Serang (23/10). DPW LDII Banten menghadiri Dialog Kerukunan Umat Beragama yang digelar Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Banten bersama Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Banten. Kegiatan yang berlangsung di Hotel Wisata Baru, Kota Serang, Selasa (29/9/2026) itu dihadiri pengurus FKUB Banten, F-GEMA KUB, FPKUB, FMKUB, serta pimpinan ormas keagamaan lintas agama.
Ketua DPW LDII Banten, Dimo Tono Sumito, mengatakan LDII berkomitmen mendukung penguatan moderasi beragama. Menurutnya, dialog lintas agama menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk merawat harmoni di tengah keberagaman masyarakat. “DPW LDII Banten akan terus mendorong moderasi beragama sebagai pondasi terciptanya kehidupan masyarakat yang rukun, damai, dan harmonis,” ujarnya.
Dialog yang mengusung semangat merawat harmoni di tengah keberagaman ini dibuka Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Banten, Novriyadi Purwansyah. Sejumlah organisasi yang hadir di antaranya DPW LDII Banten, PWNU Banten, PW Muhammadiyah Banten, PGIW Banten, PHDI Banten, Walubi Banten, Matakin Banten, Forpijak Banten. Hadir pula tokoh agama dan tokoh masyarakat.
Ketua FKUB Banten, A.M. Romly, dalam sambutannya menegaskan bahwa kerukunan umat beragama merupakan fondasi utama dalam menjaga stabilitas dan ketenteraman masyarakat. “Keberagaman yang ada di Provinsi Banten adalah kekuatan yang harus terus dirawat. Melalui dialog kerukunan ini, kita berharap terbangun komunikasi yang sehat serta semangat kebersamaan antarumat beragama,” ungkapnya.
Sementara itu, Novriyadi Purwansyah menekankan pentingnya komitmen bersama menjaga harmoni di tengah keberagaman yang tinggi. Ia juga mengapresiasi sinergi yang terbangun antara pemerintah dan tokoh lintas agama. “Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mempererat persaudaraan antar umat beragama, saling menghargai, serta bersama-sama membangun visi demi terciptanya kerukunan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Hadir sebagai narasumber, Ketua F-GEMA KUB, Samsul Hidayat, menegaskan bahwa moderasi beragama harus diwujudkan dalam sikap saling menghormati, dialog terbuka, serta komitmen menolak intoleransi dan kekerasan atas nama agama. “Dialog lintas umat beragama seperti ini sangat penting untuk memperkuat rasa saling percaya. Dengan komunikasi yang baik, potensi gesekan dapat dicegah sejak dini,” tuturnya.
Melalui dialog tersebut, para peserta menegaskan pentingnya menjaga kerukunan secara berkelanjutan. Upaya itu dapat dilakukan melalui komunikasi intensif, kerja sama sosial-keagamaan, serta pertukaran pengalaman antarorganisasi lintas agama.

