Palu (12/10). Kepedulian terhadap penyandang disabilitas dan lingkungan mendorong Zarqa Kailila Ermera yang biasa disapa Kayla, remaja LDII asal Palu, Sulawesi Tengah, merintis Rumah Karya. Inisiatif kewirausahaan sosial tersebut memberdayakan penyandang disabilitas untuk mengolah kain perca batik bomba menjadi produk fesyen yang diperkenalkan kepada masyarakat melalui stan di Taman Vatulemo, Palu, Selasa (29/9/2026).
Kayla mengatakan, Rumah Karya berawal dari keprihatinannya terhadap stigma masyarakat yang kerap memandang penyandang disabilitas hanya dari keterbatasan mereka. Padahal, mereka memiliki potensi dan keterampilan yang dapat dikembangkan apabila memperoleh kesempatan yang tepat.
“Mengapa Rumah Karya ini bisa berdiri? Pertama, saya melakukan survei dan melihat bahwa stigma masyarakat sendiri biasanya menganggap penyandang disabilitas masih memiliki kekurangan dan tidak memiliki kelebihan. Pandangan seperti itu masih lebih dominan,” ujar Kayla.
Bersama seorang temannya, ia kemudian merintis Rumah Karya untuk menyediakan ruang yang aman bagi penyandang disabilitas dalam mengembangkan kreativitas dan menghasilkan produk bernilai. Nama Rumah Karya dipilih untuk menggambarkan tempat yang memberikan rasa aman sekaligus kesempatan bagi mereka untuk berkarya, “Filosofi dari Rumah Karya itu adalah sesuatu tempat yang aman, damai, dan bisa menciptakan sebuah karya bagi anak disabilitas,” jelasnya.
Rumah Karya mulai dirintis dan memproduksi barang sejak April, sebelum resmi diluncurkan pada Juli 2026. Dalam prosesnya, penyandang disabilitas terlibat langsung dalam pengerjaan kain perca, terutama untuk diolah menjadi bagian dari produk vest, “Atas kontribusi tersebut, mereka memperoleh apresiasi finansial sebagai penghargaan atas hasil kerja dan keterampilan yang diberikan,” kata Kayla.
Saat ini, Rumah Karya telah memberdayakan satu orang penyandang disabilitas. Kayla juga sedang menjajaki kerja sama dengan sejumlah Sekolah Luar Biasa (SLB), agar lebih banyak penyandang disabilitas memperoleh kesempatan untuk mengembangkan keterampilan dan terlibat dalam kegiatan produktif.
Selain membuka kesempatan berkarya, Rumah Karya mengusung upaya pengurangan limbah tekstil dengan memanfaatkan potongan kain yang masih memiliki nilai guna. Kayla memilih kain perca Batik Bomba karena batik tersebut merupakan salah satu identitas budaya lokal Sulawesi Tengah, khususnya Palu.
“Perbedaan produknya yaitu kalau produk lainnya biasanya masih menggunakan kain-kain yang utuh. Nah, kalau Rumah Karya sendiri, kami mengurangi limbah dari penjahit. Jadi, kami menggunakan kain perca batik Bomba dan kain tersebut dijahit oleh anak-anak disabilitas,” ujarnya.
Melalui pengolahan tersebut, potongan kain yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal dapat menjadi produk fesyen yang memiliki nilai guna dan nilai jual. Upaya ini sekaligus mempertemukan pelestarian budaya lokal, kepedulian terhadap lingkungan, dan pemberdayaan penyandang disabilitas.
Ke depan, ia berencana mengembangkan variasi produk, seperti scrunchie dan pouch, dalam satu hingga dua tahun mendatang. Pengembangan tersebut diharapkan memperluas kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk meningkatkan keterampilan, kepercayaan diri, dan kemandirian.
“Kita juga ingin bisa memberikan ruang yang aman bagi anak-anak disabilitas supaya mereka lebih percaya diri lagi untuk mengembangkan karya-karyanya,” tuturnya.
Berawal dari Kepedulian Generasi Muda
Di balik Rumah Karya, Kayla masih menjalani pendidikan di SMA Negeri Model Terpadu Madani Palu. Ia aktif mengikuti berbagai perlombaan untuk mengembangkan potensi diri dan menambah pengalaman.
Berbagai aktivitas tersebut menjadi ruang baginya untuk terus belajar, berbagi ilmu, dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar. Melalui Rumah Karya, ia berupaya menerapkan kepedulian sosial dalam bentuk kegiatan produktif yang membuka kesempatan bagi orang lain untuk berkembang.

Menurut Kayla, generasi muda LDII memiliki potensi besar untuk menghadirkan perubahan positif melalui kreativitas, inovasi, dan kolaborasi. Pemberdayaan masyarakat, menurutnya, tidak cukup dilakukan dengan memberikan bantuan, tetapi juga perlu membuka kesempatan agar setiap orang dapat mengembangkan kemampuan dan meningkatkan kemandirian.
Ia pun mengajak generasi muda LDII untuk berani memulai kegiatan bermanfaat dari lingkungan terdekat, kemudian mengembangkannya sesuai kebutuhan masyarakat. Perkembangan teknologi juga perlu dimanfaatkan secara positif untuk memperluas peluang berkarya dan menghadirkan solusi atas berbagai persoalan sosial.
Kayla berharap semakin banyak generasi muda yang berani melahirkan ide baru dan mengembangkan potensi diri menjadi karya yang bermanfaat bagi masyarakat. Baginya, prestasi pribadi akan semakin bermakna ketika diiringi kontribusi nyata bagi lingkungan.
“Pesan saya untuk generasi muda LDII adalah jangan takut untuk memulai sesuatu yang bermanfaat. Sebagai generasi penerus, kita harus terus mengembangkan inovasi dan kreativitas, berani mencoba hal-hal baru, serta mampu melihat peluang di tengah berbagai tantangan yang ada,” pesannya..
Melalui Rumah Karya, Kayla berharap penyandang disabilitas semakin memperoleh ruang untuk menunjukkan kemampuan mereka. Ia ingin masyarakat melihat mereka bukan semata-mata dari keterbatasan, melainkan dari potensi, keterampilan, dan karya yang mampu dihasilkan.














