Yogyakarta (14/10). Prof. Muhammad kembali memimpin Pengurus Wilayah Dewan Masjid Indonesia (PW DMI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk masa khidmat 2026–2031. Musyawarah Wilayah (Muswil) PW DMI DIY menetapkan keputusan tersebut di Aula Gedung DPD RI DIY, Sabtu (26/9/2026).
Sekitar 100 peserta menghadiri Muswil yang melibatkan Pengurus Pusat DMI, pengurus wilayah dan daerah, pengelola masjid raya dan masjid agung, serta perwakilan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM). Sekretaris DPW LDII DIY, Gathot Wardoyo, turut hadir mewakili LDII DIY.
Muswil mengusung tema “Penguatan Peran Masjid Berbasis Budaya dan Digital untuk Pemberdayaan Ekonomi Umat dan Kemandirian Peradaban di Yogyakarta”. Forum ini mengevaluasi kepengurusan periode 2021–2026 sekaligus merumuskan program strategis untuk lima tahun berikutnya.
Ketua Panitia Muswil PW DMI DIY, Harsoyo, mengatakan forum tersebut menjadi ruang evaluasi sekaligus penyusunan agenda organisasi. Program mendatang akan berfokus pada penguatan peran masjid di bidang sosial, ekonomi, dan pemberdayaan umat.
“Muswil ini menjadi kesempatan untuk menyusun program strategis lima tahun ke depan. Kami ingin memperkuat kontribusi masjid dalam menjawab kebutuhan masyarakat,” kata Harsoyo.
Pembukaan Muswil dilakukan oleh Gubernur DIY yang diwakili Kepala Bagian Bina Mental Spiritual Biro Kesejahteraan Rakyat, Tri Sumardiyati. Ia menekankan peran masjid dalam membangun kehidupan sosial masyarakat melalui budaya gotong royong, pembinaan budi pekerti, dan pemanfaatan teknologi.
Ia mengatakan pemerintah daerah juga mendorong masjid berkontribusi dalam menjaga Yogyakarta tetap aman dan kondusif. Peran tersebut dinilai penting bagi DIY sebagai daerah tujuan wisata budaya yang dikunjungi masyarakat dari berbagai wilayah dan negara.
Sementara itu, Sekretaris LDII DIY, Gathot Wardoyo mengapresiasi penyelenggaraan Muswil tersebut. Ia berharap kepengurusan DMI DIY periode 2026–2031 memperluas kerja sama dengan organisasi kemasyarakatan, termasuk LDII, dalam mengembangkan fungsi masjid.
“Kolaborasi antarlembaga penting agar masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pendidikan karakter, pemberdayaan ekonomi, dan kepedulian lingkungan,” kata Gathot.
Ia menjelaskan, LDII menjalankan tiga program yang mendukung pengembangan masjid. Program pertama ialah Green Mosque, yang mendorong pengelolaan masjid ramah lingkungan melalui efisiensi energi dan pengelolaan sampah.
Program kedua menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan Sako Pramuka Sekawan Persada Nusantara (SPN). Kegiatan ini diarahkan untuk membentuk karakter generasi muda yang religius dan memiliki jiwa kepemimpinan.
Program ketiga berupa pemanfaatan air hujan atau rainwater harvesting untuk kebutuhan wudu dan operasional masjid. Upaya tersebut mendukung konservasi air tanah sekaligus mendorong penggunaan sumber daya secara bijak.
“Masjid di Yogyakarta bisa mengembangkan budaya lokal, memanfaatkan teknologi digital untuk menjangkau generasi muda, serta memperkuat kemandirian ekonomi dan kepedulian lingkungan. Program-program ini menjadi bagian dari kontribusi LDII yang sejalan dengan upaya DMI,” ujar Gathot.














