Oleh KH M. Thoyyibun
Rasulullah SAW bersabda, bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Hadis ini menjadi pedoman bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan, bahwa nilai kemuliaan seseorang tidak hanya diukur dari ibadah personalnya, tetapi juga dari manfaat yang ia berikan kepada sesama.
Dalam hidup ini terdapat dua arah ibadah, yaitu hablum minallah (hubungan dengan Allah) dan hablum minannas (hubungan dengan manusia). Ibadah kepada Allah diwujudkan melalui salat, membaca Al-Quran, berdoa, dan amalan lainnya. Namun, seorang muslim juga dituntut untuk menjaga hubungan baik dengan sesama manusia melalui kepedulian, tolong-menolong, dan memberi manfaat.
Menjadi manusia yang bermanfaat tidak selalu harus melalui hal besar. Perkara kecil pun bernilai ibadah apabila diniatkan karena Allah. Memberi bantuan kepada orang yang membutuhkan, memberikan nasihat yang baik, mengingatkan kesalahan agar tidak terulang, serta menyampaikan kebenaran dan keutamaan amal solih adalah bagian dari kontribusi nyata dalam kehidupan bermasyarakat.
Termasuk pula membantu fakir miskin, menyantuni anak yatim, dan meringankan beban orang yang sedang menghadapi kesulitan. Bahkan, menyingkirkan sesuatu yang membahayakan di jalan termasuk sedekah. Perbuatan sederhana tersebut menunjukkan bahwa Islam sangat menekankan kepedulian sosial sebagai bagian dari keimanan.
Prinsipnya sederhananya: apa yang membuat kita senang ketika menerimanya, lakukan pula kepada orang lain. Sebaliknya, apa yang tidak kita sukai, jangan kita lakukan kepada orang lain. Dengan demikian, setiap ucapan dan perbuatan kita akan membawa kebaikan, bukan kerugian.
Apabila ada orang meminta pertolongan dan kita mampu membantu, maka bantulah. Jika belum mampu, berikan jawaban yang baik (pahit madu) enak didengar, sehingga orang tersebut tetap merasa dihargai, sesuai dengan implementasi 29 karakter. karena akhlak dalam berbicara dan bersikap sama pentingnya dengan bantuan materi.
Sebagai gambaran, ada kisah tentang uang kertas pecahan kecil yang sering berpindah tangan membantu banyak orang—diterima tukang parkir, dimasukkan kotak sedekah, atau diberikan kepada yang membutuhkan. Meski nilainya kecil, ia banyak memberi manfaat. Sebaliknya, uang bernilai besar yang hanya tersimpan tanpa memberi manfaat, tentu tidak membawa keberkahan bagi orang lain. Kisah ini mengajarkan bahwa nilai seseorang bukan pada besar kecilnya harta, tetapi pada seberapa luas manfaatnya.
Kekayaan, jabatan, atau kedudukan tidak memiliki arti bila tidak memberi kebaikan bagi sesama. Sebaliknya, meski sederhana, namun gemar membantu dan menyenangkan orang lain, dialah yang termasuk dalam golongan khoirunnas—sebaik-baik manusia.
Namun demikian, memberikan manfaat tetap harus dalam koridor syariat, tidak melanggar aturan agama, pemerintah, maupun norma masyarakat. Kebaikan yang diberikan tidak boleh menimbulkan dampak negatif atau pelanggaran.
Semoga kita semua diberi kemudahan untuk menjadi pribadi yang gemar membantu, ikut bahagia saat saudara kita mendapat nikmat, dan turut bersedih ketika mereka tertimpa musibah. Dengan begitu, nilai ukhuwah dan kepedulian sosial akan semakin kuat, serta menjadikan hidup kita lebih bermakna di sisi Allah maupun di tengah masyarakat.












