Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan.
Sepanjang perjalanan peradaban manusia, hampir semua agama memperkenalkan Sang Pencipta sebagai Dzat Yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Bahasa boleh berbeda, istilah boleh beragam, tetapi muaranya serupa: kasih-sayang. Dalam Islam, gema itu terdengar paling awal, paling sering, dan paling dalam—melalui kalimat yang nyaris tak pernah absen dari lisan seorang muslim: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” Ia bukan sekadar pembuka. Ia adalah cara pandang. Cara membaca hidup. Cara memahami Tuhan.
Dua nama itu—Ar-Rahmān dan Ar-Rahīm—berasal dari akar kata yang sama: rahmat, kasih sayang. Seakan Allah ingin menegaskan sejak awal bahwa fondasi relasi antara Dia dan makhluk-Nya bukanlah ketakutan, melainkan kasih. Bahkan Allah sendiri “menetapkan” hal itu atas diri-Nya:
كَتَبَ عَلَىٰ نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ
“Dia telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang.” (QS. Al-An‘ām: 12)
Sebuah pernyataan yang sangat dalam. Rahmat bukan sekadar sifat, melainkan komitmen Ilahi. Sebuah pilihan yang Allah tetapkan sendiri—tanpa paksaan. Lebih jauh lagi, dalam hadits qudsi Rasulullah ﷺ menyampaikan: إِنَّ رَحْمَتِي سَبَقَتْ غَضَبِي “Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului murka-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam riwayat lain disebutkan: رَحْمَتِي غَلَبَتْ غَضَبِي “Rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku.”
Bagi jiwa-jiwa yang sudah jernih dan bebas, ini sangat jelas: jika ada dua kemungkinan cara Allah memperlakukan hamba-Nya—dengan rahmat atau dengan murka—maka rahmatlah yang lebih dahulu, lebih luas, dan lebih dominan. Namun anehnya, dalam kehidupan sehari-hari, banyak manusia justru lebih mudah melihat sisi murka daripada sisi rahmat-Nya.
Suatu hari, seorang ibu merasa kehilangan sesuatu yang sangat ia sayangi: sekotak permen coklat yang telah ia siapkan sebagai suguhan istimewa. Ia mencarinya ke sana ke mari, hingga akhirnya mendapati bahwa sebagian permen itu telah hilang. Tak ada orang lain di rumah kecuali anaknya. Dengan nada kesal ia bertanya, “Apakah kamu yang mengambilnya?” Anak itu menjawab jujur, “Iya, Ma.” Sang ibu semakin jengkel, lalu berkata, “Apakah kamu tidak takut kepada Tuhan? Bukankah Dia melihatmu?” Dengan polos, sang anak menjawab, “Lihat, Ma.” “Lalu apa yang Dia katakan?” tanya ibunya, berharap ada rasa takut. Anak itu menjawab ringan, “Katanya, boleh ambil dua.”
Kisah sederhana ini, jika dicermati lebih dalam, bukan sekadar cerita tentang anak kecil yang nakal. Ia adalah cermin tentang bagaimana manusia mempresentasikan Sang Maha Kasih dalam hatinya. Sang ibu, karena kehilangan, melihat Tuhan sebagai Penghukum. Tuhan yang marah. Tuhan yang mengawasi untuk menghukum kesalahan. Sementara si anak, dalam kepolosannya, melihat Tuhan sebagai Maha Pemurah. Maha Pemaaf. Tuhan yang memberi, bukan sekadar melarang. Keduanya tidak sepenuhnya salah. Sebab Allah memang memperkenalkan diri-Nya dengan dua sisi itu:
نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ
“Kabarkan kepada hamba-hamba-Ku bahwa Aku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (QS. Al-Hijr: 49–50)
Namun yang sering terlupa adalah urutannya. Allah selalu mendahulukan rahmat sebelum azab. Masalahnya bukan pada siapa yang benar, tetapi pada hati mana yang lebih jernih dalam melihat. Dalam perjalanan hidup, sering kali manusia berubah. Semakin dewasa, semakin banyak pengalaman, semakin kompleks cara berpikir—namun justru semakin jauh dari kesederhanaan dalam melihat rahmat Sang Maha Pencipta. Ketika musibah datang, spontan muncul kesimpulan: “Allah tidak sayang lagi.”
Padahal Allah telah menegaskan: وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ “Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS. Al-A‘rāf: 156) Segala sesuatu. Termasuk musibah. Bahkan Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ
“Jika Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka.” (HR. Tirmidzi)
Di titik ini, logika manusia sering tersandung. Bagaimana mungkin cinta diwujudkan dalam bentuk ujian? Namun di situlah rahasia rahmat bekerja—tidak selalu dalam bentuk yang menyenangkan, tetapi selalu dalam bentuk yang menyelamatkan.
Yang lebih berbahaya bukanlah hilangnya permen coklat, tetapi hilangnya kesadaran akan kasih sayang Allah dalam hati. Kita mungkin masih mengucapkan: الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ berkali-kali setiap hari—minimal dalam 17 rakaat shalat, bahkan bisa lebih dari 34 kali. Namun apakah ia masih hidup dalam kesadaran kita? Ataukah hanya menjadi lafaz yang lewat tanpa makna? Allah bahkan melarang hamba-Nya berputus asa:
لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ
“Janganlah berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53)
Seakan Allah berkata: “Kesalahanmu mungkin besar, tetapi rahmat-Ku lebih besar.” Maka mungkin, yang perlu kita rawat bukan hanya pengetahuan tentang Allah, tetapi cara memandang-Nya. Belajar dari si anak kecil tadi—bukan untuk membenarkan kesalahan, tetapi untuk menjaga kejernihan hati dalam melihat Tuhan sebagai sumber kasih. Sebab dari sanalah akhlak lahir. Rasulullah ﷺ bersabda:
ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ
“Sayangilah yang di bumi, niscaya yang di langit akan menyayangimu.” (HR. Tirmidzi)
Jika kita benar-benar meyakini Allah Maha Pengasih, maka semestinya kita pun menjadi pribadi yang pengasih. Tidak mudah menghukum. Tidak cepat marah. Lapang dalam memaafkan. Ringan dalam berbuat baik.
Pada akhirnya, hidup ini bukan tentang apakah kita pernah kehilangan “permen coklat” atau tidak. Tetapi tentang: apakah dalam setiap kehilangan, kita masih mampu melihat rahmat Allah yang tersembunyi di baliknya. Karena bisa jadi, yang hilang hanyalah sesuatu yang kecil—namun yang ditemukan adalah cara pandang yang lebih utuh tentang Sang Maha Pencipta. Dan di situlah kehidupan menjadi lebih tenang. Sebab kita tahu, apa pun yang terjadi—rahmat-Nya selalu mendahului murka-Nya. Rahmat dulu, murka belakangan.













