Lembaga Dakwah Islam Indonesia
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2021-2026
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
  • DESAIN GRAFIS
    • Munas LDII 2026
    • Nasehat Solat Idul Fitri 2026
    • Idul Fitri 2026
    • Ramadan 2026
    • Rapimnas LDII 2026
  • JADWAL SALAT & IMSAKIYAH
No Result
View All Result
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2021-2026
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
  • DESAIN GRAFIS
    • Munas LDII 2026
    • Nasehat Solat Idul Fitri 2026
    • Idul Fitri 2026
    • Ramadan 2026
    • Rapimnas LDII 2026
  • JADWAL SALAT & IMSAKIYAH
No Result
View All Result
Lembaga Dakwah Islam Indonesia
No Result
View All Result
Home Dari Kami Nasehat

Tersapu Banjir Informasi

2025/07/07
in Nasehat
2
Ilustrasi: LINES.

Ilustrasi: LINES.

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan

(Mencari Titik Diam di Tengah Gelombang)

Kita hidup di zaman yang riuh, zaman di mana informasi datang tak diundang, dan sering kali juga tak diinginkan. Tak perlu mencarinya—ia akan menemukan kita. Bahkan mereka yang memilih diam pun bisa tenggelam di dalamnya. Informasi menyeruak seperti banjir: dari mana-mana, ke mana-mana, dan ada di mana-mana. Dan seperti biasa, kita sering baru sadar ketika sudah jadi korban—terluka oleh hoaks , terombang-ambing oleh opini, atau tersesat dalam bias dan ilusi.

Di tengah kebisingan ini, kita butuh alat navigasi, sejenis kompas hati dan kepala yang bisa membantu memilah: mana kabar yang patut didengar, mana yang sebaiknya dibuang jauh-jauh. Sebagai permulaan, mari kita ingat dua panduan suci yang telah ditanamkan jauh sebelum era digital ini lahir.

Pertama, adalah ayat tabayyun, yang tertulis dalam Surat Al-Hujurat ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah (kebenarannya) dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

Kedua, sabda Rasulullah ﷺ dalam muqadimah Shahih Muslim:

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سمع

Dari Abu Hurairah ra. Ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda; “Cukuplah seseorang disebut pendusta jika ia menceritakan semua yang ia dengar.”

Ini bukan sekadar nasehat moral, tapi peringatan keras: menyebarkan berita tanpa saring bisa menjadikan kita bagian dari lingkaran kebohongan, meski kita merasa hanya sekadar “bercerita.”

Mungkin tidak salah, jika kita mengucapkan terima kasih kepada tokoh ini. Dalam dunia filsafat, Socrates pernah menawarkan pendekatan yang sangat relevan dengan zaman kita sekarang. Suatu hari, seorang lelaki datang dan berkata, “Tahukah Anda apa yang baru saja saya dengar tentang teman Anda?”

Socrates mengangkat tangan, menahan. “Tunggu dulu,” katanya. “Sebelum engkau berbicara, mari kita saring apa yang akan kamu sampaikan lewat ujian tiga lapis.”

Saringan pertama adalah kebenaran:
“Sudah pastikah kamu bahwa apa yang akan kamu katakan itu benar?”
“Tidak,” jawab si pria. “Saya baru mendengarnya.”
“Jadi kamu sendiri tidak yakin?”

Saringan kedua adalah kebaikan:
“Apakah apa yang kamu sampaikan adalah sesuatu yang baik?”
“Tidak. Justru sebaliknya, hal yang buruk.”
“Kamu ingin menyampaikan hal buruk yang kamu sendiri tak yakin kebenarannya?”

Saringan ketiga adalah kegunaan:
“Apakah apa yang kamu sampaikan akan berguna untukku?”
“Tidak juga.”
“Jika begitu,” kata Socrates, “mengapa harus disampaikan?”

Tiga saringan ini bukan sekadar latihan logika, tetapi juga latihan akhlak: jangan sampaikan sesuatu yang tidak jelas kebenarannya, tidak membawa kebaikan, dan tak ada manfaatnya. Sebuah prinsip sederhana, namun jika diterapkan, bisa menyelamatkan kita dari banyak kerusakan.

Islam sendiri telah memodelkan prinsip ini lewat berbagai kisah dan dalil. Lihat bagaimana Nabi Sulaiman memeriksa kabar yang dibawa oleh burung Hud-Hud, bukan dengan langsung percaya, tapi dengan menyelidiki terlebih dahulu.

