Jakarta (21/9). Meningkatnya kasus flu dan ramainya kunjungan pasien di sejumlah rumah sakit menjadi perhatian masyarakat. Epidemiolog Griffith University Dicky Budiman menjelaskan, peningkatan influenza memang terlihat dalam data pemantauan, tetapi belum menunjukkan Kejadian Luar Biasa (KLB) atau munculnya virus influenza baru.
Menurut Dicky, KLB merupakan kondisi ketika jumlah atau kejadian suatu penyakit meningkat secara tidak biasa dibandingkan kondisi yang lazim terjadi di suatu wilayah dan periode tertentu. Sementara itu, data yang tersedia saat ini menunjukkan peningkatan proporsi pemeriksaan yang positif influenza, sehingga perlu dibaca sesuai konteksnya.
Dicky menerangkan, data surveilans sentinel pada minggu ke-35 menunjukkan adanya peningkatan proporsi spesimen yang positif influenza. Surveilans sentinel merupakan pemantauan penyakit melalui fasilitas kesehatan tertentu yang dipilih sebagai titik pemantauan untuk melihat perkembangan suatu penyakit. “Sebetulnya kalau dari data, yang subtipe dominan minggu ini bukan H3N2 tapi H1N1 PDM09,” ujar Dicky yang juga Ketua DPP LDII.
Berdasarkan data yang disampaikannya, dari 175 spesimen yang diperiksa, sebanyak 66 terdeteksi positif influenza. Rinciannya, 63 positif influenza A H1N1 PDM09, dua influenza A H3N2, dan satu influenza B Victoria. “H1N1 PDM09 merupakan salah satu strain influenza A yang merupakan turunan virus penyebab pandemi pada 2009. Virus tersebut telah berevolusi dan kini menjadi bagian dari influenza musiman yang masih beredar,” papar Dicky.
Sementara itu, H3N2 juga merupakan subtipe influenza A yang dapat menyebabkan influenza musiman. Dicky menjelaskan, dominasi H1N1 PDM09 saat ini berbeda dengan gelombang sebelumnya yang lebih banyak didominasi H3N2.
Menurutnya, perubahan subtipe influenza yang dominan dari satu musim ke musim berikutnya merupakan pola yang dapat terjadi. “Ini penting secara epidemiologis karena menunjukkan adanya pergeseran subtipe dominan antarmusim. Sebetulnya ini adalah pola yang normal terjadi pada virus influenza,” jelasnya.
Karena itu, Dicky menegaskan bahwa keberadaan H1N1 PDM09 yang dominan dalam data tersebut tidak berarti munculnya virus baru ataupun KLB.
Dicky mengingatkan masyarakat untuk membedakan peningkatan proporsi spesimen yang positif influenza dengan peningkatan kasus influenza di seluruh populasi. Menurutnya, data surveilans sentinel hanya berasal dari fasilitas kesehatan tertentu.
Data tersebut dapat digunakan untuk melihat kecenderungan atau tren influenza, tetapi tidak dapat langsung digunakan untuk menyimpulkan berapa persen penduduk yang sedang terkena flu. “Ini metrik surveillance yang valid untuk memantau tren, tapi tidak setara dengan 38 persen penduduk kena flu,” ungkapnya.
Dicky juga menanggapi informasi mengenai rumah sakit yang disebut penuh akibat influenza. Menurutnya, tingkat keterisian rumah sakit dipengaruhi berbagai faktor, sehingga tidak dapat langsung dikaitkan dengan satu penyakit. “Okupansi rumah sakit itu adalah fungsi dari banyak variabel, misalnya jumlah kasus baru, lama rawat dari pasien itu, kapasitas tempat tidur yang tersedia dan juga bauran kasus yang sama sekali tidak selalu didominasi satu penyakit,” jelasnya.
Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup DPP LDII ini menambahkan, informasi mengenai peningkatan jumlah pasien perlu dilihat berdasarkan diagnosis. Pasalnya, pasien yang dirawat di rumah sakit dapat mengalami berbagai kondisi, seperti stroke, kecelakaan, penyakit jantung, maupun penyakit lainnya.
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap influenza, Dicky mengimbau masyarakat mengenali gejala influenza. Penyakit ini umumnya muncul secara mendadak dan dapat ditandai dengan demam tinggi, nyeri otot atau mialgia, serta kelelahan berat. “Sekali lagi yang membedakan influenza secara klinis adalah kombinasi demam tinggi, mialgia dan onset mendadaknya. Influenza dapat menimbulkan komplikasi serius, terutama pada kelompok rentan seperti ibu hamil, anak di bawah lima tahun, lansia, serta penderita penyakit kronis,” terangnya.
Untuk mengurangi risiko sakit berat, Dicky menganjurkan masyarakat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), menjaga kebugaran tubuh, berolahraga, serta mengonsumsi makanan bergizi seimbang. Vaksinasi influenza tahunan juga dapat dipertimbangkan, khususnya bagi kelompok rentan. “Jadi vaksin influenza ini tetap efektif mencegah sakit berat, rawat inap, dan kematian,” ujarnya.
Masyarakat yang mengalami gejala flu juga diimbau untuk beristirahat di rumah, menggunakan masker, menerapkan etika batuk, serta segera mengakses fasilitas kesehatan apabila gejala memburuk.













