Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan
Tidak semua kejujuran mudah. Terutama kejujuran kepada diri sendiri. Kita sering mampu menilai orang lain dengan tajam. Namun ketika menilai diri, kita lunak — atau justru terlalu keras.
Muhasabah bukan mencari-cari kesalahan untuk menyalahkan diri. Muhasabah adalah melihat dengan jernih: di mana kita berdiri hari ini?
Umar ibn al-Khattab berkata, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan timbanglah amal kalian sebelum ditimbang.”
Kalimat ini bukan ancaman. Ia undangan untuk sadar.
Setiap hari kita berjalan. Tetapi apakah kita benar-benar bergerak mendekat kepada Allah? Atau hanya sibuk?
Muhasabah yang jujur bertanya: Apakah salatku sudah lebih khusyuk? Apakah lisanku lebih terjaga? Apakah hatiku lebih lembut dari bulan lalu? Bukan untuk membandingkan dengan orang lain. Tetapi membandingkan dengan versi diri kita yang kemarin.
Namun hati-hati.
Ada dua jebakan dalam muhasabah. Yang pertama: merasa sudah cukup baik. Yang kedua: merasa terlalu buruk hingga putus asa. Padahal Allah tidak menyukai kesombongan, dan tidak pula menyukai keputusasaan.
Sang Guru Bijak pernah mengatakan bahwa seorang mukmin adalah penjaga dirinya sendiri; ia terus mengoreksi dirinya karena Allah. Bukan karena ingin terlihat saleh. Tetapi karena ingin selamat.
Muhasabah yang sehat selalu diiringi harapan. Jika hari ini kita melihat kekurangan, itu bukan akhir. Itu titik awal perbaikan. Allah membuka pintu taubat setiap hari. Setiap malam. Selama nyawa belum di tenggorokan.
Dan yang paling indah: Allah lebih gembira atas taubat hamba-Nya daripada kegembiraan seseorang yang menemukan kembali hartanya yang hilang. Artinya, setiap kesadaran untuk memperbaiki diri disambut dengan rahmat.
Muhasabah bukan untuk membuat kita lemah. Ia untuk membuat kita sadar dan bangkit.
Karena perjalanan ini belum selesai. Ia baru membentuk fondasi.












Alhamdulillah jazakummullohu khoiron
AJKH Mas Kus