Gunungkidul (14/10). Satuan Komunitas (Sako) Pramuka Sekawan Persada Nusantara (SPN) Daerah Istimewa Yogyakarta menutup Kemah Santri ke-4 di Pondok Pesantren Al-Hadi, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Minggu (27/9/2026). Kegiatan selama tiga hari ini diikuti santri dari sembilan pondok pesantren se-DIY dengan tema “Peran Santri di Era Digital Membumikan 29 Karakter Luhur”.
Ketua Sako SPN DIY, Sarjita, memimpin upacara penutupan setelah para peserta mengikuti rangkaian kegiatan sejak Jumat (25/9/2026). Perkemahan ini menjadi wadah pembinaan kepramukaan, kemandirian, dan karakter santri melalui aktivitas di luar lingkungan pondok pesantren.
Dalam amanatnya, Sarjita meminta peserta menerapkan pelajaran selama perkemahan dalam kehidupan sehari-hari. Ia menekankan pentingnya pengendalian diri dan kemampuan beradaptasi saat santri menghadapi lingkungan sosial yang lebih luas.
“Selama perkemahan, para santri mengikuti berbagai kegiatan bersama. Kami berharap pengalaman itu menjadi pelajaran untuk melatih kemandirian, kedisiplinan, dan kemampuan bekerja sama ketika mereka kembali ke pondok pesantren maupun lingkungan masyarakat,” ujar Sarjita.
Ia juga mengingatkan peserta untuk mempraktikkan 29 Karakter Luhur, bukan sekadar memahami konsepnya. Nilai-nilai tersebut perlu diterapkan melalui perilaku sehari-hari, termasuk dalam berinteraksi dengan teman, pengajar, keluarga, dan masyarakat.
“Pendidikan karakter perlu dibuktikan melalui kebiasaan sehari-hari. Santri diharapkan mampu menjaga perilaku, menghormati orang lain, bertanggung jawab, dan menjadi teladan di lingkungan masing-masing,” katanya.
Ketua DPD LDII Kabupaten Gunungkidul, Wahono Budi Rustanto, turut memberikan perhatian terhadap pembinaan santri melalui kegiatan kepramukaan. Menurutnya, perkemahan dapat menjadi sarana untuk melatih kemandirian, memperkuat hubungan antarsantri, dan membiasakan penerapan nilai-nilai luhur.
Ia berharap pembinaan karakter tetap berlanjut setelah kegiatan berakhir. Para santri perlu membawa kebiasaan positif dari perkemahan ke lingkungan pondok pesantren dan kehidupan bermasyarakat.