وَتَفَقَّدَ الطَّيْرَ فَقَالَ مَا لِيَ لَآ اَرَى الْهُدْهُدَۖ اَمْ كَانَ مِنَ الْغَاۤىِٕبِيْنَ لَاُعَذِّبَنَّهٗ عَذَابًا شَدِيْدًا اَوْ لَاَا۟ذْبَحَنَّهٗٓ اَوْ لَيَأْتِيَنِّيْ بِسُلْطٰنٍ مُّبِيْنٍ فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيْدٍ فَقَالَ اَحَطْتُّ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهٖ وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَاٍ ۢ بِنَبَاٍ يَّقِيْنٍ اِنِّيْ وَجَدْتُّ امْرَاَةً تَمْلِكُهُمْ وَاُوْتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَّلَهَا عَرْشٌ عَظِيْمٌ

Dia (Sulaiman) memeriksa (pasukan) burung, lalu berkata, “Mengapa aku tidak melihat Hudhud? Ataukah ia termasuk yang tidak hadir? Pasti akan kuhukum ia dengan hukuman yang berat atau kusembelih ia, kecuali jika ia datang kepadaku dengan alasan yang jelas.” Tidak lama kemudian (datanglah Hudhud), lalu ia berkata, “Aku telah mengetahui sesuatu yang belum engkau ketahui. Aku datang kepadamu dari negeri Saba’ membawa suatu berita penting yang meyakinkan (kebenarannya.) Sesungguhnya aku mendapati ada seorang perempuan yang memerintah mereka (penduduk negeri Saba’). Dia dianugerahi segala sesuatu dan memiliki singgasana yang besar. (QS An-Naml 20-23)

قَالَ سَنَنْظُرُ اَصَدَقْتَ اَمْ كُنْتَ مِنَ الْكٰذِبِيْنَ اِذْهَبْ بِّكِتٰبِيْ هٰذَا فَاَلْقِهْ اِلَيْهِمْ ثُمَّ تَوَلَّ عَنْهُمْ فَانْظُرْ مَاذَا يَرْجِعُوْنَ قَالَتْ يٰٓاَيُّهَا الْمَلَؤُا اِنِّيْٓ اُلْقِيَ اِلَيَّ كِتٰبٌ كَرِيْمٌ

Dia (Sulaiman) berkata, “Kami akan memperhatikan apakah engkau benar atau termasuk orang-orang yang berdusta. Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka. Kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan!” Dia (Balqis) berkata, “Wahai para pembesar, sesungguhnya telah disampaikan kepadaku sebuah surat yang penting.” (QS An-Naml 27 – 29)

Atau kisah Haditsul Ifki, ketika kabar bohong tentang Aisyah RA menyebar tanpa saring, menyebabkan luka besar di tengah keluarga Nabi dan komunitas kaum Muslimin.

اِذْ تَلَقَّوْنَهٗ بِاَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُوْلُوْنَ بِاَفْوَاهِكُمْ مَّا لَيْسَ لَكُمْ بِهٖ عِلْمٌ وَّتَحْسَبُوْنَهٗ هَيِّنًاۙ وَّهُوَ عِنْدَ اللّٰهِ عَظِيْمٌۚ وَلَوْلَآ اِذْ سَمِعْتُمُوْهُ قُلْتُمْ مَّا يَكُوْنُ لَنَآ اَنْ نَّتَكَلَّمَ بِهٰذَاۖ سُبْحٰنَكَ هٰذَا بُهْتَانٌ عَظِيْمٌ يَعِظُكُمُ اللّٰهُ اَنْ تَعُوْدُوْا لِمِثْلِهٖٓ اَبَدًا اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَۚ

(Ingatlah) ketika kamu menerima (berita bohong) itu dari mulut ke mulut; kamu mengatakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun; dan kamu menganggapnya remeh, padahal dalam pandangan Allah itu masalah besar. Mengapa ketika mendengarnya (berita bohong itu), kamu tidak berkata, “Tidak pantas bagi kita membicarakan ini. Mahasuci Engkau. Ini adalah kebohongan yang besar.” Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali mengulangi seperti itu selama-lamanya jika kamu orang-orang mukmin. (QS. An-Nur: 15–17).

اِنَّ الَّذِيْنَ يُحِبُّوْنَ اَنْ تَشِيْعَ الْفَاحِشَةُ فِى الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌۙ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

“Sesungguhnya orang-orang yang senang atas tersebarnya (berita bohong) yang sangat keji itu di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang sangat pedih di dunia dan di akhirat. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nur: 19).

