Makassar (6/11). Sebanyak 480 pemuda LDII Kota Makassar mengikuti Pengajian Muda-Mudi yang digelar DPD LDII Kota Makassar. Kegiatan bertema “Membentuk Generasi Muda Profesional Religius, Berkarakter, dan Berdaya Saing untuk Makassar MULIA” itu berlangsung di Masjid Nurul Huda, Makassar, Sulawesi Selatan pada Minggu (1/11/2026).
Ketua DPD LDII Kota Makassar, Muamar Asykur, mengatakan pengajian tersebut merupakan bagian dari pembinaan generasi muda, agar memiliki bekal keagamaan sekaligus mampu menghadapi perkembangan zaman. Kegiatan ini juga menjadi upaya menyelaraskan pembinaan generasi muda dengan visi pembangunan Kota Makassar.
“Pembinaan ini sesuai dengan komitmen pemerintah setempat bahwa generasi muda harus bisa menyiapkan dirinya menghadapi tantangan di era digital sekarang,” ujarnya.
Ia juga mengaitkan kegiatan ini dengan visi Kota Makassar. “Tagline di Makassar ini ada istilah Makassar MULIA, di mana Makassar harus unggul, inklusif, aman, dan berkelanjutan,” kata Muamar.
Muamar berharap para peserta dapat memahami dan mengamalkan ajaran agama sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan. Dengan demikian, mereka mampu menjaga diri dari perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai agama.
Pengajian Muda-mudi DPD LDII Kota Makassar menghadirkan pemateri dari Majelis Taujih Wal Irsyad DPP LDII, Moch. Royyanul Musthofa dan Mochammad Irsyaduddin.
Dalam materinya, Moch. Royyanul Musthofa, menekankan pentingnya pemahaman agama sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan. Menurutnya, generasi muda perlu memiliki dasar ilmu yang kuat agar mampu menentukan pilihan dan tidak mudah terjerumus pada hal negatif.

“Mereka kita bekali dengan ilmu agama agar bisa membela diri dan memilih mana yang harus dilakukan. Ke depan tantangannya jauh lebih berat. Kalau mereka tidak tahu dan tidak mengerti, dikhawatirkan terjerumus ke jalan yang salah,” jelasnya.
Ia mengajak generasi muda untuk terus mengkaji Al Quran dan hadis. Pemahaman tersebut penting agar mereka dapat membedakan perkara yang benar dan salah, termasuk memahami ketentuan mengenai dosa, pahala, serta hal yang diperbolehkan dan dilarang dalam agama.
Royyanul juga mengingatkan peserta agar mempertimbangkan dampak sebelum mengambil tindakan. Ia mengutip tuntunan Nabi untuk merenungkan akibat dari setiap keputusan, “Ketika kamu akan melakukan sesuatu, renungkan dulu akibatnya. Kalau baik, teruskan, kalau jelek, berhenti,” tuturnya.
Ia berharap pembinaan tersebut dapat membantu generasi muda menjaga diri dari pengaruh negatif sekaligus meningkatkan kualitas keimanan. “Itu yang kita sampaikan kepada generasi muda agar bisa terhindar dari pengaruh jelek, dan sama-sama berhasil masuk surga serta selamat dari neraka,” pungkasnya.















