Gunungkidul (30/9). Satuan Komunitas (Sako) Sekawan Persada Nusantara (SPN) DIY menggelar Kemah Santri ke-4 yang diikuti 183 santri dari sembilan pondok pesantren se-DIY. Kegiatan tersebut berlangsung di Kompleks Pondok Pesantren Al-Hadi, Gunungkidul, pada 25–27 September 2026.
Kemah Santri Sako SPN DIY ke-4 dibuka dalam upacara yang menghadirkan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) DIY, Ahmad Bahiej, sebagai pembina upacara. Dalam amanatnya, ia mengingatkan para santri bahwa kemah bukan sekadar aktivitas mendirikan tenda maupun mengikuti perlombaan.
“Perkemahan adalah sekolah kehidupan. Di sini kita belajar disiplin, mandiri, kerja sama, kepemimpinan, tanggung jawab, kepedulian, dan ketangguhan,” ujar Ahmad Bahiej.
Menurutnya, alam menjadi ruang belajar yang efektif untuk membentuk pribadi yang tangguh. Panas, hujan, kelelahan, maupun keterbatasan selama perkemahan merupakan pengalaman yang dapat melatih mental dan kemandirian peserta.
Ia berharap nilai-nilai tersebut tidak berhenti selama tiga hari kegiatan, tetapi dibawa kembali ke pesantren dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ahmad Bahiej juga menilai pesantren dan Gerakan Pramuka memiliki ruang strategis dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga beriman, berakhlak, mencintai Tanah Air, mampu bekerja sama, serta siap menghadapi perubahan zaman.
Ia menitipkan tiga pesan kepada para peserta. Pertama, menjadi Pramuka yang berkarakter. Kedua, membangun kemampuan bekerja sama sekaligus menghargai perbedaan. Ketiga, menjadi manusia yang memberikan manfaat bagi sesama.
Pada kesempatan itu, turut hadir Wakil Ketua Kwarda DIY/Ketua Bidang Kebudayaan dan Pengembangan Kearifan Lokal, Chairul Agus Mantara. Mewakili Ketua Kwarda DIY GKR Hayu, ia menyampaikan pesan agar Sako SPN terus berkembang dan mampu menjadi inspirasi bagi komunitas kepanduan maupun organisasi pendidikan lainnya.
“Pesan beliau adalah bagaimana Sako ini bisa berkembang dan menjadi inspirasi bagi komunitas-komunitas yang lainnya,” kata Agus.
Menurutnya, pembinaan Sako merupakan bagian dari upaya memperluas ruang pendidikan kepramukaan di masyarakat. Melalui kegiatan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan peserta, nilai disiplin, kemandirian, kerja sama, kepemimpinan, dan kepedulian dapat dipraktikkan secara nyata.
Dukungan Kwarda DIY terhadap Sako SPN juga telah berlangsung dalam berbagai kegiatan sebelumnya. Sako SPN DIY tercatat mengembangkan kegiatan Kemah Besar Daerah, mengikuti Kemah Besar Nasional, melakukan penguatan organisasi dan pembinaan pembina, serta menjalankan kegiatan yang menghubungkan kepramukaan dengan pengabdian masyarakat dan lingkungan.

Salah satu pengembangan tersebut adalah keterlibatan Sako SPN dalam rintisan Kampung ProKlim Sangurejo, Turi, Sleman, yang mempertemukan gerakan kepramukaan dengan pendidikan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.
Pada kesempatan tersebut, hadir mendampingi Chairul Agus Mantara, yakni Andu Satuan Komunitas dan Gugus Darma Dwi Haryanto; Andu Penanggulangan Bencana Agung Wicaksana; serta Andu Lingkungan Hidup Atus Syahbudin, yang sekaligus merupakan Ketua Majelis Pembimbing (Mabi) Sako SPN DIY.
Sementara itu, Ketua Sako SPN DIY, Sarjita, mengatakan Kemah Santri tahun ini diisi dengan wawasan kebangsaan, jelajah alam, dan berbagai perlombaan edukatif.
“Kemah santri ini diisi dengan wawasan kebangsaan, jelajah alam, dan berbagai perlombaan yang melatih karakter para santri,” ujarnya.
Dengan dukungan Kwarda DIY, pembinaan Sako SPN diharapkan terus berkembang. Tidak hanya melalui perkemahan, tetapi juga melalui penguatan organisasi, peningkatan kapasitas pembina, kegiatan sosial, kepedulian lingkungan, serta pengabdian kepada masyarakat.
Kemah Santri Sako SPN DIY ke-4 akhirnya bukan sekadar agenda tiga hari. Kegiatan tersebut menjadi ruang perjumpaan antara pesantren, Gerakan Pramuka, pendidikan karakter, kebangsaan, dan kepedulian lingkungan untuk menyiapkan generasi muda DIY yang aktif dan bermanfaat bagi masyarakat.















