Jakarta (27/8). Komunitas Generus Tuli Indonesia menggelar pengajian bagi disabilitas tuli. Kegiatan yang berlangsung di Pondok Pesantren Minhajurrosyidin, Pondok Gede, Jakarta, ini mengusung tema “Membentuk Insan yang Profesional dan Religius dengan Penerapan 29 Karakter Luhur Pembinaan Generus”.
Panitia Pelaksana, Aye Maemunah Cahyono, mengatakan kegiatan tersebut diikuti sekitar 50 peserta yang terdiri atas Teman Tuli dan pendamping dari DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. Menurutnya, kegiatan ini menjadi wadah bagi Teman Tuli untuk mendapatkan akses pembelajaran agama dengan metode yang sesuai.
“Kami menginginkan Teman Tuli ini bisa ikut mengaji agar bisa paham. Kami mengadakan pengajian secara online dan mendata semua Teman Tuli agar bisa belajar dan mencapai surga,” ujar Aye.
Menurut Aye, antusiasme peserta terus meningkat. Kegiatan pengajian yang sebelumnya berlangsung di wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat, kini mulai berkembang ke sejumlah daerah lain, seperti Jawa Timur dan Yogyakarta.
Dalam pelaksanaannya, pengajian tersebut dibagi menjadi tiga kelas, yakni kelas “cabe rawit” (Kelas anak-anak), kelas remaja hingga lansia, serta kelas khusus orang tua dan pendamping. Materi disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing peserta. Kelas pendamping mendapatkan pembelajaran bahasa isyarat, kelas Cabe Rawit mempelajari materi tentang mahram, sedangkan kelas remaja hingga lansia mendapatkan materi tata cara wudu dan salat.
Menariknya, sejumlah materi juga disampaikan oleh Teman Tuli. Salah satunya Bilqis yang menjadi pemateri untuk kelas Cabe Rawit dengan materi tentang mahram. Melalui penerjemah, Bilqis mengatakan proses mengajar membutuhkan kesabaran agar materi dapat dipahami oleh peserta, “Kita harus sabar untuk mengajarnya. Selain itu, aku mengajar cabe rawit agar mereka mendapatkan ilmu baru untuk kehidupan mereka selanjutnya,” ungkap Bilqis.
Ia mengatakan, pembelajaran kepada cabe rawit juga mencakup berbagai pengetahuan dasar keagamaan, seperti salat, mengaji, aurat, dan mahram. Menurutnya, Teman Tuli juga perlu mendapatkan kesempatan yang sama untuk memahami ilmu agama.
Sementara itu, salah satu pendamping Teman Tuli, Siti Mulyani Masyhud, menyambut positif keberadaan wadah pengajian tersebut. Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang komunikasi, tetapi juga membantu para pendamping dalam memberikan pembelajaran agama kepada Teman Tuli.
“Alhamdulillah kami sangat bersyukur karena LDII memiliki wadah untuk Teman Tuli, sehingga selain berkomunikasi dengan Teman Tuli, kami juga bisa mengajarkan ilmu kepada mereka,” ujar Siti.
Siti berharap kegiatan tersebut dapat terus dilaksanakan secara rutin dengan jarak waktu yang tidak terlalu jauh. Ia menilai para peserta memiliki semangat dan antusiasme yang tinggi untuk mengikuti kegiatan, “Kami berharap acara ini tetap terus berlanjut dan diagendakan. Untuk rentang waktunya mungkin tidak terlalu jauh dan tetap diadakan. Kami sangat semangat dan antusias, intinya sangat bersyukur,” katanya.
Aye berharap pengembangan kegiatan ini dapat dilanjutkan dengan menghadirkan wadah pendidikan yang lebih khusus bagi Teman Tuli. Salah satu gagasan yang diharapkannya dapat terwujud adalah pondok pesantren khusus Teman Tuli yang dapat membina generasi hingga menjadi mubalig yang mampu menyampaikan dakwah dengan bahasa isyarat.

“Kami juga berharap adanya wadah khusus berupa pondok pesantren untuk Teman Tuli, yang akan membentuk generasi unggulan hingga bisa menjadi mubalig Teman Tuli,” ujarnya.
Menurut Aye, Teman Tuli memiliki semangat dan potensi yang besar untuk berkembang. Karena itu, keterbatasan komunikasi tidak seharusnya menjadi penghalang bagi mereka untuk mendapatkan pendidikan dan pembinaan keagamaan, “Kami melihat Teman Tuli ini punya semangat luar biasa dan kelebihan, bukan kekurangan, karena ini anak-anak istimewa,” pungkasnya.

