Nganjuk (22/1). Tantangan dakwah di tengah masyarakat majemuk dan derasnya arus informasi dari media sosial menjadi perhatian serius Kementerian Agama (Kemenag). Hal itu disampaikan Penyuluh Agama Islam Kantor Kemenag Kabupaten Nganjuk, Sinasan, di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Ubaidah, Kertosono, Nganjuk, Jawa Timur, pada Senin (12/1).
Pernyataan tersebut ia lontarkan saat memberikan pembekalan kepada ribuan santri Ponpes Al Ubaidah dalam kegiatan Diklat dan tes calon muballigh-muballighot LDII, pada Senin (12/1). Dalam kesempatan tersebut, Sinasan membawakan materi tentang etika berdakwah, yang menjadi bekal penting bagi santri sebelum terjun langsung ke tengah masyarakat.
Menurutnya, etika merupakan fondasi utama agar pesan dakwah dapat diterima dengan baik dan tidak menimbulkan gesekan sosial, “Etika dakwah itu sangat penting bagi dai dan daiyah. Ketika seorang dai tidak memiliki etika dalam berdakwah, yang seharusnya tujuannya merangkul justru bisa mendengkul, yang ingin menarik malah menyakiti,” ungkapnya.
Ia menegaskan, dakwah yang dilakukan tanpa etika berpotensi gagal mencapai tujuan, bahkan dapat menimbulkan permusuhan antara pendakwah dan masyarakat yang didakwahi. Oleh karena itu, santri perlu memahami bahwa dakwah bukan hanya soal menyampaikan kebenaran, tetapi juga tentang cara dan pendekatan yang digunakan.

Sinasan juga menyoroti tantangan besar dakwah di era digital dan media sosial. Menurutnya, perkembangan teknologi membawa dampak signifikan terhadap cara dakwah dilakukan, dibandingkan dua hingga tiga dekade lalu, “Sekarang tantangan berdakwah luar biasa. Media sosial begitu gencar dan kadang sulit dikontrol. Maka kewajiban kita adalah mencari siasat agar dakwah tetap masuk, dengan cara-cara yang elegan,” jelasnya.
Ia mengingatkan agar para dai berpegang pada tuntunan Al Quran sebagaimana tercantum dalam Surah An-Nahl, yakni berdakwah bil hikmah, wal mauidzatil hasanah, wajadilhum billati hiya ahsan. Setiap pendakwah, lanjutnya, harus mampu menyesuaikan metode dakwah dengan kondisi psikologis mad’u yang beragam, “Setiap dai punya cara sendiri dan setiap mad’u memiliki kondisi yang berbeda-beda. Maka pendekatannya pun harus disesuaikan,” tambahnya.
Usai memberikan pembekalan, Sinasan mengaku terkesan dengan kedisiplinan para santri Ponpes Al Ubaidah yang berasal dari berbagai daerah. Ia menilai kedisiplinan tersebut menjadi modal penting dalam mencetak kader dakwah yang berkualitas, “Masya Allah, luar biasa. Secara kasat mata saya melihat generasi muda ini sangat disiplin. Ketika materi disampaikan, ribuan santri tidak terdengar bising, tidak berbicara sendiri, benar-benar sami’na dan menyimak dengan baik,” tuturnya.
Menurutnya, sikap tersebut merupakan ciri positif yang akan melahirkan generasi muballigh dan muballighot yang tidak hanya berilmu, tetapi juga berakhlak dan beretika dalam berdakwah di tengah masyarakat.











