Jakarta (15/9). Hari Kunjung Perpustakaan tidak cukup dimaknai sebagai ajakan masyarakat datang dan membaca buku. Di tengah banjir informasi digital, perpustakaan perlu bertransformasi menjadi ruang yang membantu masyarakat menguji informasi, berpikir kritis, berdiskusi, sekaligus membangun komunitas.
Ketua Majelis Pakar DPP LDII, Sudarsono, mengatakan tantangan literasi saat ini bukan lagi sekadar kemampuan membaca, melainkan kemampuan menyaring dan menimbang informasi sebelum mempercayainya. Menurutnya, masyarakat menghadapi persoalan mudah percaya, minim verifikasi, kesenjangan antara literasi digital dan kemampuan bernalar, kelelahan informasi, serta melemahnya budaya diskusi.
“Di tengah banjir informasi, masalah utamanya bukan tidak bisa baca, tetapi tidak bisa menyaring dan menimbang,” ujar Sudarsono yang juga Guru Besar Fakultas Pertanian IPB.
Ia menjelaskan, perkembangan media sosial membuat masyarakat kerap bereaksi lebih cepat daripada melakukan verifikasi terhadap sumber informasi. Kondisi tersebut diperparah dengan derasnya arus informasi yang membuat masyarakat tidak memiliki cukup waktu dan energi untuk melakukan cek silang.
Karena itu, Sudarsono mendorong perpustakaan tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat meminjam dan menyimpan buku. Perpustakaan, menurutnya, perlu menjadi “arena olahraga untuk otak” yang melatih masyarakat menggunakan informasi secara kritis.
“Perpustakaan yang bagus ke depan bukan yang bukunya paling banyak, tetapi yang warganya paling kritis setelah keluar dari perpustakaan,” katanya.
Ia mengusulkan perpustakaan dikembangkan sebagai pusat verifikasi dan tabayyun warga. Salah satunya melalui penyediaan meja cek fakta, pelatihan antihoaks, pojok jurnalisme warga, hingga forum yang mempertemukan masyarakat dengan ahli untuk membedah isu berdasarkan data.
Selain itu, perpustakaan dapat menjadi laboratorium berpikir melalui kegiatan debat buku, bedah isu, kuis, podcast, maupun kegiatan yang melatih anak muda menggunakan pendekatan 5W+1H sebelum mempercayai informasi di media sosial. Ruang digital detox juga dapat disediakan agar pengunjung memiliki kesempatan membaca, berdiskusi, dan melatih logika tanpa terdistraksi gawai.
Menurut Sudarsono, perubahan fungsi perpustakaan juga harus berjalan beriringan dengan penguatan literasi di lingkungan terkecil. Keluarga, masjid, pesantren, dan komunitas perlu menjadi bagian dari ekosistem literasi sehingga budaya membaca tidak berhenti sebagai program seremonial.
“Literasi tidak akan hidup kalau cuma diajarkan di perpustakaan satu kali dalam setahun. Literasi harus menjadi kebiasaan harian di lingkungan terkecil,” tuturnya.
Ia menilai keluarga dapat menjadi “perpustakaan pertama” bagi anak dengan menyediakan sudut baca sekaligus membangun budaya dialog. Orang tua tidak cukup memerintahkan anak membaca, tetapi perlu memberikan teladan dan membiasakan anak bertanya serta berdiskusi.
Dalam konteks tersebut, Hari Kunjung Perpustakaan perlu ditindaklanjuti dengan kebiasaan yang berlangsung sepanjang tahun. Sudarsono mencontohkan gerakan membaca 15 menit setiap hari lebih penting daripada sekadar menggelar pekan literasi, karena kebiasaan kecil yang dilakukan berulang dapat membentuk budaya.
“Bagi LDII, literasi bukan hanya proyek perpustakaan, tetapi proyek peradaban. Peradaban tidak hanya dibangun di perpustakaan, tetapi dari rumah yang penghuninya kritis berdiskusi, masjid yang jamaahnya berpikir, dan pondok pesantren yang santrinya mempunyai rujukan,” jelasnya.
Di sisi lain, Sudarsono menilai perpustakaan juga harus memahami perubahan karakter generasi muda yang tumbuh bersama teknologi digital. Anak muda saat ini dinilai tidak kekurangan informasi, tetapi membutuhkan ruang, teman berdiskusi, dan alasan untuk datang ke perpustakaan.
“Anak muda tidak meninggalkan buku, tetapi mereka meninggalkan tempat yang membosankan,” ujarnya.
Menurutnya, perpustakaan dapat dikembangkan sebagai third place atau ruang ketiga yang nyaman, gratis, dan produktif. Fasilitas seperti WiFi, ruang diskusi, ruang kreatif, co-working space, podcast, hingga komunitas dapat membuat perpustakaan menjadi tempat bertemu sekaligus belajar.
Perubahan tersebut juga dapat dilakukan dengan menghadirkan koleksi buku melalui pendekatan yang lebih dekat dengan budaya digital. Misalnya, setiap buku dilengkapi QR code berisi ulasan singkat, dibuat menjadi konten media sosial, atau dibahas dalam video berdurasi pendek yang diproduksi bersama anak muda.
Perpustakaan juga dapat menggelar bedah isu yang dekat dengan kehidupan generasi muda, seperti kecerdasan buatan, skripsi, ekonomi digital, maupun persoalan sosial. Kegiatan tersebut dapat menggabungkan buku, data, narasumber, dan pengalaman peserta sehingga pengetahuan tidak berhenti pada ceramah.
“Perpustakaan perlu berubah dari koleksi ke koneksi. Bukan hanya menjual buku, tetapi menjual rasa penasaran anak muda yang terjawab,” kata Sudarsono.
Ia menambahkan, perpustakaan masa depan perlu mengubah orientasi dari sekadar membuat program menjadi membangun platform yang berkelanjutan. Forum rutin seperti diskusi mingguan dengan topik dan narasumber yang berganti dinilai lebih berpotensi membangun komunitas dibandingkan kegiatan yang hanya berlangsung sekali.
Dengan transformasi tersebut, perpustakaan diharapkan tidak hanya menjadi tempat memperoleh informasi, tetapi juga ruang membangun nalar, keterampilan, jejaring, dan pengalaman. Hari Kunjung Perpustakaan pun dapat menjadi pintu masuk untuk membangun budaya literasi yang hidup di tengah keluarga dan masyarakat.














