Yogyakarta (11/8). LDII Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggagas gerakan Zero Waste untuk memperkuat kebhinnekaan melalui gotong royong lintas organisasi. Gagasan tersebut disampaikan Ketua DPW LDII DIY Atus Syahbudin dalam ‘Sosialisasi Bhinneka Tunggal Ika’.
Kegiatan tersebut diselenggarakan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) DIY, Selasa (28/7/2026), di Ingkung Grobog, Kota Yogyakarta, DIY. Kegiatan yang dihadiri berbagai unsur pemerintah, organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, akademisi, dan komunitas tersebut menegaskan pentingnya memperkuat nilai-nilai Pancasila, persatuan, toleransi, serta kemampuan masyarakat.
Harapan dari kegiatan tersebut, para peserta dapat menyaring informasi di tengah derasnya arus media digital. Para peserta diajak terus menjaga komunikasi lintas kelompok dan memperkokoh kolaborasi, demi menjaga harmoni sosial di Yogyakarta.
Pada sesi dialog, Atus menjelaskan kawasan hutan dengan tingkat biodiversitas tinggi, menjadi pelajaran mengenai konsep keberagaman, “Di hutan kita belajar bahwa biodiversitas bukan hanya tentang flora dan fauna, tetapi juga tentang keberagaman suku, budaya, bahasa, dan kehidupan yang saling menopang. Alam mengajarkan bahwa perbedaan justru menjadi kekuatan apabila dirawat bersama,” ujar Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada.
Dalam kesempatan tersebut, Atus menegaskan komitmen kebangsaan LDII yang sejak 1972 telah menjadikan Pancasila sebagai asas organisasi. “Kami berkomitmen menjaga keutuhan bangsa dengan terus mengamalkan Empat Pilar Kebangsaan, yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika,” katanya.
Ia menambahkan, LDII secara konsisten mengadakan berbagai seminar mengenai wawasan kebangsaan sejak 1980-an, untuk memperkuat nasionalisme sekaligus mempererat komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat.
Menurut Atus, komunikasi yang berkelanjutan menjadi fondasi utama dalam menjaga persatuan bangsa. Nilai-nilai gotong royong, musyawarah, dan saling menghormati harus terus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari agar kebinekaan tidak berhenti sebagai slogan, melainkan menjadi budaya bersama. Sebagai tindak lanjut, Atus mengajak seluruh organisasi masyarakat dan komunitas di Yogyakarta untuk membangun gerakan kolaboratif yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.
“Saya mengajak kita semua melakukan aksi nyata. Bagaimana jika sebulan sekali kita bergotong royong membersihkan kawasan perempatan-perempatan di DIY melalui gerakan reresik Yogyakarta (Zero Waste) di perempatan-perempatan. Dengan bekerja bersama, kita bukan hanya menjaga lingkungan, tetapi juga memperkuat persaudaraan, komunikasi, dan semangat kebangsaan,” usulnya.

