Jakarta (23/5). Hari Kebangkitan Nasional yang jatuh pada 20 Mei menjadi momentum bagi bangsa Indonesia. Untuk mengevaluasi kembali arah cita-cita berdirinya bangsa Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan Ketua DPP LDII Singgih Tri Sulistiyono, terkait peringatan Hari Kebangkitan Nasional, “Jika pada masa lalu kebangkitan ditandai dengan lahirnya organisasi modern seperti Budi Utomo yang memicu kesadaran terhadap persatuan. Maka, pada era sekarang persatuan tersebut mendapat tantangan baru, berupa ruang digital yang penuh dengan arus informasi, opini, dan identitas yang saling bersaing,” ujar Singgih yang juga Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro.
Ia berpendapat, tantangan bagi generasi muda hari ini, adalah menumbuhkan kemampuan untuk mengelola diri di tengah banjir informasi media sosial. “Di satu sisi, media sosial membuka ruang ekspresi, kreativitas, dan partisipasi publik yang luas. Namun di sisi lain, sosmed juga membawa potensi disinformasi, polarisasi, bahkan fragmentasi identitas kebangsaan,” paparnya.
“Dalam konteks ini, kebangkitan nasional bergeser menjadi kesadaran kritis, yakni kemampuan memilah informasi, menjaga etika komunikasi, serta tidak mudah terjebak dalam narasi yang memecah belah,” papar pakar sejarah maritim itu.
Ia mengingatkan, generasi muda hari ini banyak belajar sejarah, tetapi belum tentu belajar dari sejarah. Sejarah sering direduksi menjadi hafalan tanggal, nama tokoh, dan peristiwa. Padahal esensinya adalah pelajaran tentang bagaimana manusia menghadapi krisis, konflik, dan perubahan.
Akibatnya menurut Singgih, kita mengenal masa lalu, tetapi tidak mengambil maknanya, “Kita tahu tentang persatuan, tetapi mudah terpecah oleh isu-isu dangkal di media sosial. Kita paham tentang perjuangan, tetapi cepat menyerah pada kenyamanan instan,” tegasnya.
Menurutnya, fenomena tersebut harus dibalik secara provokatif, bahwa belajar sejarah tanpa mengambil pelajaran darinya, adalah bentuk kemunduran intelektual. Itulah, yang membuat seseorang merasa nasionalis karena tahu cerita masa lalu, tetapi gagal menghidupkan nilai-nilainya dalam tindakan nyata.
“Kebangkitan nasional hari ini justru menuntut keberanian untuk membaca sejarah secara kritis: mengapa bangsa ini pernah terpecah, bagaimana propaganda bekerja, bagaimana elite dan rakyat bernegosiasi, dan bagaimana identitas dibentuk serta diperebutkan. Tanpa itu, generasi muda hanya akan menjadi penonton dalam sejarahnya sendiri,” tegasnya.
Kebangkitan nasional bagi generasi muda juga berarti membangun identitas kebangsaan yang tidak rapuh oleh tren global. Tantangan terbesar saat ini bukan hanya kehilangan pengetahuan sejarah, tetapi juga hilangnya rasa memiliki terhadap bangsa.
“Ketika budaya luar begitu mudah diakses dan ditiru, generasi muda dituntut tidak sekadar menjadi konsumen budaya, tetapi juga produsen makna yang mampu mengolah nilai-nilai lokal menjadi kekuatan baru. Di sinilah kebangkitan nasional menemukan relevansinya sebagai energi untuk menciptakan masa depan,” pungkas Singgih.
Jika dahulu kebangkitan dimulai dari kesadaran akan persatuan, maka hari ini kebangkitan dimulai dari kesadaran yang lebih radikal: bahwa masa depan bangsa hanya bisa dibangun oleh mereka yang tidak sekadar mengingat sejarah, tetapi berani belajar darinya dan menggunakannya untuk membaca serta mengubah zaman.











