Makkah (14/5). Plt Kepala Pusat Kesehatan Haji RI (Kapuskeshaj) Dani Pramudya mengingatkan jemaah, khususnya kelompok lanjut usia, untuk mewaspadai kondisi disorientasi atau kebingungan yang kerap muncul pada masa awal kedatangan di Tanah Suci. Hal itu ia sampaikan kepada Tim Media Center Haji, Kamis (14/5/2026).
“Kondisi ini umumnya dipicu oleh kelelahan perjalanan panjang, perubahan cuaca ekstrem, kurang istirahat, hingga adaptasi lingkungan baru di Makkah,” ujarnya.
Dokter Dani menjelaskan, jemaah yang mengalami kebingungan atau penurunan orientasi membutuhkan waktu pemulihan sekitar 24 hingga 48 jam.
Baca Juga: Jelang Puncak Haji, Sebanyak 136.422 Jemaah Tiba di Makkah
“Recovery-nya bisa 24 jam, bahkan sampai 48 jam atau dua hari. Selama masa pemulihan itu, jemaah harus cukup istirahat, asupan makanan dijaga, dan kebutuhan cairan benar-benar terpenuhi. Dengan banyak minum, tubuh akan lebih cepat pulih dan orientasi bisa kembali membaik,” ujarnya.
Setelah kondisi mulai stabil, jemaah dianjurkan melakukan adaptasi secara bertahap. Mulai dari mengenali lingkungan hotel, berjalan ringan di sekitar pemondokan, hingga secara perlahan mulai dibimbing menuju Masjidil Haram untuk melaksanakan ibadah umrah.
“Jangan langsung dipaksakan aktivitas berat. Mulai dari latihan ringan, jalan pelan-pelan, mengenali lingkungan sekitar. Setelah itu istirahat lagi. Tujuannya agar saat memasuki puncak haji di Arafah, jemaah benar-benar dalam kondisi fit,” katanya.
Ia juga menekankan peran keluarga, ketua rombongan, maupun teman sekamar dalam mendampingi jemaah yang mengalami kebingungan, terutama lansia.
“Yang paling penting, jangan ditinggal sendirian. Harus ada yang mendampingi di sampingnya, mengingatkan dia sedang berada di mana, siapa yang mendampingi, dan apa yang sedang dilakukan. Pendampingan ini sangat penting untuk membantu orientasi jemaah kembali pulih,” ujarnya.
Baca Juga: Keutamaan Shalat di Masjidil Haram
Kelompok paling rentan mengalami kondisi tersebut, lanjutnya, adalah jemaah berusia di atas 60 tahun, terutama yang sebelumnya sudah memiliki gejala penurunan daya ingat atau memiliki penyakit penyerta seperti Diabetes Mellitus dan hipertensi.
“Karena itu, petugas kesehatan terus melakukan pemantauan terhadap jemaah berisiko tinggi agar tetap dapat menjalankan rangkaian ibadah dengan aman hingga puncak pelaksanaan haji,” tutupnya. (Faqihu Sholih/MCH 2026)












