Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan.
Sebagian manusia ada yang bangga karena kekuasaan. Sebagian bangga karena kecerdasan. Ada juga yang bangga karena keturunan. Sebagian lagi bangga karena harta yang melimpah. Tetapi, para kekasih Allah memiliki kebanggaan yang berbeda. Mereka bangga bukan karena apa yang mereka miliki, melainkan karena kepada siapa mereka menghambakan diri. Mereka bangga karena Allah adalah Rabb mereka. Mereka bangga karena masih diberi kesempatan untuk bersujud.
Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, pernah berkata: “Cukuplah menjadi kemuliaan bagiku bahwa Engkau adalah Tuhanku, dan cukuplah menjadi kebanggaan bagiku bahwa aku adalah hamba-Mu.” (Doa yang masyhur dinukil dalam berbagai kitab hikmah) Kalimat ini begitu dalam. Ali tidak berkata: “Cukuplah kemuliaan bagiku bahwa aku sepupu Nabi.” Tidak pula: “Cukuplah kebanggaan bagiku bahwa aku khalifah.” Padahal beliau memiliki banyak alasan untuk berbangga. Beliau adalah sahabat utama. Pahlawan Islam. Menantu Rasulullah ﷺ. Orang yang dijanjikan surga. Namun semua itu seakan beliau singkirkan. Yang tersisa hanyalah satu identitas: Aku adalah hamba Allah. Inilah maqam yang dipahami para alim-faqih. Ketika manusia sibuk mencari kebesaran diri, mereka justru menemukan kebesaran dalam kehambaan.
Mengapa menjadi hamba Allah adalah kemuliaan tertinggi? Karena Allah sendiri memuliakan Rasul-Nya dengan gelar “hamba”. Saat peristiwa Isra’ Mi’raj, Allah berfirman:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا
“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam…” (QS. Al-Isra’: 1)
Perhatikan. Allah tidak mengatakan: “Memperjalankan nabi-Nya.” Tidak pula: “Memperjalankan rasul-Nya.” Tetapi: “hamba-Nya.” Seolah Allah mengajarkan bahwa gelar tertinggi seorang manusia adalah menjadi hamba yang sejati. Semakin sempurna kehambaan seseorang, semakin tinggi kedudukannya di sisi Allah.
Sujud adalah lambang kehambaan yang paling sempurna. Jika kehambaan memiliki bentuk, maka bentuknya adalah sujud. Saat berdiri, manusia masih tampak tegak. Saat rukuk, ia mulai merendah. Tetapi saat sujud, tidak ada lagi yang tersisa dari kesombongan. Dahi yang biasa diangkat tinggi kini menempel pada tanah. Wajah yang paling dimuliakan justru diletakkan pada tempat yang diinjak manusia. Di situlah rahasia sujud. Allah menghancurkan kesombongan untuk membangun kemuliaan yang hakiki.
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ.
“Keadaan paling dekat seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika ia sedang sujud, maka perbanyaklah doa.” (HR. Muslim)
Betapa agungnya hadits ini. Ternyata jarak terdekat antara bumi dan langit bukanlah gunung yang tinggi. Bukan pula menara yang menjulang. Tetapi dahi seorang mukmin yang menempel di atas tanah.
Orang yang mengenal Allah seperti ini tidak akan merasa hina ketika bersujud. Mengapa? Karena ia tahu kepada siapa ia sedang bersujud. Semakin seseorang mengenal kebesaran Allah, semakin ringan baginya untuk merendahkan diri. Sebaliknya, semakin besar ego seseorang, semakin sulit baginya untuk sujud dengan hati yang tulus. Karena itu Iblis gagal bukan karena tidak mengenal Allah. Ia gagal karena kesombongan. Sedangkan para wali Allah dimuliakan karena ketundukan.
Ibn Taymiyyah berkata: “Seorang hamba tidak akan lebih mulia daripada saat ia merealisasikan kehambaannya kepada Allah.”
Sedangkan Ibn al-Qayyim menjelaskan: “Dalam sujud terkumpul puncak kecintaan, ketundukan, kerendahan diri, dan pengagungan kepada Allah.”
Karena itu para alim-faqih sangat mencintai sujud. Mereka tidak menganggap sujud sebagai beban. Mereka menganggapnya sebagai tempat pulang. Tempat mengadu. Tempat menangis. Tempat mengembalikan segala urusan kepada Allah.
Renungkanlah. Ada orang yang hari ini terbaring sakit dan tidak mampu sujud. Ada orang yang sehat tetapi hatinya keras sehingga tidak mau sujud. Ada orang yang sudah berada di alam kubur dan berharap bisa kembali ke dunia hanya untuk satu rakaat shalat. Sedangkan kita masih diberi kesempatan. Masih mendengar adzan. Masih mampu meletakkan dahi di atas sajadah. Masih mampu berbisik: “Subhaana Rabbiyal A’laa…” Maka nikmat apa yang lebih besar daripada itu?
Ya Allah… Jika manusia bangga dengan dunia mereka, maka jadikan kami bangga karena menjadi hamba-Mu. Jika manusia merasa mulia karena kedudukannya, maka jadikan kami merasa mulia karena sujud kepada-Mu. Sebagaimana munajat Ali bin Abi Thalib: “Ilahi, cukuplah menjadi kemuliaan bagiku bahwa Engkau adalah Tuhanku. Dan cukuplah menjadi kebanggaan bagiku bahwa aku adalah hamba-Mu. Engkau sebagaimana yang aku cintai, maka jadikanlah aku sebagaimana yang Engkau cintai.”
Maka, selama Allah masih mengizinkan kita bersujud, jangan pernah merasa miskin, jangan pernah merasa hina, jangan pernah merasa kehilangan kemuliaan.
Sebab seorang hamba yang bersujud kepada Allah mungkin tidak dikenal oleh penduduk bumi, tetapi namanya viral di langit.













