Makkah (3/5). Keteguhan hati seorang jemaah haji Indonesia kembali menjadi potret perjuangan luar biasa di Tanah Suci. Tsamrotul Fuadah (53), jemaah haji asal Embarkasi JKB 1 Tangerang Selatan, tetap melanjutkan perjalanan hajinya meski mengalami cedera serius pada kaki sebelum keberangkatan. Insiden itu terjadi saat Tsamrotul Fuadah bersiap menuju embarkasi. Hal itu ia ungkapkan saat ditemui Tim Media Ceter Haji pascaumrah wajib di Al Hidayah Tower, Mekah, Senin (3/5/2026).
Ia mengungkapkan, ketika akan menuju bus, ia terjatuh di area keberangkatan hingga mengalami cedera pada bagian kaki. Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan medis, ia sempat dinyatakan mengalami robekan pada jaringan kaki.
Namun setelah menjalani pemeriksaan lanjutan di Madinah, dokter menemukan adanya patah tulang di bagian bawah lutut yang mengharuskannya menjalani operasi selama lima setengah jam. Meski menghadapi ujian fisik yang berat, Tsamrotul Fuadah memilih tetap melanjutkan perjalanan ibadahnya. Baginya, kesempatan berhaji adalah panggilan Allah yang telah ditunggu selama 15 tahun.
“Kalau ini sudah panggilan Allah, saya yakin Allah juga yang akan memberi jalan. Dengan kondisi seperti ini, saya tetap ingin menyempurnakan ibadah saya,” ungkap Tsamrotul Fuadah dengan mata berkaca-kaca.
Perjalanan Tsamrotul Fuadah menuju Tanah Suci pun penuh perjuangan. Selama di Madinah, sebagian besar waktunya dihabiskan untuk proses pemulihan di rumah sakit. Namun hal itu tidak mematahkan semangatnya. Dengan pendampingan tenaga kesehatan dan dukungan sesama jemaah, Samrah akhirnya dapat melanjutkan perjalanan ke Makkah dan menunaikan umrah wajib.
Momen paling mengharukan terjadi saat ia menjalani tawaf dan sa’i. Putranya, Muhammad Amri, yang menggantikan porsi almarhum ayahnya, memilih mendampingi sang ibu secara langsung tanpa menyerahkan tugas tersebut kepada orang lain.
“Anak saya tidak mau digantikan orang lain untuk mendorong saya. Bahkan dia bilang, kalau harus menggendong pun, dia siap,” tutur Samrah.
Bagi Tsamrotul Fuadah, kehadiran sang putra menjadi kekuatan terbesar di tengah ujian yang dihadapinya. Ia mengaku sangat terharu melihat bakti anaknya yang tanpa lelah mendampingi sejak keberangkatan hingga pelaksanaan ibadah di Masjidil Haram.
“Dia melihat senyuman saya, saya melihat senyuman dia, Masya Allah. Mudah-mudahan anak saya selalu dalam lindunganmu dijauhkan dari orang-orang dzalim. Tunjukkanlah anak saya ke jalan yang lurus, yang engkau ridai,” ungkap Samrah.
Selain dukungan keluarga, Tsamrotul Fuadah juga mengapresiasi perhatian petugas kesehatan, tim pendamping lansia, dan rekan-rekan satu kamar yang selalu membantu selama proses pemulihan.
“Semoga apa yang sudah teman-teman lakukan kepada saya. Allah yang akan membalasnya dengan pahala yang berlipat ganda. Haji Ibu-Ibu semua dijadikan haji yang mabaruroh,” ungkapnya.
Kini, Tsamrotul Fuadah masih menjalani pemantauan kesehatan secara berkala sambil mempersiapkan diri menghadapi puncak ibadah haji di Armuzna. Dengan penuh harap, ia berdoa agar diberi kekuatan untuk menuntaskan seluruh rangkaian ibadah.
“Semoga Allah memberikan kesehatan, menerima ibadah kami, dan menjadikan haji ini haji yang mabrur,” pungkasnya.

