Bengkulu (8/9). Sebanyak 110 kader Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) dari berbagai daerah di Provinsi Bengkulu mengikuti “Pelatihan Jurnalistik Mahir Dasar LDII News Network” untuk memperkuat kemampuan memproduksi informasi yang akurat, berimbang, dan bertanggung jawab. Pelatihan yang digelar pada 4-6 September 2026 tersebut, juga menjadi upaya LDII menghadapi derasnya arus informasi di era post-truth, ketika hoaks, fitnah, dan disinformasi mudah menyebar melalui media digital.
Ketua DPP LDII, Rulli Kuswahyudi mengatakan jurnalis dan pengelola informasi memiliki peran strategis dalam membantu masyarakat memilah informasi di tengah tingginya konsumsi berita melalui media sosial. Menurutnya, kecenderungan publik lebih tertarik pada informasi yang mengandung konflik, kontroversi, dan sensasi menjadi tantangan bagi media untuk tetap berpegang pada prinsip jurnalistik.
“Di era post-truth ini berlaku lagi bad news is good news. Orang berbuat baik itu biasa-biasa saja, tetapi ketika ada orang berbuat jelek atau berbuat sensasi, itu justru menjadi berita yang viral,” kata Rulli.
Ia menilai informasi yang tidak utuh dan tidak berimbang dapat membentuk persepsi keliru hingga menimbulkan stigma terhadap individu maupun kelompok. Kondisi tersebut semakin rentan terjadi ketika potongan video atau informasi di media sosial disebarkan tanpa konteks yang lengkap. “Banyak isu yang kita jumpai dan viral di media sosial, padahal kenyataannya tidak seperti yang terlihat dalam video-video yang bertebaran. Karena itu, kita harus mampu memberikan informasi yang benar agar masyarakat mendapatkan gambaran yang utuh dan tidak terjebak pada informasi yang keliru,” ujarnya.
Rulli mendorong generasi penerus LDII di Bengkulu tidak berhenti sebagai konsumen informasi, tetapi turut menjadi produsen konten yang positif, faktual, dan dapat dipertanggungjawabkan. Menurutnya, kemampuan memeriksa fakta, melakukan verifikasi, menyajikan informasi secara berimbang, dan memahami Kode Etik Jurnalistik menjadi semakin penting seiring terbukanya ruang bagi siapa pun untuk memproduksi serta menyebarkan informasi.

Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan pembekalan mengenai prinsip dasar jurnalistik, verifikasi informasi, penulisan berita berimbang, membuat video dan konten yang baik. Rulli berharap keterampilan tersebut dapat diterapkan dalam aktivitas publikasi LDII, baik melalui media internal maupun media sosial, sehingga berbagai program, kegiatan, dan kontribusi organisasi dapat disampaikan secara menarik sekaligus memberikan manfaat kepada masyarakat.
“Ilmu jurnalistik yang diberikan tentunya berdasarkan kode etik jurnalistik dalam memberitakan semua berita. Mudah-mudahan ilmu ini bermanfaat dan dapat diterapkan oleh generasi penerus LDII di Bengkulu,” pungkasnya.
Ketua DPW LDII Provinsi Bengkulu, Meri Sasdi, mengatakan pelatihan juga diarahkan untuk meningkatkan kapasitas kader dalam bidang jurnalistik sekaligus memperkuat kolaborasi dengan insan pers dan pemerintah daerah. Kegiatan tersebut mendapat dukungan Pemerintah Provinsi Bengkulu dan menjadi bagian dari sinergi dalam penyebarluasan informasi pembangunan serta kegiatan kemasyarakatan.
“Kami sangat bersyukur kegiatan ini mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Bengkulu. Tadi sekaligus kita melakukan Perjanjian Kerja Sama dengan Dinas Komunikasi, Informasi dan Statistika Pemprov Bengkulu tentang bagaimana memperkuat sinergi dalam hal pemberitaan dan informasi,” ujar Meri Sasdi.
Meri menegaskan, kolaborasi tersebut tidak hanya diarahkan untuk memberitakan kegiatan dakwah LDII, tetapi juga mendukung penyebarluasan berbagai program pemerintah dan kegiatan kemasyarakatan di Provinsi Bengkulu. Ia berharap kader yang mengikuti pelatihan mampu menghasilkan konten yang informatif, menyejukkan, dan memotivasi masyarakat.
“Bukan hanya dalam hal dakwah, tetapi bagaimana memberitakan program-program pemerintah dan program umat manusia di Provinsi Bengkulu ini dalam rangka menghadirkan keberkahan dan kehidupan yang tenang,” pungkasnya.