Rasulullah ﷺ sangat hati-hati dalam menyampaikan informasi. Bahkan ketika Mu’adz bin Jabal RA mendengar sabda Nabi tentang betapa siapa pun yang bersaksi “Laa ilaaha illallah” dijanjikan surga, ia ingin segera menyebarkannya agar umat bergembira. Tapi Nabi ﷺ justru mencegah, karena khawatir orang-orang hanya akan bersandar pada itu saja dan meninggalkan usaha dan amal (HR. Muslim). Ilmu dan informasi, dalam pandangan Rasulullah, mesti ditimbang dari efek dan konteks penyampaiannya.

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، قَالَ: كُنْتُ رِدْفَ النَّبِيِّ ﷺ عَلَى حِمَارٍ، فَقَالَ لِي:يَا مُعَاذُ، أَتَدْرِي مَا حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ؟ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ؟قُلْتُ: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ.قَالَ:”حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ، وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَحَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ أَلَّا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا.”قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَفَلَا أُبَشِّرُ النَّاسَ؟قَالَ: “لَا تُبَشِّرْهُمْ، فَيَتَّكِلُوا.”

Dari Mu’adz bin Jabal RA, ia berkata: Aku pernah dibonceng Nabi ﷺ di atas seekor keledai. Beliau berkata kepadaku: “Wahai Mu’adz, tahukah engkau apa hak Allah atas hamba-hamba-Nya? Dan apa hak hamba atas Allah?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Beliau bersabda: “ Hak Allah atas hamba-Nya adalah agar mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan hak hamba atas Allah adalah bahwa Dia tidak akan mengazab siapa pun yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” Aku berkata, “Wahai Rasulullah, tidakkah sebaiknya aku menyampaikan kabar gembira ini kepada orang-orang?” Beliau bersabda: “Jangan engkau beritakan kepada mereka, karena dikhawatirkan mereka akan bersandar padanya (dan meninggalkan amal).” (HR Muslim)

Hari ini, siapa saja bisa jadi penyebar informasi. Tapi tak semua layak jadi sumber rujukan. Kita tak hanya dituntut untuk berpikir cepat, tapi juga berpikir dalam. Maka, sebelum jari menekan tombol kirim atau mulut mengucap satu cerita, mari saring dulu dalam tiga lapis: Apakah ini benar? Apakah ini baik? Apakah ini berguna? Kalau tidak bisa menjawab “ya” untuk setidaknya dua dari tiga pertanyaan itu, barangkali lebih bijak kita menyimpannya saja. Tidak semua hal harus diberitakan. Tidak semua kabar harus direspons.

Di zaman banjir informasi, kebijaksanaan bukan tentang tahu segalanya, tapi tahu apa yang harus diabaikan. Dan kadang, yang menyelamatkan kita bukan seberapa banyak yang kita tahu, tapi seberapa banyak yang kita pilih untuk tidak kita teruskan. Semoga dengan modal sederhana ini—dua dalil, satu kisah, dan satu ujian kecil dari Socrates—kita bisa belajar berselancar di atas gelombang informasi dengan aman, selamat, lancar, dan barokah. Karena bisa jadi, di zaman seperti sekarang, diam yang sadar jauh lebih bermakna daripada bicara yang sembarangan.

Tags: banjirInformasinasehat

Comments 2

  1. Dharmajaya says:
    10 months ago

    Ajk ulasannya. Memang informasi itu vital,, menyesatkan. Nabi menegaskan pegang informasi Qyran dan Hadits. Pertanggungjawabannya jelas, ALLAH.

    Reply
  2. Yuni says:
    9 months ago

    Ulasan ini menyadarkan kita betapa pentingnya untuk dan harus berfikir 7x sebelum menyebarkan suatu berita. Jangan sampai maksud baik malah merugikan diri kita dengan berbuat dosa… Alhamdulillah jazakallahu khoiro atas pencerahannya.

