Surabaya (24/6). DPD LDII Surabaya menggelar seminar rumah tangga bertajuk “Sehidup Se-Surga: Merajut Cinta, Menjaga Komitmen, Meraih Surga Bersama”. Kegiatan yang dihadiri 500 pasang suami-istri itu, dihelat di Gedung Serbaguna Sabilurrosyiddin, Surabaya, pada Minggu (21/6/2026).
Mereka yang hadirnya umumnya adalah sepasang suami istri usia pernikahan di bawah lima tahun, “Banyaknya konflik rumah tangga tidak semata dipicu oleh perbedaan karakter, tetapi juga oleh ketidaksiapan pasangan dalam mengelola harapan sejak awal pernikahan,” ungkap Ketua Biro Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Keluarga (PPKK) DPW LDII Jawa Timur, Sovia Sahid.
Ia menerangkan bekal utama dalam pernikahan adalah ekspektasi yang netral. Menurutnya, jangan membangun harapan yang terlalu tinggi terhadap pasangan, karena pernikahan adalah proses belajar dan bertumbuh bersama, “Perbedaan harapan antara suami dan istri sering kali menjadi sumber ketegangan dalam rumah tangga muda. Terkadang suami, kerap datang dengan ekspektasi peran domestik, sementara istri mengharapkan perhatian emosional yang lebih besar,” ujar Sovia.
Menurutnya tanpa komunikasi yang sehat, perbedaan ini mudah berkembang menjadi konflik berkepanjangan. Sovia yang berprofesi sebagai psikolog menekankan pentingnya kemampuan komunikasi yang sehat. Termasuk kebiasaan mendengar secara aktif dan memberi ruang bagi pasangan untuk mengekspresikan emosi, “Kebutuhan emosional seperti didengarkan dan dipahami sering kali lebih menentukan keharmonisan dibanding sekadar mencari siapa yang benar,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa pernikahan bukan ruang untuk mencari siapa yang paling benar, melainkan proses saling melengkapi antara dua individu yang terus belajar beradaptasi, “Pernikahan bukan tentang mencari pasangan yang sempurna, tetapi tentang dua orang yang mau belajar memahami, menerima, dan melengkapi satu sama lain,” katanya.

Sementara itu, Dewan Penasihat DPD LDII Surabaya, H. Mubin, menegaskan bahwa inti dari ketahanan rumah tangga terletak pada komunikasi. Ia menyebut jika komunikasi terjaga, banyak masalah bisa selesai sebelum menjadi konflik besar, “Banyak persoalan keluarga dapat dicegah sejak awal apabila pasangan memiliki kemauan untuk terbuka dan saling memahami,” ujarnya.
Mubin berharap para pasangan muda memiliki bekal yang lebih kuat dalam menghadapi dinamika rumah tangga di tengah meningkatnya tantangan perceraian pada usia pernikahan dini, “Tantangan ke depan tidak hanya terletak pada penguatan nilai-nilai, melainkan juga pada kebutuhan pendekatan edukasi yang lebih praktis dan relevan dengan realitas ekonomi serta psikologis pasangan muda di perkotaan,” tegasnya.
Peserta juga dibekali materi pengelolaan keuangan keluarga sebagai salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas rumah tangga. Materi tersebut menekankan pentingnya perencanaan, pengendalian pengeluaran, serta kesadaran finansial dalam menghadapi tekanan ekonomi keluarga muda.

