Jakarta (12/9). Setiap tanggal 11 September, Indonesia memperingati Hari Radio Nasional sekaligus bertepatan dengan berdirinya Radio Republik Indonesia (RRI) pada 1945. Momentum bersejarah ini merefleksikan kembali vitalnya peran radio saat lembaga penyiaran tersebut pertama kali didirikan untuk menginformasikan kemerdekaan RI ke seluruh penjuru negeri.
“Di tengah derasnya arus media digital, radio masih menemukan penggemar dan ruangnya. Masih seperti dulu, isinya berupa musik, informasi lalu lintas, berita, hingga perbincangan sehari-hari. Radio masih tetap menemani pendengar dalam berbagai aktifitasnya,” ungkap Ketua DPP LDII, Rulli Kuswahyudi.
Ia menuturkan, setelah 80-an tahun, teknologi berubah begitu cepat, membuat cara masyarakat mengonsumsi informasi berubah. Ia menerangkan kehadiran internet, media sosial, podcast, dan layanan streaming membuat radio ikut beradaptasi.
“Perubahan itu sekaligus membuka ruang bagi generasi muda untuk mempelajari perkembangan media berbasis audio di era digital. Radio bertransformasi dengan memadukan unsur digital, seperti media sosial dan website,” jelasnya.
Rulli menjelaskan, meski era mulai bergeser tetapi radio masih tetap memiliki keunggulan dalam menjangkau berbagai lapisan masyarakat hingga wilayah dengan keterbatasan akses media.
“Karakter ini membuat radio tetap memiliki ruang di tengah perkembangan teknologi komunikasi modern. Transformasi RRI dari media yang semula identik dengan radio menjadi media yang bisa didengar, ditonton, dan diakses melalui platform digital merupakan langkah yang sangat positif.
Ketua Bidang Komunikasi, Informasi, dan Media (KIM) DPP LDII tersebut juga menuturkan, perubahan pola konsumsi informasi masyarakat menuntut lembaga penyiaran publik untuk terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
“LDII memandang modernisasi RRI juga membuka ruang yang lebih besar untuk menghadirkan informasi yang edukatif, mencerdaskan, dan memperkuat persatuan masyarakat,” jelasnya.
Ia menjelaskan RRI memiliki posisi strategis sebagai lembaga penyiaran publik, sehingga transformasi digitalnya bukan hanya persoalan mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga bagaimana tetap menjaga kualitas, akurasi, independensi, dan keberimbangan informasi.
“Kami berharap RRI dapat terus menjadi rujukan informasi yang terpercaya di tengah maraknya hoaks, disinformasi, dan informasi yang diproduksi tanpa verifikasi di media sosial,” paparnya.
Menurutnya, teknologi boleh berubah, platform boleh berkembang, tetapi fungsi media publik untuk memberikan informasi yang benar, mendidik masyarakat, dan memperkuat persatuan serta kerukunan harus tetap menjadi yang utama.
Rulli menjelaskan, LDII menyambut baik transformasi tersebut dan telah bersinergi dengan Radio Republik Indonesia (RRI) dan berbagai radio lainnya dalam menghadirkan informasi yang ber manfaat bagi masyarakat.
“LDII berharap konten atau materi dalam radio ditingkatkan mengenai pendidikan karakter, kepemudaan, kerukunan, lingkungan, pemberdayaan masyarakat, serta berbagai kontribusi masyarakat dalam pembangunan,” kata dia.
Ia menegaskan peringatan Hari Radio Nasional merupakan momentum untk memperkuat kontribusi radio dalam perjuangan, penyebaran informasi, dan perjalanan bangsa Indonesia.
“Tantangan kita hari ini di bidang komunikasi, informasi dan media, bukan hanya bagaimana menyampaikan berita dengan cepat, tetapi bagaimana memastikan informasi yang disampaikan benar, berimbang, dan memberikan manfaat. Karena itu, melalui pelatihan jurnalistik yang kami laksanakan di berbagai provinsi, LDII ingin menanamkan kesadaran bahwa setiap informasi yang kita produksi memiliki konsekuensi.
Ia mengingatkan untuk tidak ikut menyebarkan hoaks, provokatif, memecah belah, disinformasi, fitnah, atau konten yang hanya mengejar viralitas tetapi mengorbankan kebenaran dan moral masyarakat. Ia juga berharap generasi muda LDII memiliki kemampuan untuk menjadi produsen informasi yang bertanggung jawab, bukan hanya sebagai konsumen informasi.
“Karena dakwah itu menurut kami adalah bukan seberapa kita menegur seseorang, tetapi seberapa halus kamu mengajak. Itu esensi dakwah yang sedang dikembangkan LDII memanfaatkan radio, website, medsos dan lainnya,” jelasnya.
Ia berpesan melalui pelatihan jurnalistik, LDII berupaya menjaga moral dan persatuan masyarakat. Ia mengingatkan untuk tidak mengejar click, like, atau view, tidak hanya mengejar viral, maupun engagement, dengan mengorbankan kebenaran, privasi, martabat seseorang, atau kerukunan, bahkan mengakibatkan situasi tidak harmonis.
“Kami berharap kader-kader LDII di seluruh Indonesia dapat menjadi bagian dari ekosistem media yang menghadirkan informasi yang benar, menyejukkan, mencerdaskan, dan mendorong masyarakat melakukan hal-hal yang positif,” jelasnya.
Rulli mencontohkan bahwa LDII telah membangun kolaborasi dengan RRI maupun dengan radio swasta lainnya, terutama dalam bidang penyiaran informasi publik dan keagamaan, dialog serta tausiyah, publikasi kegiatan sosial-kemasyarakatan, dan penguatan komunikasi organisasi dengan masyarakat.

