Lembaga Dakwah Islam Indonesia
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2026-2031
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Pemantauan Hilal
    • Disabilitas
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
  • DESAIN GRAFIS & KHUTBAH
    • Desain dan Spanduk HARI SANTRI 2026
    • HUT Kemerdekaan RI
    • Nasehat Salat Idul Adha 1447 H
    • Idul Adha 2026
    • Munas LDII 2026
    • Nasehat Solat Idul Fitri 2026
    • Idul Fitri 2026
    • Ramadan 2026
    • Rapimnas LDII 2026
  • JADWAL SALAT & IMSAKIYAH
No Result
View All Result
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2026-2031
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Pemantauan Hilal
    • Disabilitas
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
  • DESAIN GRAFIS & KHUTBAH
    • Desain dan Spanduk HARI SANTRI 2026
    • HUT Kemerdekaan RI
    • Nasehat Salat Idul Adha 1447 H
    • Idul Adha 2026
    • Munas LDII 2026
    • Nasehat Solat Idul Fitri 2026
    • Idul Fitri 2026
    • Ramadan 2026
    • Rapimnas LDII 2026
  • JADWAL SALAT & IMSAKIYAH
No Result
View All Result
Lembaga Dakwah Islam Indonesia
No Result
View All Result
Home Headlines

KH Chriswanto: Umat Islam Toleran Jauh Sebelum Indonesia Lahir

2022/08/28
in Headlines, Nasional
0
Ketum DPP LDII KH Chriswanto Santoso mengatakan, "Umat Islam toleran jauh sebelum Indonesia lahir." Foto: LINES.

Ketum DPP LDII KH Chriswanto Santoso mengatakan, "Umat Islam toleran jauh sebelum Indonesia lahir." Foto: LINES.

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

Gorontalo (28/8). Sejak NKRI belum dibentuk, banyak agama yang masuk ke Indonesia dari para pendatang. Rakyat hidup berdampingan dan hal itu membuktikan bahwa sudah ada toleransi. Sejarah mencatat, mayoritas umat Islam di Indonesia tidka pernah memaksakan persatuan atas dasar kesamaan agama.

Hal itu dikemukakan Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto Santoso, saat menjadi narasumber di siaran TVRI ‘Gorontalo Menyapa’ yang membahas mengenai “Moderasi Beragama Sebagai Perekat dan Pemersatu Bangsa” bersama dua narasumber lain, Anggota DPRD Komisi II Bidang Pertanian, Perikanan, UMKM Gorontalo, Indriani Dunda dan Anggota DPRD Komisi IV Bidang Pendidikan dan Keagamaan, Adnan Entengo.

KH Chriswanto menjelaskan bahwa perbedaan yang dimiliki NKRI adalah kekuatan. “Ketika Indonesia stabil, beribadah dan berdakwah akan terasa nyaman. Hal yang sangat kami syukuri, sikap umat Islam sudah sangat toleran sebelum terbentuknya NKRI. Buktinya dalam sejarah bangsa ini, mayoritas umat Islam tidak pernah memaksakan Indonesia bersatu dengan dasar kesamaan agama,” ujarnya.

“Pendiri LDII menyadari, kita lahir di Indonesia, hidup di Indonesia, dan insya Allah mati juga di Indonesia. Sehingga tidak boleh meninggalkan ke-Indonesia-an ini. Sebagai warga negara, kita hidup dalam keberagaman. Buktinya, para founding fathers ketika mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia atas dasar perbedaan bukan kesamaan,” terang Chriswanto.

LDII sebagai organisasi keagamaan sejak awal berdirinya adalah lembaga dakwah, yang sudah menjadikan Pancasila sebagai asas organisasi sebelum perubahan Undang-Undang No. 8 tahun 1985. Undang-undang tersebut mewajibkan organisasi kemasyarakatan (ormas) berasaskan Pancasila. Tentunya memiliki kepentingan yang sama dengan pemerintah dan masyarakat umum agar Indonesia berada dalam kondisi yang stabil.

Chriswanto mengingatkan, tidak perlu terburu-buru alergi dengan istilah moderasi beragama. Meskipun ini istilah baru, sikap dan jiwa toleran sudah ada jauh sebelum Indonesia merdeka. Terbukti tidak ada masalah dengan banyaknya agama yang masuk di Nusantara. Sejatinya, warga Indonesia sudah terbiasa dan terbentuk atas dasar perbedaan.

“Maka tujuan moderasi beragama bukan untuk politik identitas yang justru mengkotakkan dan menjadikan kita terpecah. Namun di sisi lain tidak mungkin bagi kita semua mengadopsi pemahaman bahwa semua agama itu sama. Sebab dalam agama ada ranah yang bersifat partikular, ada yang general,” ujarnya.

