Bekasi (24/8). Para santri Pondok Pesantren Khusus Putri (PKPPS) Sya’airullah, Bekasi, Jawa Barat mengolah daun kelor yang tumbuh di sekitar lingkungan pesantren. Mereka memanfaatkanya menjadi camilan sehat dalam program “Gerakan Remaja Sehat Tanpa Anemia dengan Daun Kelor”.
Mereka dilatih mengolah kelor menjadi biskuit, puding, dan nugget. Kegiatan yang berlangsung pada 4–6 Juli 2026 tersebut diikuti 42 santri jenjang Wustha (setara SMP) dan Ulya (setara SMA). Selain praktik pengolahan pangan, para santri mendapat edukasi mengenai anemia, gizi seimbang, serta pentingnya memenuhi kebutuhan nutrisi pada masa remaja.
Salah satu pemateri, Royani Chairiyah, mengungkapkan anemia menjadi salah satu persoalan yang perlu diperhatikan pada remaja putri. Royani yang merupakan Dosen Prodi Kebidanan Universitas Binawan tersebut menjelaskan, masa pertumbuhan dan menstruasi membuat kebutuhan zat besi meningkat. Di sisi lain, pola makan yang belum memenuhi kebutuhan gizi seimbang dapat meningkatkan risiko kekurangan zat besi.
“Keluhan seperti mudah lelah, pusing, dan sulit berkonsentrasi juga kerap dianggap sebagai kondisi biasa. Padahal, jika terjadi terus-menerus, kondisi tersebut dapat memengaruhi aktivitas dan proses belajar,” ungkapnya.
Berangkat dari kondisi tersebut, tim pengabdian memperkenalkan daun kelor sebagai salah satu bahan pangan yang dapat dimanfaatkan dalam menu sehari-hari. “Kelor dipilih karena mudah ditemukan di lingkungan sekitar pesantren dan memiliki beragam kandungan gizi,” lanjutnya.
Program tersebut dilaksanakan melalui skema Pemberdayaan Masyarakat Pemula (PMP), dengan dukungan pendanaan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, tahun anggaran 2026.
Tantangannya bukan hanya mengenalkan manfaat kelor, tetapi membuat bahan pangan tersebut menjadi olahan yang menarik bagi remaja. Karena itu, santri diajak mengolah kelor menjadi makanan yang lebih familiar, seperti biskuit, puding, dan nugget.
Ia menjelaskan, program dijalankan melalui lima tahapan, yakni sosialisasi, pelatihan, penerapan teknik pengolahan kelor, pendampingan dan evaluasi, serta penyusunan rencana keberlanjutan bersama pengurus pondok. Sebelum pelatihan, santri mengikuti pemeriksaan kadar hemoglobin dan pengukuran pengetahuan mengenai anemia serta gizi. Hasil tersebut menjadi bagian dari evaluasi program sebelum dan setelah edukasi diberikan.
“Selanjutnya, santri mendapat materi mengenai gizi seimbang dan pencegahan anemia. Materi kemudian dilanjutkan dengan praktik pengolahan daun kelor menjadi berbagai produk pangan,” jelasnya.
Melalui praktik tersebut, santri tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai anemia, tetapi juga belajar memanfaatkan bahan pangan yang tersedia di lingkungan pesantren menjadi makanan yang lebih menarik dan mudah dikonsumsi. Program ini juga menghasilkan kader.
“Duta Santri Sehat”. Para kader disiapkan sebagai penggerak edukasi kesehatan di lingkungan pesantren, terutama dalam menyampaikan informasi mengenai pencegahan anemia kepada sesama santri.

Dari hasil evaluasi, pemahaman santri mengenai anemia dan gizi seimbang meningkat lebih dari 30 persen setelah mengikuti rangkaian edukasi. Tim juga mencatat adanya perubahan pola konsumsi pangan bergizi serta indikasi perbaikan kadar hemoglobin selama masa pendampingan.
“Biskuit, puding, dan nugget kelor yang dibuat para santri tidak berhenti sebagai hasil praktik. Produk tersebut juga diarahkan untuk memiliki nilai tambah dan berpotensi dikembangkan menjadi bagian dari kegiatan usaha pesantren,” lanjutnya.
Dengan demikian, pemanfaatan kelor tidak hanya diarahkan untuk mendukung kesadaran santri mengenai pentingnya gizi dan pencegahan anemia, tetapi juga menjadi sarana untuk mengembangkan keterampilan pengolahan pangan dan kemandirian ekonomi.
Program tersebut diharapkan dapat terus dilanjutkan oleh pihak pesantren melalui kader Duta Santri Sehat dan pemanfaatan modul yang telah disusun. Pengalaman ini sekaligus menunjukkan bahwa edukasi kesehatan dapat dilakukan melalui pendekatan yang dekat dengan keseharian santri, salah satunya dengan mengolah bahan pangan yang tersedia di lingkungan sekitar. (Royani Chairiyah/LINES)















