Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan.
Ada satu fase kehidupan orang tua yang jarang disadari: ketika anak-anak mulai dewasa, memiliki kehidupan sendiri, membangun rumah tangga, mengejar cita-cita, dan perlahan tidak lagi membutuhkan kita seperti dahulu. Dulu kita selalu ada. Menggendong mereka ketika belum mampu berjalan, menyuapi ketika belum kuat memegang sendok, membayar sekolah, menyediakan rumah, membiayai pendidikan, hingga membantu ketika mereka mulai membangun kehidupannya sendiri. Kita memberi begitu banyak, hampir semuanya dilakukan tanpa menghitung. Namun memasuki usia senja, ada satu hal yang perlu dijaga: jangan sampai kebaikan kepada anak berubah menjadi tuntutan kepada anak.
Anak bukan investasi finansial kita. Anak adalah amanah. Islam memang sangat menekankan kewajiban anak berbakti kepada orang tua. Allah berfirman: “Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al-‘Ankabut: 8) Dan: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.” (QS. Al-Isra’: 23) Berbakti adalah kewajiban anak. Tetapi bagi orang tua, ada keindahan yang lebih tinggi: memberi tanpa menjadikan pemberian sebagai alat untuk mengikat anak. Kita menyekolahkan mereka agar mampu berdiri sendiri, bukan agar merasa memiliki utang yang tidak pernah lunas. Kita membesarkan mereka agar menjadi manusia yang bermanfaat, bukan agar menjadi “pensiun” kita.
Menjadi tua dengan indah bukan berarti menolak bantuan anak. Jika anak datang membawa makanan, membelikan obat, atau ingin membantu kebutuhan kita, terimalah dengan penuh syukur. Yang perlu dihindari bukan menerima, melainkan menuntut. Ada perbedaan antara berkata, “Nak, kalau kamu punya kesempatan, bantu Ayah,” dengan, “Kamu anak saya, memang kewajibanmu membiayai saya.” Yang pertama memberi ruang bagi cinta; yang kedua dapat berubah menjadi tekanan. Karena itu, selagi masih sehat dan produktif, orang tua sebaiknya menyiapkan masa tuanya sendiri: menabung, menjaga kesehatan, mengelola pengeluaran, hidup sesuai kemampuan, membangun hubungan sosial, memperdalam agama, dan memiliki aktivitas yang bermakna. Ketika kita mampu mengurus diri sendiri, itu bukan sekadar kemandirian finansial. Itu juga bentuk kasih sayang kepada anak.
Cinta orang tua seharusnya tidak bekerja seperti akuntansi. Dahulu kita merawat anak tanpa mengirimkan kuitansi. Kita membayar sekolah tanpa menghitung kapan mereka harus mengembalikan. Kita menemani mereka ketika sakit dan menghibur ketika gagal tanpa berkata, “Setelah semua yang Ayah/Ibu lakukan untukmu…” Maka apa yang telah kita berikan, biarlah menjadi amal. Tidak perlu dicatat sebagai piutang. Tidak perlu diungkit sebagai utang. Kita dapat berkata: “Nak, semua yang Ayah dan Ibu berikan kepadamu dulu sudah kami ikhlaskan. Kalau suatu hari kamu berbuat baik kepada kami, kami syukuri. Kalau kamu belum mampu, kami tetap mencintaimu.” Itulah cinta yang lapang. Allah mengajarkan doa: “Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka telah menyayangiku ketika aku masih kecil.” (QS. Al-Isra’: 24) Di dalam doa ini terdapat siklus cinta. Dahulu orang tua merawat anak ketika mereka tidak berdaya. Kelak, ketika orang tua melemah, anak dapat merawat orang tua. Tetapi keindahan siklus itu akan berkurang jika sejak awal orang tua menganggapnya sebagai utang yang harus dibayar. Biarkan anak berbakti karena cinta, bukan karena rasa bersalah.
Jalaluddin Rumi mengajarkan sebuah pemahaman indah tentang cinta: cinta yang matang bukan selalu menggenggam, tetapi memberi ruang agar yang dicintai dapat tumbuh. Khalil Gibran pun dalam The Prophet mengingatkan: “Your children are not your children.” Anak bukan milik kita dalam arti kepemilikan. Mereka adalah kehidupan yang dipercayakan kepada kita untuk sementara. Kita memberi mereka akar, tetapi juga harus memberi sayap. Ketika mereka terbang, jangan marah karena mereka meninggalkan sarang. Tugas kita adalah mendoakan perjalanan mereka.
Semakin tua, seharusnya semakin sedikit tuntutan kita kepada dunia. Kekayaan tidak lagi sekadar rumah besar, mobil bagus, jabatan tinggi, atau pendapatan besar. Kekayaan menjadi tidur yang tenang, tubuh yang masih mampu bergerak, anak-anak yang hidup baik, keluarga yang harmonis, sahabat yang masih berkunjung, hati yang tidak dipenuhi iri, dan malam yang dapat ditutup dengan doa. Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)
Perhatikan: anak saleh bukan disebut sebagai anak yang membiayai orang tua, tetapi anak yang mendoakan.
Maka tugas orang tua bukan sekadar membuat anak sukses secara ekonomi, tetapi mendidiknya menjadi manusia baik yang kelak masih mengingat orang tuanya dalam doa. Jika anak tidak mampu memberi rumah, mobil, uang bulanan, atau liburan, tidak apa-apa. Jika mereka tumbuh menjadi manusia jujur, bertanggung jawab, menyayangi keluarga, tidak menyusahkan orang lain, dan masih menyebut nama kita dalam doa, itu sudah merupakan warisan yang sangat besar.
Pada akhirnya, menua yang indah adalah perjalanan dari memiliki menuju melepaskan; dari “Anakku harus memperhatikanku” menjadi “Aku bersyukur jika engkau mengingatku”; dari “Dulu aku sudah melakukan banyak hal untukmu” menjadi “Semua itu adalah bagian dari perjalanan cintaku.” Dan akhirnya, dari pertanyaan: “Apa yang akan anak-anakku berikan kepadaku?” menjadi: “Apa yang masih bisa aku berikan kepada Allah sebelum waktuku selesai?” Orang tua yang paling kaya bukanlah yang memiliki anak-anak yang selalu memberinya uang. Melainkan orang tua yang melihat anak-anaknya berdiri sendiri, hidup dengan baik, lalu berkata: “Ya Allah, terima kasih. Ternyata pengorbanan kami tidak sia-sia.”
Tidak menuntut. Tidak menghitung. Tidak menggenggam. Hanya bersyukur. Itulah salah satu bentuk tertinggi dari menua yang indah: tetap dicintai tanpa menuntut untuk dicintai, tetap menerima tanpa merasa berhak, tetap memberi tanpa menghitung, dan tetap mandiri tanpa kehilangan kehangatan keluarga. Karena anak adalah amanah, bukan tabungan, bukan investasi, dan bukan jaminan hari tua. Mereka adalah titipan Allah yang pernah kita peluk, kita besarkan, lalu dengan penuh cinta kita lepaskan untuk menjalani kehidupannya sendiri. Dan ketika mereka terbang jauh, tugas kita bukan memanggil mereka kembali ke sarang, melainkan mendoakan agar mereka selalu menemukan jalan pulang kepada Allah.