Partikular dalam hal ini adalah spesifikasi suatu kelompok, bukan untuk dibawa ke ranah publik. Sebaliknya secara general misalnya sosialisasi urusan kemasyarakatan, kesejahteraan, keadilan, ekonomi, kerjasama, gotong royong, dan kerukunan antar umat beragama. Moderasi beragama bermaksud menyamakan yang bisa disamakan, tapi tidak perlu membicarakan sesuatu yang menjadi kekhususan dari agama itu sendiri.

Chriswanto menggambarkan di Gorontalo contohnya, meskipun umat Islam menjadi mayoritas ternyata dapat memberi ruang terhadap kelompok lain, sehingga keberhasilan tidak didasarkan mayoritas-minoritas. “Gorontalo memiliki contoh masyarakat pekerja keras, mereka menyadari kemampuannya masing-masing, hal tersebut menjelaskan bahwa keberhasilan bukan sebab basis agama melainkan berbanding lurus dengan upaya yang telah dilakukan,” jelasnya.

Sosialisasi Moderasi Agama Perlu Dilakukan Terus-Menerus

Upaya moderasi beragama yang dilakukan sebaiknya tidak hanya antar agama namun juga pada internal agama. “Di antara umat Islam sendiri, penentuan Syawal terkadang dapat berbeda antara satu organisasi dengan organisasi lainnya. Namun di satu sisi, kita turut menghargai partikular yang menjadi dasar kebijakan mereka,” ujar Chriswanto.

Perihal itu Chriswanto menambahkan, “Moderasi beragama ini perlu disosialisasikan terus oleh orang-orang yang mempunyai kapasitas seperti para pimpinan ormas dan tokoh-tokoh masyarakat. Terutama kepada umat harus diberikan penjelasan yang benar. Bukan hanya sikap fanatisme tapi dijelaskan bahwa dibalik partikular ini, kita hidup di negara yang heterogen. Sehingga mampu menerima perbedaan yang ada,” tambahnya.

Senada dengan KH Chriswanto, Indriani mengatakan, keanekaragaman adalah anugerah dari Allah yang harus benar-benar disyukuri dengan lebih bermoderasi. “Gorontalo memiliki 98 persen penduduk muslim, meski demikian beberapa sektor-sektor usaha didominasi oleh agama lain. Dengan bersatu dan tidak melihat keanekaragaman itu sebagai ganjalan maka ekonomi masyarakat akan berjalan,” ujarnya.

Ia melihat bahwa Gorontalo memiliki keterbukaan dan menerima berbagai macam agama. “Gorontalo jadi lebih aman karena moderasi agama sudah terbentuk walaupun belum disadari. Ini membantu pemulihan ekonomi dan menjadi perekat bangsa,” terangnya.

“Kita perlu mensosialisasikan moderasi beragama kepada masyarakat. Seperti yang disampaikan pak Chriswanto, jangan sampai terkotak-kotak, dengan mengerti moderasi agama kita bisa sama-sama berjuang dan bersatu untuk kesejahteraan bangsa Indonesia,” jelasnya.

Sementara itu, Adnan Entengo berpendapat, isu moderasi harus menjadi hal yang dikuatkan. “Peran organisasi masyarakat kedepannya sangat diperlukan hadir di ruang publik untuk andil dalam mengedukasi masyarakat guna terwujudnya negara yang aman, nyaman dan sejahtera dengan negara sebagai pengelolanya,” kata Adnan.

Ia juga mengatakan, DPRD Gorontalo pun mendorong silaturrahim antar ormas maupun antar pemuka agama dari berbagai agama yang ada perlu untuk dilaksanakan berkelanjutan sebagai upaya menjaga dan merawat keutuhan negara.

Menurut Adnan, perbedaan yang lahir adalah rahmat Tuhan Yang Maha Esa. “Konteks moderasi beragama, yakni menyepakati beragam agama dan suku merupakan potensi dan kekuatan bagi kita untuk membangun negara dan melahirkan kesejahteraan. Ini isu yang harus kita angkat bersama. Jangan sampai terjadi benturan,” ungkapnya.

