Sleman (24/8). DPW LDII Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menegaskan komitmennya mendampingi Padukuhan Sangurejo, Kalurahan Wonokerto, Kapanewon Turi, Sleman, dalam menjaga keberlanjutan gerakan lingkungan. Komitmen tersebut disampaikan saat DPW LDII DIY diundang dalam verifikasi lapangan Program Kampung Iklim (ProKlim) Lestari di Sangurejo, Kamis (20/8/2026).
Sekretaris DPW LDII DIY, Gathot Wardoyo, mengatakan keterlibatan LDII dalam pengembangan lingkungan di Sangurejo sejalan dengan bidang pengabdian LDII, terutama ketahanan lingkungan dan ketahanan pangan. Ia menilai perjalanan Sangurejo dari ProKlim Utama menuju ProKlim Lestari menjadi capaian yang patut diapresiasi.
“Alhamdulillah kami dari DPW LDII Yogyakarta turut merasa senang dan bangga karena ProKlim Sangurejo akan meningkat menjadi ProKlim Lestari. Sejak awal DPW turut berperan di dalamnya, sehingga ini menjadi prestasi yang sangat membanggakan,” ujar Gathot.
Menurutnya, keberhasilan Sangurejo tidak semestinya berhenti sebagai capaian satu wilayah. Praktik baik yang telah dibangun di Sangurejo diharapkan dapat diterapkan di lokasi-lokasi lain yang menjadi binaan sehingga gerakan ketahanan lingkungan berkembang lebih luas.
“Mudah-mudahan yang menjadi binaan ProKlim Sangurejo ke depan juga bisa menyusul apa yang sudah dicapai Sangurejo,” katanya.
Gathot menambahkan, predikat Lestari membutuhkan konsistensi masyarakat dalam menjadikan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Karena itu, LDII DIY berkomitmen melanjutkan pendampingan setelah proses verifikasi, termasuk melalui dukungan sumber daya dan keahlian yang dimiliki.
“LDII tetap akan mendampingi. Kebetulan LDII memiliki pakar, Pak Atus. Apa yang sudah dilakukan akan terus kami dampingi dan ke depan mudah-mudahan bisa berkembang ke desa-desa yang lain,” ujarnya.
Komitmen tersebut mendapat dukungan dari Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa. Ia menilai perubahan Sangurejo dari kawasan yang dahulu dikenal sebagai “Si Kumis” atau kumuh dan miskin menjadi kampung aktif lingkungan tidak lepas dari konsistensi dan gotong-royong masyarakat.
“Dulu Sangurejo itu dikenal Si Kumis, kumuh dan miskin. Tapi karena niat dan semangat warga untuk mengubah itu, hari ini Sangurejo menjadi salah satu wilayah yang sering mendapat penghargaan,” kata Danang.
Danang menyebut pengelolaan lingkungan di Sangurejo juga berkembang menjadi ekosistem sosial dan ekonomi. Embung, aktivitas komunitas, UMKM, hingga pengembangan ecoprint menjadi contoh bahwa lingkungan yang terawat dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.
“Lingkungan itu ternyata juga memengaruhi ekosistem ekonomi. Kalau Sabtu-Minggu banyak orang lari di sini, banyak orang jualan. UMKM juga tumbuh. Ini yang harus kita pertahankan dan menjadi contoh bagi wilayah lainnya,” ujarnya.
Sementara itu, Panewu Turi Joko Susilo mengatakan perubahan Sangurejo berawal dari kesadaran warga sejak 2014 untuk memperbaiki hubungan antara manusia dan lingkungan. Kesadaran tersebut kemudian berkembang menjadi gerakan bersama yang memberikan manfaat sosial, ekonomi, dan kesehatan.
“Mulai 2014 mereka bangkit dan menguatkan pemahaman bahwa manusia itu tidak hidup hanya dengan manusia, tetapi juga hidup dengan lingkungan alam yang ada,” kata Joko.
Joko menambahkan, semangat pelestarian lingkungan juga tercermin dari tutupan vegetasi di Kapanewon Turi yang mencapai sekitar 70 persen. Kondisi tersebut dinilai mendukung upaya mitigasi perubahan iklim sekaligus memperkuat ketahanan lingkungan masyarakat.
“Tutupan vegetasi di Turi mencapai 70 persen. Ini salah satu bentuk upaya mitigasi perubahan iklim dan mewujudkan masyarakat yang memiliki ketahanan terhadap perubahan iklim,” ujarnya.
Dari sisi verifikasi, Ketua Tim Verifikator ProKlim Lestari Kementerian Lingkungan Hidup, Koko Wijanarka, menilai indikator utama Sangurejo bukan sekadar banyaknya kegiatan, melainkan perubahan perilaku masyarakat. Transformasi dari “Si Kumis” menjadi kampung yang aktif menjaga lingkungan menjadi salah satu bukti perubahan tersebut.
“Dari sini kami melihat bagaimana perubahan perilaku dan bagaimana budaya yang ramah lingkungan dibangun,” ujar Koko.
Koko mengatakan keberhasilan aksi iklim sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat karena sebagian sumber emisi juga berasal dari aktivitas warga. Ia menilai aksi adaptasi dan mitigasi perlu dibangun secara bersama serta diperluas ke wilayah lain.
“Tidak bisa kita lakukan hanya pemerintah saja, karena sumber emisinya juga dari masyarakat. Karena itu peran masyarakat menjadi sangat penting dalam upaya aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim,” katanya.
Dalam proses menuju ProKlim Lestari, Sangurejo juga dinilai dari kemampuannya membina lokasi lain. Sangurejo tercatat telah membina 12 lokasi, dengan dua lokasi binaan, Gondangan dan Kuwang, berhasil meraih Trofi Utama ProKlim.
“Ketika kita bicara Lestari, tidak hanya sekadar menambah aksi adaptasi dan mitigasi, tetapi bagaimana membantu teman-teman lainnya untuk memiliki kondisi seperti yang ada di Sangurejo,” ujar Koko.
Ia berharap praktik baik Sangurejo dapat berkembang menjadi gerakan kawasan sehingga ketahanan iklim tidak hanya dimiliki satu padukuhan. Koko mendorong Wonokerto menjadi Kalurahan ProKlim, Kapanewon Turi menjadi Kapanewon ProKlim, hingga Sleman berkembang sebagai Kabupaten ProKlim.
“Jangan sampai Sangurejo yang baik sendiri, sementara sekitarnya masih bermasalah. Kalau wilayah lain terdampak perubahan iklim, Sangurejo juga akan terdampak,” pungkasnya.















