Bandung (20/10). DPW LDII Jawa Barat (Jabar) menegaskan komitmennya untuk memperkuat sinergi dengan Kepolisian Daerah (Polda) Jabar. Untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, mencegah konflik sosial, serta memperkuat moderasi beragama.
Komitmen tersebut disampaikan saat Irjen Pol. Hengki, menerima tongkat kepemimpinan dari Irjen Pol. Pipit Rismanto pada Selasa (13/10/2026). Dalam acara pisah sambut pimpinan Polda Jabar itu, Sekretaris DPW LDII Jawa Barat, Oos Koswara, menyampaikan apresiasi atas pengabdian Pipit Rismanto selama memimpin Polda Jabar.
Menurutnya, kemitraan antara kepolisian dan organisasi kemasyarakatan perlu terus dijaga melalui dialog kebangsaan, kegiatan sosial, dan komunikasi yang terbuka. Ia berharap hubungan baik yang telah terbangun dapat berlanjut di bawah kepemimpinan Kapolda yang baru.
“Di bawah kepemimpinan Pak Pipit, kemitraan antara aparat kepolisian dan ormas terjalin harmonis melalui berbagai dialog kebangsaan dan kegiatan sosial kemasyarakatan,” ujar Oos.
Oos juga mengucapkan selamat bertugas kepada Hengki dan berharap kepemimpinan baru dapat melanjutkan program yang bermanfaat sekaligus memperkuat pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Jawa Barat. Menurutnya, kompleksitas persoalan sosial di provinsi dengan jumlah penduduk besar tersebut membutuhkan kerja sama antara aparat keamanan, pemerintah, tokoh agama, dan organisasi kemasyarakatan.
Sementara itu, Kapolda Jabar Irjen Pol. Hengki menegaskan komitmennya untuk melakukan konsolidasi internal dan menjaga kesinambungan program kepolisian. Ia juga menyatakan akan mengevaluasi aspek-aspek yang masih memerlukan perbaikan agar kinerja jajaran tetap sejalan dengan kebijakan Kapolri.
“Saya berkomitmen untuk melanjutkan program-program yang telah memberikan manfaat, membenahi hal-hal yang masih memerlukan perbaikan, serta memastikan langkah seluruh jajaran selaras dengan arah kebijakan Kapolri,” kata Hengki.
Bagi LDII Jawa Barat, kolaborasi dengan kepolisian merupakan bagian dari kontribusi organisasi dalam menciptakan lingkungan yang aman dan harmonis. Oos menilai tokoh agama dan pendakwah memiliki peran strategis dalam menyampaikan pesan persatuan, kepatuhan terhadap hukum, serta pencegahan konflik hingga tingkat masyarakat paling bawah.
Ia menegaskan LDII siap memperkuat koordinasi melalui struktur organisasi mulai dari DPW, DPD kabupaten/kota, PC tingkat kecamatan, hingga PAC tingkat desa atau kelurahan, “Sinergi antara pimpinan kepolisian dan tokoh agama menjadi salah satu pilar utama pencegahan konflik sosial. Tokoh agama dan dakwah memiliki peran strategis sebagai penyambung lidah pesan-pesan persatuan dan ketertiban hingga ke lapisan masyarakat paling bawah,” jelasnya.
Selain kamtibmas, LDII Jawa Barat menempatkan moderasi beragama sebagai salah satu perhatian dalam membangun kehidupan masyarakat yang rukun. Moderasi beragama mendorong umat menjalankan keyakinannya dengan baik sekaligus menghormati perbedaan, menjaga martabat manusia, dan menghindari kekerasan dalam menyikapi perbedaan. Menurut Oos, upaya ini memerlukan keterlibatan berbagai pihak untuk mencegah berkembangnya intoleransi dan narasi ekstremisme yang berpotensi memicu gesekan sosial.
“Jawa Barat adalah daerah yang kaya akan keberagaman entitas budaya, suku, dan paham keagamaan. Namun, potensi kerawanan gesekan sosial atau penyebaran intoleransi dan narasi ekstremisme masih menjadi tantangan yang memerlukan perhatian kolektif,” pungkas Oos.
Kegiatan tersebut dihadiri Gubernur Jawa Barat, unsur Forkopimda Jawa Barat, Kapolda Banten, Wakapolda Jawa Barat, para pejabat utama Polda Jawa Barat dan Kabinda. Hadir pula pimpinan BNN, para Kapolres jajaran Polda Jawa Barat, wali kota dan bupati se-Jawa Barat, serta tokoh agama, tokoh masyarakat dan pimpinan ormas.















