
Ketua DPW LDII Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sekaligus akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM), Atus Syahbudin, mengatakan masyarakat perlu mulai mengubah pola pikir dalam menghadapi persoalan kekeringan. Menurutnya, masyarakat tidak cukup hanya menunggu bantuan distribusi air ketika kemarau datang, tetapi perlu membangun kemampuan untuk memanen dan menyimpan air ketika musim hujan.
“Yang paling penting adalah menabung air. Kita perlu memiliki bak yang lebar dan bertingkat agar air hujan yang tersedia selama musim penghujan bisa disimpan untuk memenuhi kebutuhan selama enam bulan musim kemarau,” kata Atus.
Menurut Ketua Departemen Penelitian dan Pengembangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan (LISDAL ) DPP LDII, pengembangan bank air harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan setempat. Kawasan perbukitan Saptosari yang memiliki tanah berbatu dan relatif stabil dinilai memungkinkan pembangunan bak air permanen yang terintegrasi dengan bangunan.”Kalau diperlukan, masyarakat juga dapat memikirkan penyediaan atau penyewaan lahan untuk membangun bank air berpola bertingkat. Prinsipnya adalah bagaimana air hujan yang tersedia dalam jumlah besar pada musim penghujan tidak hilang begitu saja,” ujarnya.
Masjid Mulai Siapkan Cadangan Air
Gagasan tersebut mulai diwujudkan di sejumlah masjid se-DPD LDII Gunungkidul. Masjid Al-Fattah yang berada di bawah naungan PC LDII Saptosari saat ini telah memiliki dua bak penampungan air. Masing-masing bak mampu menampung sekitar 15.000 liter air. Total kapasitas penyimpanan mencapai sekitar 30.000 liter atau setara enam tangki air berkapasitas 5.000 liter. Cadangan air tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat ketika pasokan air bersih mengalami keterbatasan selama musim kemarau.
Sementara itu, Masjid Baitusallam tengah mengembangkan pembangunan bak air dengan ukuran sekitar 5 meter x 8 meter dan tinggi kurang lebih 4,5 meter. Bak tersebut dirancang sebagai bagian terintegrasi dari bangunan masjid. Bagian bawah bangunan dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan air, sedangkan bagian atas tetap digunakan untuk kegiatan ibadah dan musyawarah masyarakat. Model ini dinilai menjadi salah satu alternatif pemanfaatan fasilitas sosial dan keagamaan untuk menjawab persoalan lingkungan yang dihadapi masyarakat.
Dari Bantuan Air Menuju Kemandirian Air
Sebelumnya, masyarakat di Kapanewon Saptosari telah memperoleh Program Peningkatan Konsumsi Air Kesehatan (PKAK) melalui penyediaan sarana Pemanenan Air Hujan (PAH). Namun, kebutuhan air dalam jangka panjang, terutama ketika musim kemarau berlangsung hingga sekitar enam bulan, tetap membutuhkan solusi penyimpanan air dengan kapasitas lebih besar. LDII DIY kemudian mencoba mengembangkan pendekatan berbasis modal lokal dengan mengoptimalkan bangunan komunal, terutama masjid, sebagai pusat cadangan air masyarakat. Konsep tersebut tidak hanya menempatkan air sebagai kebutuhan individual setiap rumah tangga, tetapi juga sebagai sumber daya yang dapat dikelola secara bersama-sama.
Atus mengatakan persoalan kekeringan di kawasan karst dan perbukitan tidak cukup diselesaikan dengan distribusi air menggunakan mobil tangki. Masyarakat juga perlu diperkuat kemampuannya dalam memanen, menyimpan dan mengelola air hujan. “Kalau selama musim penghujan kita tidak menyiapkan tempat untuk menyimpan air, maka ketika kemarau datang masyarakat akan kembali bergantung pada pembelian air. Karena itu, air harus mulai dipandang sebagai tabungan bersama,” katanya.
Pengelolaan air secara kolektif tersebut juga sejalan dengan pengembangan karakter luhur LDII, khususnya nilai rukun, kompak dan mampu bekerja sama dalam kehidupan bermasyarakat.

Melanjutkan Inovasi Lingkungan LDII DIY
Pengembangan bank air masjid di Gunungkidul merupakan bagian dari berbagai inisiatif lingkungan yang sebelumnya telah dikembangkan LDII DIY. Di Padukuhan Sangurejo, Kalurahan Wonokerto, Kapanewon Turi, Sleman, LDII DIY bersama masyarakat telah mengembangkan berbagai kegiatan konservasi air melalui Program Kampung Iklim (ProKlim). Kegiatan tersebut meliputi pembangunan biopori, rorak, jugangan, kolam ikan hingga instalasi pemanenan air hujan.
Inovasi pemanfaatan air hujan juga telah diterapkan di Gedung Serbaguna Mantrijeron, Kota Yogyakarta. Air hujan yang jatuh di atap bangunan dipanen dan dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, termasuk air wudhu dan fasilitas umum. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari pembelajaran dalam mengembangkan sistem pemanenan air di wilayah lain dengan karakter persoalan lingkungan yang berbeda.
Masjid sebagai Pusat Ketahanan Lingkungan
Atus menilai masjid memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai pusat ketahanan lingkungan masyarakat. Selain memiliki bangunan permanen dan atap yang dapat digunakan sebagai area tangkapan air hujan, masjid juga menjadi salah satu pusat aktivitas masyarakat. Dengan demikian, upaya konservasi air dapat dikembangkan sekaligus menjadi gerakan bersama. “Masjid memiliki potensi untuk menjadi pusat ketahanan masyarakat. Salah satunya melalui pengelolaan air. Ketika masyarakat datang beribadah, sekaligus ada edukasi tentang bagaimana menjaga, menghemat dan menabung air,” ujarnya.
Model bank air berbasis masjid tersebut diharapkan dapat dikembangkan di wilayah lain yang menghadapi persoalan serupa, khususnya kawasan yang mengalami keterbatasan akses air bersih pada musim kemarau. Inisiatif tersebut juga memiliki keterkaitan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 6 tentang air bersih dan sanitasi, SDG 11 tentang permukiman yang tangguh dan berkelanjutan, serta SDG 13 mengenai aksi terhadap perubahan iklim. Bagi LDII DIY, pengembangan bank air masjid menjadi bagian dari upaya menghadirkan aksi lingkungan yang sesuai dengan persoalan dan potensi lokal.
Dari Sangurejo di lereng Merapi, kawasan perkotaan Mantrijeron, hingga perbukitan kering di Gunungkidul, pendekatan yang dibangun memiliki semangat yang sama, yakni memperkuat kemampuan masyarakat menghadapi persoalan lingkungan melalui aksi nyata. Di Dusun Sawah, Saptosari, gagasan itu diterjemahkan secara sederhana. Ketika hujan datang, air tidak hanya dibiarkan mengalir pergi. Air dipanen, ditampung dan disimpan. Kemudian, ketika kemarau panjang datang, masyarakat memiliki cadangan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Masjid pun tidak hanya menjadi tempat masyarakat beribadah, tetapi perlahan dikembangkan menjadi bagian dari infrastruktur ketahanan air masyarakat Gunungkidul.