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KOMENTAR TERKINI

  • nuha cn on Perintah Berkurban Berdasarkan Al Quran dan Al Hadits
  • Fauzi Achmadi on Keren (1) – Beribadah Kepada Allah Itu Keren
  • Mulyadi on Hari Bumi 2026, LDII Ingatkan Tanggung Jawab Bersama Jaga Bumi sebagai Amanah
  • hamzah ancha on Kerja Sama dengan DLH Kota Batam, Warga LDII Sekupang Konversi 1,3 Ton Sampah Jadi Rupiah
  • Al Mahier on Menara Asma’ul Husna Kediri
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Ketua Umum DPP LDII Paparkan Visi-Misi Saat Silaturrahim Syawal LDII Banten

Ketua Umum DPP LDII Paparkan Visi-Misi Saat Silaturrahim Syawal LDII Banten

April 20, 2026
Kementerian Koperasi Dorong Penguatan Permodalan dan Tata Kelola BMT

Kementerian Koperasi Dorong Penguatan Permodalan dan Tata Kelola BMT

April 25, 2026
BMT Rukun Abadi Catat Surplus dan Penguatan Layanan Syariah

BMT Rukun Abadi Catat Surplus dan Penguatan Layanan Syariah

April 25, 2026
LDII Kota Bandung Audiensi dengan Kemenag Perkuat Sinergi Pembinaan Umat

LDII Kota Bandung Audiensi dengan Kemenag Perkuat Sinergi Pembinaan Umat

April 22, 2026
Hari Bumi 2026, LDII Ingatkan Tanggung Jawab Bersama Jaga Bumi sebagai Amanah

Hari Bumi 2026, LDII Ingatkan Tanggung Jawab Bersama Jaga Bumi sebagai Amanah

3
BSI Dorong Ekonomi Hijau dan Inklusi Keuangan Syariah di Ponpes Minhajurrosyidin

BSI Dorong Ekonomi Hijau dan Inklusi Keuangan Syariah di Ponpes Minhajurrosyidin

3
PC LDII Cikalong Wetan Hadiri Halal Bihalal MUI Kecamatan

PC LDII Cikalong Wetan Hadiri Halal Bihalal MUI Kecamatan

3
LDII Kota Bandung Audiensi dengan Kemenag Perkuat Sinergi Pembinaan Umat

LDII Kota Bandung Audiensi dengan Kemenag Perkuat Sinergi Pembinaan Umat

3
Kasi KKHI Daker Mekah Edi Supriyatna

Tanpa Rawat Inap, KKHI Terapkan Layanan UCC 24 Jam

April 28, 2026
Terima Kunjungan LDII, Menko Pangan Zulhas: Pemerintah Butuh Dukungan Entaskan Kemiskinan di Sektor Pangan

Terima Kunjungan LDII, Menko Pangan Zulhas: Pemerintah Butuh Dukungan Entaskan Kemiskinan di Sektor Pangan

April 28, 2026
Jabat Ketua DPD LDII Kota Semarang, Sunarto Siap Membumikan Toleransi

Jabat Ketua DPD LDII Kota Semarang, Sunarto Siap Membumikan Toleransi

April 28, 2026
Cara Ambil Uang di ATM Arab Saudi dengan Mudah dan Aman

Cara Ambil Uang di ATM Arab Saudi dengan Mudah dan Aman

April 28, 2026

DPP LDII

Jl. Tentara Pelajar No. 28 Patal Senayan 12210 - Jakarta Selatan.
Telepon: 0811-8604544

SEKRETARIAT
sekretariat[at]ldii.or.id
KIRIM BERITA
berita[at]ldii.or.id

BERITA TERKINI

  • Tanpa Rawat Inap, KKHI Terapkan Layanan UCC 24 Jam April 28, 2026
  • Terima Kunjungan LDII, Menko Pangan Zulhas: Pemerintah Butuh Dukungan Entaskan Kemiskinan di Sektor Pangan April 28, 2026
  • Jabat Ketua DPD LDII Kota Semarang, Sunarto Siap Membumikan Toleransi April 28, 2026

NAVIGASI

  • Home
  • Contact
  • Jadwal Salat & Imsakiyah
  • Hitung Zakat
  • Privacy Policy
  • NUANSA PERSADA

KATEGORI

Kirim Berita via Telegram

klik tautan berikut:
https://t.me/ldiibot

  • Home
  • Contact
  • Jadwal Salat & Imsakiyah
  • Hitung Zakat
  • Privacy Policy
  • NUANSA PERSADA

© 2020 DPP LDII - Managed by KIM & IT Division.

No Result
View All Result
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2021-2026
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
  • DESAIN GRAFIS
    • Munas LDII 2026
    • Nasehat Solat Idul Fitri 2026
    • Idul Fitri 2026
    • Ramadan 2026
    • Rapimnas LDII 2026
  • JADWAL SALAT & IMSAKIYAH

© 2020 DPP LDII - Managed by KIM & IT Division.