Dengan adanya moderasi beragama dapat menuntaskan kendala komunikasi dalam pluralisme agama. Saya merasa kehadiran ormas seperti LDII ini dapat menjadi penguat prinsip moderasi beragama di Indonesia,” kata Adnan. (Nisa/LINES)

Tags: Kebangsaanldiimoderasi beragamasilaturrahimToleransi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KOMENTAR TERKINI

  • Ali Imran Harahap on Kunjungi Ponpes Minhajurrosyidin, Waketum MUI Medan Tekankan Dakwah dan Pembinaan Generasi Muda
  • Mulyadi Safwan on DPP LDII: Ingatkan Medsos Jadi Tantangan Pemuda untuk Perkuat Persatuan
  • Nidi Firdaus on LDII Banyuwangi Bekali 100 Pemuda Keterampilan Cukur Rambut
  • Kasriyati on DPP LDII: Ingatkan Medsos Jadi Tantangan Pemuda untuk Perkuat Persatuan
  • Luluk Mutia on Dua Pesilat Muda LDII Jateng Siap Berlaga di Uzbekistan
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Nasehat untuk Orang Tua

Nasehat untuk Orang Tua

March 14, 2026
Cendekiawan NU Memotret Wajah Pendidikan LDII di Berbagai Pelosok Nusantara

Cendekiawan NU Memotret Wajah Pendidikan LDII di Berbagai Pelosok Nusantara

March 11, 2026
PBNU dan OPOP Jember Silaturahim ke Ponpes Gadingmangu

PBNU dan OPOP Jember Silaturahim ke Ponpes Gadingmangu

April 24, 2026
MUI Pondok Gede Gelar Safari Ramadan di Masjid Baitul A’laa LDII

MUI Pondok Gede Gelar Safari Ramadan di Masjid Baitul A’laa LDII

March 17, 2026
DPP LDII: Ingatkan Medsos Jadi Tantangan Pemuda untuk Perkuat Persatuan

DPP LDII: Ingatkan Medsos Jadi Tantangan Pemuda untuk Perkuat Persatuan

2
LDII Banyuwangi Bekali 100 Pemuda Keterampilan Cukur Rambut

LDII Banyuwangi Bekali 100 Pemuda Keterampilan Cukur Rambut

2

Kunjungi Ponpes Minhajurrosyidin, Waketum MUI Medan Tekankan Dakwah dan Pembinaan Generasi Muda

1
LDII Bangkok Bekali Generus Putri Keterampilan Menjahit untuk Bangun Kemandirian

LDII Bangkok Bekali Generus Putri Keterampilan Menjahit untuk Bangun Kemandirian

1
Wakil Ketua MUI Nunukan Apresiasi Kebersihan Masjid LDII di Tulin Onsoi

Wakil Ketua MUI Nunukan Apresiasi Kebersihan Masjid LDII di Tulin Onsoi

October 30, 2026
Ponpes Al Ubaidah Gelar Seremoni Puncak Hari Santri Nasional 2026

Ponpes Al Ubaidah Gelar Seremoni Puncak Hari Santri Nasional 2026

October 30, 2026
Kapolres Sragen Tekankan Pentingnya Sinergi Polri dan Ormas

Kapolres Sragen Tekankan Pentingnya Sinergi Polri dan Ormas

October 30, 2026
LDII Hadiri Musda V MUI OKU Selatan, Perkuat Sinergi Pembinaan Umat

LDII Hadiri Musda V MUI OKU Selatan, Perkuat Sinergi Pembinaan Umat

October 30, 2026

DPP LDII

Jl. Tentara Pelajar No. 28 Patal Senayan 12210 - Jakarta Selatan.
Telepon: 0811-8604544

SEKRETARIAT
sekretariat[at]ldii.or.id
KIRIM BERITA
berita[at]ldii.or.id

BERITA TERKINI

  • Wakil Ketua MUI Nunukan Apresiasi Kebersihan Masjid LDII di Tulin Onsoi October 30, 2026
  • Ponpes Al Ubaidah Gelar Seremoni Puncak Hari Santri Nasional 2026 October 30, 2026
  • Kapolres Sragen Tekankan Pentingnya Sinergi Polri dan Ormas October 30, 2026

NAVIGASI

  • Home
  • Contact
  • Jadwal Salat & Imsakiyah
  • Hitung Zakat
  • Privacy Policy
  • NUANSA PERSADA

TELEGRAM

Untuk mengirim berita dari daerah Anda, silakan install aplikasi TELEGRAM lalu klik tautan berikut:

https://t.me/ldiibot

  • Home
  • Contact
  • Jadwal Salat & Imsakiyah
  • Hitung Zakat
  • Privacy Policy
  • NUANSA PERSADA

© 2020 DPP LDII - Managed by KIM & IT Division.

No Result
View All Result
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2026-2031
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Pemantauan Hilal
    • Disabilitas
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
  • DESAIN GRAFIS & KHUTBAH
    • Desain dan Spanduk HARI SANTRI 2026
    • HUT Kemerdekaan RI
    • Nasehat Salat Idul Adha 1447 H
    • Idul Adha 2026
    • Munas LDII 2026
    • Nasehat Solat Idul Fitri 2026
    • Idul Fitri 2026
    • Ramadan 2026
    • Rapimnas LDII 2026
  • JADWAL SALAT & IMSAKIYAH

© 2020 DPP LDII - Managed by KIM & IT Division.