Tarakan (24/2). DPW LDII Kalimantan Utara (Kaltara) turut memantau hilal penentuan awal Ramadan kemarin. Mereka bergabung dengan ormas-ormas Islam, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memantau hilal di lokasi Satuan Radar TNI AU 204 Tarakan, Kaltara, pada Selasa (17/02/2026).
Menurut Ketua Tim Rukyatul Hilal Kaltara Muhammad Khilmi, LDII di Kaltara telah berperan aktif sejak tahun 2023. LDII Kaltara juga menjadi penyedia teropong mandiri sebagai bentuk dukungan program pemerintah, dalam memantau hilal setiap menentukan awal Ramadan dan penetapan Idul Fitri dan Idul Adha.
Khilmi menambahkan, kegiatan itu bukan hanya agenda tahunan tapi juga komitmen dan sinergi LDII dengan pemerintah setempat. “Melalui tim Rukyatul Hilal yang diturunkan demi memberikan kontribusi data faktual dari lapangan yang dapat dipertanggungjawabkan secara syariat maupun sains,” terangnya.
Wali Kota Tarakan Khairul pada kesempatan itu mengatakan dari pantauan di Tarakan, hilal tidak terlihat, sehingga masih menunggu hasil dari sidang isbat di pusat,” ujarnya.
Berdasarkan hasil pengamatan di Tarakan, bahwa bulan lebih duluan tenggelam dibandingkan matahari, tentu dalam teori bulan baru belum bisa dilihat. Apalagi dari data BMKG di Tarakan bulan masih kurang satu derajat 43 menit. Sehingga dari hasil kesepakatan MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) yakni ketinggian hilal minimal tiga derajat di atas ufuk saat matahari terbenam dan sudut elongasi minimal 6,4 derajat (jarak sudut bulan-matahari).

