Pemalang (2/9). DPD LDII Kabupaten Pemalang mendorong diversifikasi pangan melalui lomba kreasi pangan lokal berbasis sorgum. Kegiatan tersebut berlangsung di Sekretariat Gabungan Kecamatan Taman, Pemalang, Jawa Tengah pada Minggu, (2/8/2026).
Sebanyak 10 PC LDII se-Kabupaten Pemalang mengirimkan perwakilan, untuk mengolah sorgum menjadi berbagai produk pangan. Ketua DPD LDII Kabupaten Pemalang Agus Sarwono mengatakan ketergantungan masyarakat terhadap beras dan jagung perlu diimbangi, dengan pemanfaatan sumber pangan lain.
Menurut dia, sorgum memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai bagian dari pola konsumsi pangan masyarakat, “Indonesia memiliki banyak sumber pangan lokal yang dapat dikembangkan. Sorgum salah satunya. Kami ingin masyarakat mengenal cara mengolah sorgum menjadi makanan yang menarik, bergizi, dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Agus.
Agus mengatakan kegiatan tersebut sengaja dikemas dalam bentuk lomba agar peserta terdorong menghasilkan berbagai inovasi olahan. Menurut dia, kreativitas dalam pengolahan dapat meningkatkan daya tarik pangan lokal sekaligus membuka peluang ekonomi.
“Sorgum tidak harus disajikan dalam bentuk pangan tradisional. Peserta membuktikan bahan ini dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan dan minuman. Kreativitas seperti ini dapat menjadi awal pengembangan produk rumah tangga maupun usaha mikro,” ujarnya.
Menurut Agus, ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan bahan pangan. Masyarakat juga perlu memiliki pengetahuan mengenai pilihan bahan pangan dan kemampuan mengolahnya. Ia mendorong kader dan warga LDII mengenalkan diversifikasi pangan melalui kegiatan keluarga dan lingkungan masyarakat.
“Kemandirian pangan dimulai dari pengetahuan dan kebiasaan. Ketika masyarakat mengenal lebih banyak sumber pangan, pilihan konsumsi juga menjadi lebih beragam,” kata Agus.
Agus mengatakan pengembangan pangan lokal juga dapat dikaitkan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Produk olahan yang memiliki nilai jual dapat dikembangkan secara bertahap dengan memperhatikan kualitas, kemasan, pemasaran, dan konsistensi produksi.
“Kami ingin kegiatan seperti ini tidak berhenti sebagai perlombaan. Setelah peserta menemukan produk yang cocok, ada peluang untuk mengembangkannya menjadi produk yang dijual. Ini dapat membuka ruang usaha baru bagi keluarga dan masyarakat,” ujarnya.

