Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan.
Mungkin ini hanya bahasa kita (saya). Dan menjadi batasan pemahaman kita juga. Tapi semoga bermanfaat buat perjalanan jiwa menuju paripurna. Ada satu sifat Ilahi yang sering luput dari renungan kita: cemburu. Namun, bukan seperti cemburu manusia yang sempit dan rapuh, melainkan cemburu yang suci, menjaga, dan penuh kasih. Allah itu cemburu. Bahkan, cemburu-Nya jauh melampaui cemburu seorang hamba yang paling cemburu.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ يَغَارُ، وَغَيْرَةُ اللَّهِ أَنْ يَأْتِيَ الْمُؤْمِنُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ
“Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan kecemburuan Allah adalah ketika seorang mukmin melakukan apa yang Allah haramkan atasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan:
لَا أَحَدَ أَغْيَرُ مِنَ اللَّهِ
“Tidak ada yang lebih cemburu daripada Allah.” (HR. Bukhari)
Cemburu Allah bukanlah emosi lemah, melainkan penjagaan yang agung terhadap kehormatan hamba-Nya. Ia lahir dari cinta yang tidak ingin tercampur, dari kasih sayang yang tidak rela dibagi. Ketika seorang hamba berpaling kepada selain-Nya, menggantungkan hati pada makhluk, atau melanggar batas yang telah ditetapkan, di situlah cemburu Ilahi itu tampak—sebagai peringatan, sebagai panggilan pulang.
Bayangkan seorang hamba yang telah diberi nikmat tak terhitung: nafas yang mengalir tanpa diminta, rezeki yang datang tanpa disadari, dan hati yang diberi kemampuan untuk mengenal kebenaran. Lalu ia gunakan semua itu untuk mendurhakai-Nya. Tidakkah itu melukai makna cinta yang agung?
Salah satu ayat yang paling mencerminkan hal ini adalah:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik…” (QS. An-Nisa: 48)
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah “tidak rela” jika hak-Nya sebagai satu-satunya yang disembah disekutukan. Ini bukan sekadar hukum, tetapi penjagaan terhadap kemurnian hubungan antara hamba dan Rabb-nya. Dalam makna inilah para ulama memahami adanya ghirah Ilahiyyah—kecemburuan yang menjaga tauhid.
Ayat lain yang sangat kuat:
فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Maka janganlah kalian menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kalian mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 22)
Seakan Allah menegur dengan nada yang dalam: mengapa hati yang Aku ciptakan untuk-Ku, justru kau bagi dengan selain-Ku? Inilah bahasa cinta yang “cemburu”—tidak ingin diduakan.
Bahkan dalam larangan zina, para ulama juga mengaitkannya dengan sifat cemburu Allah:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kalian mendekati zina; sesungguhnya itu adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra: 32)
Mengapa bukan hanya “jangan berzina”, tetapi “jangan mendekati”? Karena Allah menjaga kehormatan hamba-Nya dengan sangat ketat. Ini adalah bentuk ghirah—perlindungan yang lahir dari kasih sayang dan kehendak menjaga kesucian.
Demikian pula dalam ayat yang sering kita baca:
قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ… أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ… فَتَرَبَّصُوا
“Katakanlah: jika bapak-bapak, anak-anak… lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya… maka tunggulah…” (QS. At-Taubah: 24)
Ayat ini menyentuh sisi terdalam: Allah tidak ingin ada sesuatu yang lebih dicintai daripada-Nya dalam hati seorang mukmin. Ini adalah puncak makna “cemburu Ilahi”—bahwa cinta kepada-Nya harus menjadi yang tertinggi.
Cemburu Allah adalah bentuk penjagaan agar hati tetap murni. Ia tidak ingin hati seorang mukmin dipenuhi selain-Nya. Sebab hati itu, dalam hakikatnya, diciptakan hanya untuk satu tujuan: mengenal dan mencintai-Nya. Ketika hati itu terikat pada dunia, pada hawa nafsu, atau bahkan pada manusia secara berlebihan, maka keseimbangan itu rusak. Di situlah Allah “cemburu”—bukan karena membutuhkan hamba, tetapi karena menginginkan kebaikan hamba itu sendiri.
Cemburu Allah juga tampak dalam larangan-larangan-Nya. Setiap yang diharamkan bukan sekadar batas, tetapi pagar cinta. Seakan Allah berkata, “Jangan dekati ini, karena Aku ingin engkau selamat.” Maka ketika seseorang melanggar, ia bukan hanya menabrak hukum, tetapi juga menembus pagar penjagaan Ilahi.
Namun indahnya, cemburu Allah tidak pernah menutup pintu kembali. Justru ia sering menjadi sebab datangnya teguran, kesempitan, atau kegelisahan—agar hamba tersadar. Betapa banyak hati yang kembali kepada Allah setelah merasa hampa dalam maksiat. Itu bukan kebetulan. Itu adalah sentuhan cemburu-Nya yang mengajak pulang.
Dalam perspektif ini, kita memahami bahwa dosa bukan sekadar pelanggaran, tetapi pengkhianatan terhadap cinta. Dan taubat bukan sekadar penyesalan, tetapi kembalinya kesetiaan. Maka, jika hari ini kita masih diberi rasa bersalah ketika berbuat dosa, masih gelisah ketika jauh dari-Nya, bersyukurlah. Itu tanda bahwa Allah masih “cemburu” terhadap kita. Ia belum membiarkan kita tenggelam tanpa panggilan.
Akhirnya, marilah kita menjaga hati ini. Jangan biarkan ia dipenuhi oleh sesuatu yang fana. Karena ada Zat Yang Maha Cemburu, yang mencintai kita dengan cara yang paling suci—yang tidak ingin kita tersesat, dan selalu menanti kita kembali.











