Jakarta (28/7). Ancaman kekeringan panjang yang kerap disebut Godzilla El Nino membuat masyarakat waswas. DPP LDII mengajak masyarakat untuk menghemat penggunaan air, mendukung eksistensi petani, dan menjaga harga pangan lokal agar tetap stabil.
Pernyataan tersebut ditegaskan Ketua Majelis Pakar DPP LDII, Sudarsono, “Istilah Godzilla El Nino terdengar dramatis. Seolah-olah ada monster raksasa yang akan mengacaukan dunia. Media internasional sering menggunakan istilah ini untuk menggambarkan El Nino yang super kuat, yang dampaknya bisa terasa di berbagai belahan bumi,” ujar Sudarsono yang juga Guru Besar Fakultas Pertanian IPB.
Ia mengungkapkan, Godzilla El Niño bukan istilah resmi ilmiah, melainkan cara popular untuk menyebut El Nino dengan intensitas ekstrem. “Di Indonesia, Lembaga seperti BMKG dan BRIN menegaskan, tahun 2026 tidak ada tanda-tanda El Nino super. Meski begitu, potensi El Nino moderat tetap bisa membawa dampak nyata musim kemarau lebih panjang, curah hujan berkurang dan risiko kekeringan meningkat,” tutur Sudarsono.
Secara lebih rinci, Sudarsono menjelaskan, El Nino adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. “Pemanasan ini mengganggu pola angin dan hujan global. Indonesia biasanya akan mengalami berkurangnya curah hujan dan musim kemarau yang lebih panjang,” katanya.
Sudarsono mengungkapkan, Badan Meteorologi klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi periode hingga bulan Oktober 2026, akan terjadi El Niño kuat yang bisa memicu kekeringan parah di Jawa, Bali, NTB, dan NTT. “Dampaknya paling besar pada sektor pertanian, terutama padi dan jagung, yang sangat bergantung pada ketersediaan air,” tegasnya.
Ia menambahkan, untuk wilayah timur laut Indonesia (Sulawesi, Maluku, Halmahera), “Hingga akhir tahun 2026, justru berpotensi mengalami curah hujan berlebih dan meningkatnya potensi bencana hidrometeorologi,” imbuh Sudarsono.
Lebih lanjut, Sudarsono mengingatkan, jika Godzilla El Nino terjadi pada 2026, ancaman terbesar bagi bangsa Indonesia adalah gangguan siklus tanam padi dan jagung. “Kemudian penurunan produksi pangan dan gejolak harga beras yang bisa memicu inflasi,” katanya.
Ia menegaskan, dampak tersebut bukan sekadar isu iklim, tetapi menyentuh ketahanan pangan dan stabilitas ekonomi nasional. “Dengan kata lain, fenomena ini harus dipandang sebagai alarm dini untuk memperkuat sistem irigasi, diversifikasi pangan, dan cadangan beras pemerintah agar masyarakat tetap terlindungi,” jelas Sudarsono.
Secara lebih mendetail, Sudarsono mengungkapkan, Godzilla El Nino akan mengganggu siklus tanam padi, yang biasanya mengikuti pola musim hujan. Diakibatkan curah hujan berkurang drastis. “Dengan demikian, petani yang mengandalkan hujan sebagai sumber irigasi (lahan tadah hujan) akan kesulitan menentukan waktu tanam. Dampak lanjutannya, jadwal tanam bergeser atau bahkan tertunda, sehingga panen tidak serentak dan produktivitas menurun,” tuturnya.
Terkait dengan komoditas pangan, Sudarsono mengatakan, padi dan jagung merupakan komoditas utama paling rentan terdampak Godzilla El Niño. Kekurangan air bisa menyebabkan gagal panen atau hasil yang jauh di bawah target. Meskipun dampaknya mungkin lebih kecil, tanaman hortikultura (sayur, buah) juga terdampak karena membutuhkan pasokan air stabil.
“Peternakan ikut terganggu karena berkurangnya pakan hijauan, sehingga produksi daging dan susu berpotensi menurun. Secara keseluruhan, produksi pangan nasional berpotensi turun signifikan bila El Niño ekstrem berlangsung lama,” katanya.
Berbagai kejadian tersebut, pada akhirnya akan mendorong kurangnya pasokan komoditas pangan. “Hal ini akan membuat naiknya harga beras sebagai makanan pokok. Akibat ikutannya, inflasi pangan bisa meningkat, sehingga memengaruhi daya beli masyarakat,” tuturnya.
Untuk itu, ia mengingatkan, sebagai bentuk intervensi, pemerintah harus menyiapkan cadangan beras pemerintah (CBP) yang cukup, “Dan strategi impor bila produksi dalam negeri tidak mencukupi. Pengalaman El Niño pada tahun 1997 dan 1998, serta tahun 2015 menunjukkan, harga beras melonjak tajam akibat penurunan produksi,” tegasnya.

Pemerintah menurut Sudarsono, juga harus mengaktifkan penyuluh pertanian untuk memberikan informasi adaptasi dan mitigasi iklim kepada petani. “Pemerintah harus melakukan koordinasi lintas Kementerian, seperti Kementerian Pertanian, PUPR, KLHK, dan Bulog untuk bersama-sama melakukan berbagai tindakan mitigasi menghadapi El Niño tahun 2026,” tegasnya.
Lebih lanjut, Sudarsono mengungkapkan, para petani tidak bisa mengendalikan fenomena iklim global seperti El Niño, tetapi mereka bisa mengurangi dampak langsung dengan strategi adaptasi. “Kuncinya adalah informasi iklim dari BMKG, kerja sama antarpetani, dan penerapan teknologi sederhana untuk efisiensi air. Dengan langkah-langkah ini, risiko gagal panen dan kerugian yang dialami oleh petani akan dapat ditekan,” katanya.

