Jakarta (8/10). DPP LDII menghadiri peluncuran “Panduan Masjid sebagai Pusat Ketahanan Iklim Berbasis Komunitas” yang digelar Ummah for Earth-Greenpeace Indonesia bersama Kader Hijau Muhammadiyah, EcoMasjid, DMC Dompet Dhuafa, dan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) di Aula Ar-Razaq Masjid Istiqlal, Jakarta, pada Rabu (7/10/2026).
Country Director Greenpeace Indonesia Danang Prasetiyo mengatakan, masjid memiliki posisi strategis karena menjadi ruang berkumpul masyarakat sekaligus simbol harapan ketika bencana terjadi. “Kami mendorong masjid tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga berperan dalam membangun ketahanan masyarakat menghadapi perubahan iklim dan bencana,” ungkapnya.
Menurutnya, gerakan ketahanan iklim dapat dimulai dari masjid dengan memperkuat jaringan komunitas di sekitarnya. “Ketika musim hujan, banjir terjadi di mana-mana. Masjid selalu menjadi simbol harapan. Karena itu, kami melihat masjid bisa menjadi awal dari gerakan untuk memperkuat komunitas,” ujarnya.
Ia menjelaskan, setiap wilayah memiliki tingkat kerentanan yang berbeda, mulai dari banjir, kekeringan hingga kebakaran hutan. Karena itu, pengelola masjid perlu terlebih dahulu mengenali dan memetakan risiko di wilayah masing-masing sebelum menentukan langkah penanganannya.
“Masjid bisa menjadi tempat berkumpul untuk bersama-sama mengidentifikasi risiko dan mencari solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat,” ungkapnya.
Ia menilai, peran organisasi kemasyarakatan (Ormas) Islam seperti LDII juga sangat penting dalam memperluas gerakan tersebut. “Dengan jumlah masjid yang sangat besar dan jaringan organisasi hingga tingkat lokal, masjid memiliki potensi besar untuk menjadi titik awal gerakan ketahanan iklim berbasis komunitas,” tutupnya.
Sementara itu, Ketua DPP LDII Dwi Pramono menyambut baik upaya tersebut. Ia menilai, masjid memiliki peran sentral yang tidak hanya berkaitan dengan ibadah, tetapi juga dapat menjadi sarana edukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan.
“Ibadah bukan hanya salat, puasa, atau membaca Al-Quran. Menjaga lingkungan juga merupakan bagian dari ibadah. Di sinilah peran para khatib dan ustaz untuk menyampaikan pentingnya menjaga lingkungan kepada masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, pesan mengenai kepedulian lingkungan dapat disampaikan secara berkelanjutan karena masyarakat berkumpul di masjid setiap hari. Ia juga menyebut, berbagai kegiatan lingkungan yang telah dilakukan di lingkungan LDII, seperti bersih-bersih masjid dan lingkungan, perawatan tanaman, hingga pengembangan eco-pesantren di sejumlah pondok pesantren.

“Di Ponpes Minhaajurrosyidin, Jakarta, saat ini telah menerapkan eco-pesantren dan urban farming sebagai ketahanan ekonomi. Memang belum mencukupi seluruh kebutuhan pesantren, tetapi setidaknya sudah mulai bergerak. Fa inna fil harakah al barakah, bergeraklah, karena di dalam gerakan terdapat keberkahan,” tutupnya.
Dalam kesempatan yang sama, Subdit Kemasjidan Direktorat Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama RI, Nasrullah, mengatakan gagasan menjadikan masjid sebagai pusat ketahanan iklim sejalan dengan kebijakan pemerintah, khususnya melalui penguatan ekoteologi
Menurutnya, ekoteologi menghubungkan pemahaman agama dengan kepedulian terhadap lingkungan. Semakin baik pemahaman keagamaan seseorang, kata dia, semestinya semakin kuat pula kepeduliannya terhadap kelestarian lingkungan.
“Ajaran tentang pelestarian lingkungan, pencegahan kerusakan alam, dan mitigasi bencana merupakan bagian dari upaya meningkatkan pemahaman sekaligus pengamalan nilai-nilai agama,” ujarnya.
Ia mengatakan, Kemenag siap memperkuat kolaborasi dengan komunitas dan organisasi masyarakat dalam mengembangkan masjid sebagai pusat ketahanan iklim. “Jaringan Kemenag di daerah, mulai dari kantor wilayah, kantor Kemenag kabupaten/kota hingga Kantor Urusan Agama (KUA), dapat dioptimalkan untuk mendukung gerakan ini,” ungkapnya.
Ia menilai, potensi masjid sangat besar untuk mendukung agenda tersebut. Dengan sekitar 317 ribu masjid yang tersebar di 38 provinsi, penguatan masjid sebagai pusat ketahanan iklim dapat dilakukan secara bertahap, mulai dari peningkatan sumber daya manusia hingga penguatan kelembagaan.
“Kami juga dapat menjadi penghubung atau mediator untuk mempertemukan berbagai pihak, termasuk kementerian dan lembaga terkait, sehingga kolaborasi dalam menjadikan masjid sebagai pusat ketahanan iklim dan bencana dapat semakin kuat,” pungkasnya.















