Kotabaru (25/9). DPD LDII Kotabaru mengirim Koordinator Tim Rukyat Hilal, Nur Abdul Rozaq, mengikuti pelatihan privat penggunaan teleskop dan observasi astronomi di Observatorium Imah Noong, Lembang, Jawa Barat. Pelatihan itu untuk memperkuat kapasitas teknis tim pengamatan hilal di Kotabaru.
Pelatihan intensif itu berlangsung selama tiga hari, sejak Kamis, (3/9/2026). Ketua DPD LDII Kotabaru Murdianto menyampaikan, program pelatihan dirancang untuk meningkatkan presisi pengamatan hilal di lapangan, terutama saat penentuan awal Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha. “Peningkatan kompetensi sangat krusial agar proses pengamatan hilal di daerah dapat memberikan data yang presisi, valid, dan dapat dipertanggungjawabkan dalam Sidang Isbat,” ujar Murdianto.
Ia juga menegaskan, LDII Kotabaru berkomitmen penuh mendukung pemerintah dan umat Islam melalui penyediaan sumber daya manusia yang terlatih di bidang hisab dan rukyat. Sementara itu Nur Abdul Rozaq yang juga anggota Biro KIM LDII Kotabaru menuturkan, selama tiga hari pelatihan, sebagai peserta ia dibekali kombinasi teori dan praktik lapangan yang menyeluruh.
Materi pertama mencakup teknik pengoperasian teleskop mulai dari perakitan, kalibrasi, hingga pengarahan posisi instrumen berbasis koordinat astronomis. Ia sempat mempelajari dua jenis instrumen teropong modern. Jenis pertama adalah teropong portable model HScope dengan bukaan 70mm dan focal length F/8.5 bertipe dudukan pemula Veetisteel AZ. Teleskop tersebut merupakan teleskop astronomi refraktor pemula atau yang hobi dengan astronomi.
Alat itu juga dilengkapi Mount Skyhunter, portable AZ GOTO System, GSO 1.25″ Focal Resister 0.5x, serta kamera ZWO ASI462MC, yakni kamera serbaguna yang bisa dipakai sebagai autoguider atau pemantau langit dengan sensitivitas infrared tinggi, sehingga detail tangkapan lebih tajam. Selain itu, ia juga mempelajari teropong canggih berbasis smart telescope merk Seestar S50 yang beroperasi secara penuh otomatis melalui aplikasi ponsel atau tablet.
Lebih lanjut, di materi kedua ia dibimbing mengenai penggunaan perangkat lunak pemetaan langit dalam memprediksi ketinggian, posisi, dan tingkat visibilitas hilal. Selanjutnya, materi ketiga, membahas metode observasi langsung yang mana peserta dilatih memantau hilal baik secara visual bantuan alat maupun melalui teknik kamera astrofotografi.
Melalui pelatihan di observatorium, DPD LDII Kotabaru berharap, pihaknya berkontribusi langsung dalam hasil pengamatan hilal berikutnya dan semakin berkualitas. (Lines Kotabaru)

